Jangan Sembarangan, Disfungsi Ereksi Harus Ditangani secara Tepat

Oleh Ruri Nurulia pada 30 Aug 2018, 15:03 WIB
Banyak penderita disfungsi ereksi enggan konsultasi ke dokter, dan minum sembarang obat. Padahal, kondisi ini harus ditangani secara tepat.
Jangan Sembarangan, Disfungsi Ereksi Harus Ditangani secara Tepat (Ruri Nurulia/Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Setelah ejakulasi dini, disfungsi ereksi (DE) merupakan gangguan seksual yang paling banyak dikeluhkan, khususnya oleh pria berusia 40-80 tahun di seluruh dunia. Kesadaran pasien terhadap penyebab DE dan pentingnya konsultasi dengan dokter merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengobatan DE—bukan dengan sembarangan konsumsi obat yang dijual bebas di pasaran atau obat herbal yang tak jelas kandungannya.

DE adalah ketidakmampuan untuk mencapai dan/atau mempertahankan ereksi untuk aktivitas seksual yang memuaskan. Berdasarkan penelitian The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors di 29 negara termasuk Indonesia, jumlah penderita DE di Asia Tenggara adalah 28,1 persen, diikuti oleh Asia Timur sebanyak 27,1 persen, dan Eropa Utara sebesar 13,3 persen. Jumlah ini dikemukakan oleh dr. Nugroho Setiawan, Sp.And, dokter spesialis andrologi dari RSUP Fatmawati dalam jumpa pers “Sadari Penyebab dan Faktor Risiko Disfungsi Ereksi” di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada hari Rabu lalu (29/8).

Penyebab disfungsi ereksi

Dijelaskan oleh dr. Nugroho bahwa DE bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor, termasuk akibat adanya penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, depresi, dan gejala saluran kemih bawah. Beberapa penyakit ginjal kronis, multiple sclerosis, penyakit Peyronie, dan cedera yang berhubungan dengan perawatan kanker prostat merupakan beberapa penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan DE.

“Selain itu, faktor fisik dan psikologis juga dapat menyebabkan DE. Kondisi fisik seperti kerusakan saraf, arteri, otot polos, dan jaringan ikat di penis dapat mengakibatkan DE. Stres dan masalah hubungan personal adalah beberapa penyebab psikologis yang dapat memicu dan memperburuk DE. Tak hanya itu, DE juga bisa menjadi efek samping dari beberapa pengobatan seperti antihipertensi, antihistamin, antidepresan, penenang, penekan nafsu makan, dan obat-obatan saluran kemih,” papar dr. Nugroho.

Karena DE bisa disebabkan oleh banyak faktor, inilah yang menjadikan penderitanya harus memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya. Hal ini karena pada dasarnya penyebab DE antara satu orang dengan orang lainnya tidak selalu sama. Jangan tunda untuk memeriksakan diri jika Anda menemukan gejala seperti:

  • Penis sulit mengalami ereksi
  • Penis sulit masuk ke dalam vagina karena kurang keras
  • Penis tidak dapat mempertahankan ereksi hingga pasangan mencapai orgasme
  • Penis mengalami ejakulasi terlalu cepat atau justru tidak mengalami ejakulasi karena tidak mampu ereksi

Selain itu, ada beberapa keadaan yang berkaitan dengan DE, seperti gangguan psikologis (kecemasan dan depresi), bentuk penis yang tidak normal, ukuran penis yang kecil, dan tekanan darah tinggi. Meski demikian, gejala ini belum tentu dialami oleh semua penderita DE.

1 of 2

Penanganan disfungsi ereksi harus dilakukan secara tepat

Menurut sebuah survei pada tahun 2004 tentang bagaimana masyarakat perkotaan negara-negara di Asia mencari bantuan medis, dari 948 pria dan 992 wanita yang aktif secara seksual dan melaporkan mengalami DE, 45 persen di antaranya tidak mencari bantuan atau saran, dan hanya 21 persen mencari perawatan medis. Ada juga penelitian serupa tahun 2011 yang menegaskan temuan tersebut, bahwa faktor sosial, budaya, agama, dan ekonomi mencegah pasien untuk berkonsultasi dengan dokter.

Pada dasarnya, pengobatan atau terapi DE terdiri dari tiga lini, yakni:

  1. Lini pertama

Tahap pertama adalah memberi obat oral pada pasien DE. Pada tahap ini, secara resmi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengizinkan tiga jenis obat PDE-5 inhibitors untuk DE, yaitu sildenafil, tadalafil, dan vardenafil. Harus dikonsumsi dari resep dokter, tingkat keberhasilan obat-obat tersebut mencapai 90 persen.

“Obat-obatan harus berdasarkan resep dokter, tidak boleh asal konsumsi. Apalagi konsumsi obat-obatan herbal. Kalau ada obat herbal yang efeknya dirasakan cepat, itu tandanya bukan herbal, melainkan ada campuran kimianya. Obat herbal itu khasiatnya baru bisa dirasakan setelah penggunaan dalam jangka waktu tertentu, bukan secara singkat,” kata dr. Nugroho mengingatkan.

Jika terapi dengan obat tidak berhasil, maka vakum penis bisa dilakukan, yang tujuannya adalah untuk membantu penderita DE agar bisa mendapatkan dan mempertahankan ereksi sebelum memulai berhubungan seksual. Cara kerja alat ini adalah dengan mengisap udara melalui tabung yang dipasang untuk menarik darah ke penis.

  1. Lini kedua

Injeksi intracavernosal adalah salah satu terapi DE, yang mana obat langsung disuntikkan ke saluran keluar kencing. Injeksi berguna untuk melebarkan pembuluh darah di penis.

  1. Lini ketiga

Jika kedua terapi di atas gagal, maka pria dengan DE dianjurkan untuk melakukan operasi implantasi protesis penis. Terapi ini juga bisa dilakukan jika penderita menginginkan perbaikan secara permanen. Selain itu, tindakan operasi pembuluh darah juga bisa menjadi pilihan.

Selain dengan terapi, pengobatan DE juga harus didukung dengan perubahan gaya hidup ke arah yang lebih sehat. Anjuran dari dr. Nugroho adalah dengan melakukan aktivitas fisik yang teratur dan/atau pengaturan berat badan melalui kontrol diet secara signifikan dapat meningkatkan fungsi ereksi dan menurunkan risiko kejadian penyakit kardiovaskular.

Prevalensi terjadinya DE akan meningkat seiring dengan pertambahan usia. Kondisi DE bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Maka penderitanya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis agar diketahui penyebabnya yang bisa berbeda-beda pada setiap orang.

Hindari mengobati disfungsi ereksi sendiri hanya dengan mengandalkan anjuran seseorang atau iklan yang tidak jelas dan waspadalah dengan obat-obatan palsu. Ketahuilah bahwa sebagian besar obat memiliki efek samping dan kontraindikasi jika obat dikonsumsi secara sembarangan, atau dikonsumsi bersama obat lain. Jadi, untuk memastikan pengobatan disfungsi ereksi secara tepat, Anda harus berkonsultasi ke dokter.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓