Hamil Meski Pakai IUD, Apa yang Salah?

Oleh dr. Andika Widyatama pada 07 Sep 2018, 13:22 WIB
Kehamilan bisa tetap terjadi meski Anda menggunakan alat kontrasepsi IUD. Tahukah Anda apa alasan dari kejadian tersebut? Simak di sini.
Hamil Meski Pakai IUD, Apa yang Salah? (New Africa/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Intrauterine device atau IUD adalah alat kontrasepsi dalam rahim yang terbukti efektif dan paling banyak digunakan. Tingkat keberhasilan IUD untuk menunda kehamilan diduga mencapai 99,7%.

Sesuai namanya, IUD dimasukan ke dalam rahim agar dapat berfungsi dengan baik. Bentuknya menyerupai huruf “T”, berbahan plastik, berukuran kecil, dan bersifat fleksibel. Sebagai alat kontrasepsi yang berfungsi untuk jangka panjang, IUD dapat bertahan hingga 5–10 tahun sesuai dengan jenis yang digunakan.

Terdapat dua jenis IUD, yaitu:

  • IUD yang dilapisi tembaga

IUD jenis ini bekerja dengan cara merangsang terjadinya peradangan di dinding rahim oleh adanya zat tembaga itu sendiri. Peradangan tersebut akan mengganggu perkembangan sperma pria dan sel telur (ovum) wanita, sehingga mencegah terjadinya kehamilan.

  • IUD hormonal

IUD hormonal bekerja dengan cara melepaskan hormon progestin, yang menyebabkan lendir di leher rahim (serviks) menjadi lebih kental. Lendir tersebut akan menghambat sperma untuk membuahi ovum untuk mencegah terjadinya kehamilan. IUD jenis ini juga memperlambat pertumbuhan lapisan rahim, sehingga membuat area tersebut tidak ideal untuk pertemuan sperma dengan ovum.

1 of 2

Hamil meski pakai IUD

IUD merupakan alat kontrasepsi yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Menurut American Congress of Obstetric and Gynecologists (ACOG), tingkat kegagalan IUD mencegah kehamilan kurang dari 1% di tahun pertama penggunaan.

Meski demikian, peluang terjadinya kehamilan tetap ada. Contohnya pada kasus IUD yang bergeser sedikit dari tempatnya atau hingga keluar dari rahim. Kasus seperti itu terjadi pada 5% pengguna IUD di tahun pertama. Kemungkinan besar, pergeseran terjadi sesaat setelah IUD baru saja dimasukkan.

Pengguna IUD yang mengalami kehamilan akibat hal tersebut akan mengalami gejala hamil seperti pada umumnya, misalnya nyeri pada payudara, mual, perasaan lelah, dan sebagainya. Namun, sebelum menduganya lebih jauh, akan lebih baik bila Anda melakukan pemeriksaan menggunakan test pack.

Jika dengan cara itu Anda masih belum yakin juga, tak ada salahnya untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter. Saat konsultasi dengan dokter, Anda akan diberikan serangkaian pemeriksaan seperti USG dan laboratorium darah. Di samping itu, dokter juga akan menilai apakah proses kehamilan Anda akan mengalami gangguan lantaran adanya IUD di dalam rahim.

Adapun beberapa risiko yang terjadi pada kehamilan dengan IUD, di antaranya:

  • Keguguran
  • Kelahiran prematur (sebelum waktunya)
  • Infeksi pada cairan ketuban (chorioamnionitis)
  • Lepasnya plasenta sebelum waktunya (placental abruption).

Risiko-risiko tersebut tentu dapat membahayakan kondisi ibu dan janin dalam kandungan.

Apa solusinya?

Jika Anda adalah pengguna IUD dan benar-benar ingin menunda kehamilan selama beberapa waktu, Anda dianjurkan untuk melakukan kontrol setelah satu bulan pemasangan IUD oleh dokter. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa IUD terletak pada tempat yang tepat, tidak mengalami pergeseran, ataupun tersangkut di dalam dinding rahim.

Untuk meninimalkan peluang terjadinya kehamilan pada penggunaan IUD, alangkah baiknya bila Anda dan suami memahami aturan penggunaan alat kontrasepsi dengan sebaik mungkin. Konsultasikan dengan dokter mengenai pilihan alat kontrasepsi yang terbaik, sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan Anda maupun pasangan. Dengan begitu, perencanaan rumah tangga dapat berjalan dengan lebih baik. Salam sehat!

[NB/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓