3 Jenis Kram yang Rentan Dialami Atlet Asian Games

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 25 Aug 2018, 14:25 WIB
Agar dapat bertanding dengan optimal, atlet yang sedang berlaga dalam Asian Games harus mewaspadai jenis kram ini.
3 Jenis Kram yang Rentan Dialami Atlet Asian Games (Dean-Drobot/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pemain bulu tangkis Anthony Ginting harus menyudahi perjuangannya dalam pertandingan final beregu putra Asian Games, Rabu (22/08) lalu. Anthony saat itu mengalami kram pada set ketiga yang merupakan gim penentuan. Ia pun harus ditandu keluar dari lapangan.

Kram bisa menyerang siapa saja, baik atlet maupun nonatlet, anak atau orang dewasa. Namun pada atlet, kram memang lebih rentan terjadi. Hal ini terkait seringnya kontraksi otot yang dialami saat menjalani latihan dan pertandingan.

Secara sederhana, kram merupakan kontraksi otot yang terjadi secara spontan dan tidak terkendali. Pada saat kram, otot tidak bisa relaksasi. Hal ini menyebabkan nyeri hebat seperti ditusuk-tusuk dan penderitanya kesulitan menggerakkan ototnya.

Berdasarkan lokasinya, ada beberapa jenis kram yang rentan untuk dialami oleh para atlet, yaitu:

1. Kram di tungkai

Jenis kram ini bisa terjadi di otot paha atau otot betis. Kram di otot paha paling sering disebabkan oleh dehidrasi. Kondisi dehidrasi menyebabkan otot paha kaku dan tegang. Jika berlangsung berkepanjangan, kram pun tak dapat dihindari.

Sementara itu, kram di otot betis umumnya dipicu oleh penumpukan asam laktat di otot. Asam laktat timbul akibat kontraksi otot yang berlebihan.

2. Kram di pinggang

Kram juga dapat terjadi di daerah pinggang atau perut bawah kiri dan kanan. Umumnya kram ini juga disertai keluhan nyeri di sekitar tulang iga saat bernapas.

Salah satu penyebab kram ini adalah karena teknik pernapasan yang terlalu dangkal. Biasanya seseorang bernapas demikian jika sedang mengalami stres. Selain itu, kekurangan elektrolit, seperti kalsium, kalium, dan natrium, juga bisa memicu kram ini.

3. Kram perut

Kram perut dapat disebabkan oleh kekurangan elektrolit (kalsium, kalium, atau natrium), atau karena mengonsumsi terlalu banyak makanan atau air menjelang olahraga.

Meski kram tampak sederhana, tetapi bila dialami atlet yang sedang bertanding, kondisi ini bisa jadi sangat mengganggu. Karena itu, melakukan berbagai tindakan pencegahan kram saat olahraga sangat penting.

Ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan demi mencegah kram saat bertanding, seperti:

  • Sekali terjadi kram saat olahraga, jika memungkinkan, hentikan dahulu segala aktivitas yang melibatkan kontraksi otot karena kemungkinan otot tersebut mengalami kelelahan. Apabila dipaksakan untuk terus berkontraksi, kram yang kedua kali dan seterusnya rentan terjadi dalam waktu berdekatan. 
  • Kompres daerah otot yang mengalami kram dengan air dingin. 
  • Lakukan pijat sebelum dan di tengah istirahat pertandingan. Pijat harus dilakukan oleh terapis yang ahli dalam rehabilitasi medis. 
  • Pilihlah alas kaki yang tepat untuk memastikan semua otot bisa menyangga tubuh secara seimbang. Agar optimal, pemilihan alas kaki ini bisa melibatkan dokter spesialis ortopedi. 
  • Lakukan pemanasan yang cukup sebelum pertandingan, meliputi stretching otot yang aktif dan pasif. 
  • Saat beristirahat, pastikan suhu ruangan tak terlalu dingin dan tak terlalu panas untuk mencegah kram muncul saat tidur. 

Selain itu, atlet harus minum air setidaknya 2 liter per hari. Tak lupa juga mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung banyak air dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Misalnya tomat, pepaya, melon, semangka, dan sebagainya.

Jika setelah melakukan usaha pencegahan tersebut, kram masih terjadi berulang, konsultasikan dengan dokter agar dicari tahu lebih lanjut penyebabnya. Dengan demikian, atlet Asian Games bisa bertanding dengan lebih maksimal.

[RS/ RH]