Atlet Asian Games Perlu Lakukan Ini agar Tidak Kram Otot

Oleh Rieke Saras pada 25 Aug 2018, 13:15 WIB
Anthony Ginting mengalami kram otot saat final bulu tangkis Asian Games kemarin. Apa yang harus diperhatikan para atlet untuk mencegah hal tersebut?
Atlet Asian Games Perlu Lakukan Ini agar Tidak Kram Otot (Leszek-Glasner/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pebulu tangkis Anthony Ginting harus mengalah dari atlet Tiongkok Shi Yuqi pada final beregu putra Asian Games 2018, Rabu (22/08) kemarin. Anthony mengalami kram di otot kaki kiri yang membuatnya tak kuat melanjutkan set penentuan dan tersungkur dua poin di akhir. Dia kemudian ditandu keluar dari lapangan.

Kram otot dapat dialami oleh siapa saja, termasuk para atlet. Biasanya kondisi ini menyerang otot tungkai bawah. Tanda dan gejalanya meliputi nyeri tajam yang timbul tiba-tiba, otot yang terkena terasa kaku dan membenjol keras, serta sakit saat ditekan. Umumnya kram otot terjadi selama beberapa detik hingga 15 menit, dan terkadang lebih lama.

Penyebab kram otot beragam. Beberapa kram terjadi akibat penggunaan otot yang berlebih, biasanya timbul saat berolahraga. Cedera otot dan dehidrasi juga dapat memicu kram. Begitu pula dengan kadar mineral –seperti kalsium, potasium, sodium, dan magnesium– yang rendah dalam tubuh.

Namun, dilansir SportsMD, tampaknya ada dua kemungkinan penyebab kram otot pada atlet. Pertama, dapat terkait dengan kerja otot skeletal yang berlebih. Lalu yang kedua, kram otot bisa disebabkan oleh keringat berlebih yang berhubungan dengan penurunan tingkat elektrolit (terutama natrium).

Untuk para atlet, cara yang paling sederhana untuk mencegah kram otot saat bertanding adalah:

  • Melakukan peregangan atau pemanasan sebelum bertanding. Kurangnya pemanasan dapat memicu ketegangan otot dan cedera.
  • Hindari makan besar sebelum bertanding.
  • Kurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung kafein, seperti teh, kopi, soda, dan cokelat.
  • Pastikan minum cukup cairan untuk menghindari dehidrasi. Tubuh kehilangan lebih banyak air ketika aktif secara fisik, sehingga cairan amatlah vital.
  • Tingkatkan konsumsi kalsium dan kalium dengan minum susu dan jus jeruk dan makan pisang.
  • Bicarakan dengan dokter apakah harus mengonsumsi suplemen untuk memastikan tubuh cukup nutrisi dan mineral.

Karena dehidrasi dapat menyulut kram otot, sejumlah strategi dapat diterapkan pelatih untuk mengurangi risiko kehilangan cairan pada atlet, seperti:

  • Dorong atlet untuk menahan diri dari minum minuman mengandung kafein.
  • Mendidik atlet dan orang tua mereka mengenai bahaya mengonsumsi minuman energi yang tinggi kafein.
  • Siapkan pasokan air yang banyak selama latihan atau kompetisi.
  • Catat berat badan atlet sebelum dan sesudah latihan. Ini penting sebagai ancang-ancang jika nanti terjadi penurunan berat badan yang berlebih dan tidak aman.
  • Jangan lupa siapkan sports drink untuk atlet dengan cabang olahraga jenis endurance. Air putih saja tidak cukup.
  • Pantau atlet dengan lebih saksama, terutama saat cuaca panas untuk menghindari terjadinya heat illness (gangguan kesehatan akibat panas, seperti heat exhaustion dan heatstroke).
  • Minimalkan risiko heat illness dengan mengurangi peralatan yang dipakai selama latihan dan mengatur ulang waktu latihan.

Kram otot yang muncul secara berulang dapat mencederai performa seorang atlet, apalagi jika terjadi saat bertanding. Penting untuk melakukan pencegahan secara serius dan mendiskusikan setiap keluhan yang dirasakan dengan pelatih atau dokter olahraga. Untuk Anda para olahragawan yang akan berlaga di Asian Games 2018, selamat mempersiapkan diri!

(RH)