Momo Challenge, Bukti Bahayanya Kecanduan Gawai

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 09 Agu 2018, 17:30 WIB
Momo Challenge sedang marak di media sosial. Bagi yang kecanduan gawai hati-hati bisa terjebak dalam tantangan mematikan ini.
Momo Challenge, Bukti Bahayanya Kecanduan Gawai (Tom-Wang/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Semenjak masifnya penggunaan media sosial dengan perangkat gawai, kini makin banyak bermunculan tantangan-tantangan atau biasa disebut challenge untuk ditaklukkan. Terbaru adalah Momo Challenge yang terbukti sangat berbahaya.

Sebelumnya, yang mungkin akrab di telinga adalah Mannequin Challenge, yakni orang ditantang untuk berdiam diri selama mungkin sambil ada orang yang mengambil gambar. Orang yang ikut tantangan ini tidak boleh bergerak sama sekali sampai pengambilan gambar selesai. Lalu ada Ice Bucket Challenge. Tantangan ini membuat Anda harus berani disiram air yang sangat dingin. Belakangan, Ice Bucket Challenge digunakan untuk amal.

Beberapa waktu lalu muncul Kiki Challenge. Diilhami dari lagu Drake yang berjudul In My Feelings, orang akan menari di jalanan dan dengan sengaja membuka pintu mobil, sambil direkam oleh salah satu rekan. Tantangan ini sempat ramai diperbicangkan karena mengakibatkan terjadinya berbagai kasus kecelakaan.

Munculnya Momo Challenge

Belum tuntas dengan Kiki Challenge, kini ada tantangan yang kembali ramai diperbincangkan di media sosial, yaitu Momo Challenge. Tidak seperti challenge lainnya, Momo Challenge agak rumit untuk dimainkan tapi berpotensi membuat seseorang kehilangan nyawa.

Momo Challenge adalah tantangan berbasis aplikasi chatting. Bagi mereka yang ingin mengikuti tantangan ini, harus menyimpan nomor telepon yang didapatkan dari Facebook dan kemudian berkomunikasi dengan “orang” bernama Momo. Jika Anda sudah menyimpan nomor tersebut, nanti akan terlihat foto avatar seperti boneka instalasi karya seniman boneka Jepang bernama Midoru Hayashi. Profil ini tampak dengan mata menonjol ke luar dan bibir lebar dan menyeramkan.

Setelah menyapa Momo via aplikasi WhatsApp, orang itu akan mendapat tantangan. Layaknya video game, mereka akan melewati beberapa level. Setiap tantangan dari Momo makin susah levelnya. Pada tantangan terakhir atau yang ke-50, mereka diminta melakukan percobaan bunuh diri yang direkam dan videonya dikirim kepada Momo.

Setelah challenge tersebut muncul, angka bunuh diri kalangan remaja di Argentina, Meksiko, Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman meningkat. Bahkan, belum lama ini, seorang remaja berusia 12 tahun asal Buenos Aires meninggal gantung diri, dengan handphone miliknya berada di dekatnya, diduga karena Momo Challenge.

Bukti bahaya kecanduan gawai

Momo Challenge sangat mudah diakses karena bisa diperoleh dari media sosial. Hal ini pun menjadi bukti betapa bahayanya kecanduan gawai, terutama bagi anak remaja.

"Secara psikologis, anak berusia 10-17 tahun senang meniru dan mengikuti hal yang dianggap keren oleh dirinya," ujar dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter.

Para remaja yang melakukan Momo Challenge bisa jadi mengikuti teman-temannya yang sudah mengunggah hasil tantangan tersebut di media sosial. Biasanya, orang yang senang bermain dengan gawai dan berselancar di dunia maya, akan cenderung untuk penasaran dengan hal-hal baru dan menjadi tren.

Di sisi lain, kecanduan gawai juga mengakibatkan gangguan mental. Seperti dilansir dari BBC, banyak negara sudah mengakui bahwa terlalu sering memainkan gawai merupakan gangguan mental yang serius. Hal ini juga telah dikonfirmasi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Sebuah survei menyatakan bahwa terlalu sering menggunakan media sosial rentan mengakibatkan gangguan tidur, gangguan cemas, sampai depresi. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk mengakses media sosial, maka risiko depresi juga akan semakin tinggi.

Oleh karena itu, orangtua harus lebih memperhatikan penggunaan gawai oleh anak-anaknya. Tidak ada salahnya membatasi anak dalam memakai gadget. Sarankan kepada anak untuk mencari aktivitas tertentu yang lebih bermanfaat daripada hanya fokus pada gawainya. Hal itu perlu dilakukan agar anak dan remaja terhindar dari pengaruh buruk “permainan” lewat internet seperti Momo Challenge.

[RVS]