Inilah Efek Negatif Kokain pada Otak

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 24 Aug 2018, 11:30 WIB
Jangan pernah mendekati apalagi mencoba kokain. Zat berbahaya ini bisa menyebabkan berbagai efek negatif pada otak.
Inilah Efek Negatif Kokain pada Otak (Sam-Wordley/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Seorang pengusaha muda, Richard Muljadi, ditangkap oleh polisi pada Rabu (22/8) dini hari. Diketahui bahwa Richard diamankan petugas karena diduga menggunakan narkotika jenis kokain di sebuah restoran di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.

Saat ditangkap, Richard dalam keadaan mabuk sehingga dirinya memberikan keterangan yang tidak jelas. Hal ini diduga akibat efek kokain dalam bentuk serbuk yang dihirupnya.

Memang, efek kokain bisa terbilang cepat. Sejak dihirup, zat berbahaya ini mulai menunjukkan efek pada tubuh 10–15 menit kemudian. Pada penggunaan awal, efek kokain hanya terjadi selama sekitar 30 menit. Namun jika sudah sering digunakan, efeknya bisa bertahan hingga berhari-hari.

Efek kokain pada otak

Salah satu organ tubuh yang paling terpengaruh oleh kokain adalah otak. Zat berbahaya ini masuk ke dalam pembuluh darah dan dalam hitungan menit akan sampai ke sel otak.

Di otak, kokain akan menyebabkan keluarnya zat bernama dopamin. Hal ini menyebabkan munculnya rasa gembira berlebihan, sehingga memicu timbulnya perasaan perkasa untuk melakukan banyak hal.

Otak akan mengingat sensasi menyenangkan yang terjadi akibat kokain tersebut. Akibatnya, otak akan meminta kokain lagi dan lagi agar sensasi tersebut dirasakan terus. Hal inilah yang bisa menyebabkan seseorang kecanduan kokain.

Tak sampai di situ, kokain juga memengaruhi lobus frontal di otak. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan perilaku dan pengambilan keputusan.

Akibat kokain, lobus frontal menjadi “hiperaktif”. Peristiwa ini mengakibatkan pengguna kokain menunjukkan perilaku yang agresif, kadang mengeluarkan kata-kata kasar, dan mengambil keputusan yang irasional. Dalam hal seks, pengguna kokain bisa menjadi sangat impulsif tanpa memandang tempat dan waktu.

Dalam jangka panjang, kokain akan mengganggu keseimbangan neurotransmiter (zat-zat pembawa sinyal di otak). Kondisi ini menyebabkan pengguna kokain dapat mengalami halusinasi pendengaran (mendengar suara yang tidak didengar orang lain) atau halusinasi penglihatan (melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain), sehingga dapat terlihat seperti orang tidak waras.

Kemudian, bila digunakan dalam dosis berlebih, kokain akan menstimulasi otak secara berkelanjutan. Ini mengakibatkan penggunanya berbicara ngawur dan bisa sampai terjadi kejang-kejang.

Sebuah penelitian yang dilakukan Harvard Medical School pada tahun 2017 menemukan bahwa pengguna kokain juga bisa mengalami kematian sel otak lebih cepat dari yang seharusnya. Keadaan ini menyebabkan pengguna kokain lebih rentan mengalami gangguan daya ingat, dan sering kali kesulitan untuk berpikir rasional.

1 of 2

Ciri-ciri pengguna kokain

Karena kokain sangat memengaruhi berbagai fungsi otak, penggunanya cenderung tidak memiliki inisiatif untuk mencari pertolongan guna mengatasi ketergantungannya. Karena itu, kehadiran orang terdekat sangat dibutuhkan untuk mendeteksi gejala kecanduan kokain dan memotivasi sang pecandu untuk segera mencari pertolongan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa menjadi pertanda bahwa seseorang merupakan pengguna kokain:

  • Adanya sisa serbuk putih di sekitar mulut atau hidung.
  • Adanya bekas luka bakar di tangan atau bibir.
  • Ada peralatan tidak lazim yang dibawa di dalam tas, seperti pipa, jarum suntik, sendok, atau kantung plastik kecil.
  • Hidung sering berair atau mudah mimisan.
  • Kurang tidur.
  • Tidak nafsu makan dan badan terlihat makin kurus.
  • Suasana hati (mood) sering berubah secara mendadak.
  • Uang mudah habis untuk hal yang tidak dapat dijelaskan.
  • Lebih sering menyendiri.
  • Lebih sensitif terhadap cahaya.
  • Gairah seksual meningkat

Kasus yang menimpa Richard Muljadi membuka mata banyak pihak tentang bahaya narkoba termasuk kokain. Oleh karenanya, jika memiliki rekan atau kerabat yang menunjukkan tanda-tanda di atas, cari tahu lebih lanjut mengenai kemungkinan ia mengonsumsi kokain. Lakukan pendekatan personal secara perlahan, dan ajak dirinya untuk menemui konselor atau dokter agar ketergantungannya terhadap kokain dapat segera teratasi.

[NB/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓