Waspada saat Penderita Demensia Bicara soal Bunuh Diri

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 11 Sep 2018, 16:00 WIB
Jangan anggap sepele saat penderita demensia bicara soal bunuh diri! Pahami alasannya sebagai berikut.
Waspada saat Penderita Demensia Bicara soal Bunuh Diri (Dubova/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Seberapa besar bahaya demensia? Sekumpulan gejala yang ditandai dengan penurunan daya ingat ini kerap dianggap sebagai pikun biasa dan lumrah menyerang lansia. Padahal kenyataannya, sindrom demensia dapat menurunkan kualitas hidup para penderitanya. Tak heran bila penderita demensia bisa mengalami stres yang berujung depresi, hingga muncul keinginan untuk bunuh diri.

Berdasarkan penjelasan dr. Nitish Basant Adnani dari KlikDokter, demensia adalah gangguan fungsi kognitif menyeluruh dari otak. Hal ini ditandai gangguan fungsi memori atau daya ingat.

“Kondisi ini disertai satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain, di antaranya kemampuan berbahasa, kemampuan bertindak secara berencana dan mengambil keputusan, kemampuan berhitung dan pengenalan benda,” kata dr. Nitish.

Sementara itu, menurut dr. Fiona Amelia dari KlikDokter, demensia muncul akibat interaksi kompleks dari berbagai faktor. Hal tersebut meliputi usia, genetik, lingkungan, gaya hidup, dan riwayat penyakit yang dialami.

“Faktor risiko seperti usia atau genetik memang tidak dapat diubah. Akan tetapi, faktor risiko lain yang berkaitan dengan kebiasaan atau gaya hidup, sangat bisa diperbaiki untuk menurunkan risiko demensia,” ujarnya.

Alzheimer – bentuk paling umum dari demensia – dapat membuat penderitanya merasa stres. Dilansir Alzheimer’s Association, depresi sangat umum pada penderita Alzheimer, terutama pada tahap awal dan pertengahan. Karena itu, orang-orang terdekat dari penderita demensia maupun Alzheimer harus waspada jika suatu hari mereka berbicara mengenai keinginan bunuh diri.

1 of 2

Risiko bunuh diri pada penderita demensia

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Alzheimer & Demensia: The Journal of Alzheimer's Association, peningkatan risiko bunuh diri pada orang yang berusia di atas 60 dikaitkan dengan hal-hal berikut:

  • Baru didiagnosis demensia
  • Ras Kaukasia
  • Riwayat depresi
  • Riwayat rawat inap psikiatri
  • Resep obat antidepresan atau anti-kecemasan

Studi lainnya melihat bahwa ada dua faktor risiko terjadinya bunuh diri pada penderita demensia, yakni fungsi kognitif yang lebih tinggi dan pernah berupaya untuk bunuh diri sebelumnya.

Lebih lanjut, satu penelitian juga menemukan bahwa setelah didiagnosis demensia risiko bunuh diri meningkat baik untuk pria dan wanita. Karena itu, orang-orang terdekat harus sadar bahwa pengidap demensia memiliki kemungkinan depresi dan penting untuk mengetahui langkah-langkah dalam mencegahnya.

Merespons hasrat bunuh diri penderita demensia

Sebanyak 25 hingga 50 persen penderita demensia mengalami depresi. Mengenali gejala depresi pada demensia sangat penting karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bunuh diri.

Jika Anda memiliki anggota keluarga yang memiliki demensia dan khawatir, coba perhatikan terlebih dulu nilai risikonya. Pertama-tama, analisis situasi untuk saat ini. Apakah orang ini tinggal sendiri atau apakah ia penghuni panti jompo? Apakah ia memiliki riwayat bunuh diri? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu Anda mengevaluasi seberapa tinggi risiko yang ia miliki untuk menyakiti diri sendiri.

Tanyakan juga apakah ia memiliki keinginan untuk melukai dirinya sendiri dan jika demikian, apa rencananya. Seseorang mungkin memiliki keinginan dan telah merumuskan rencana untuk bunuh diri, tetapi jika ia tidak memiliki kemampuan – baik fisik maupun mental – untuk melaksanakan rencana itu, berarti nilai risikonya berkurang.

Namun, bukan berarti tugas Anda hanya sampai di situ. Anda harus memberi tahu hal tersebut kepada dokter. Sangat penting bagi orang terdekat pasien untuk menjalin kerja sama yang baik dengan dokter. Dokter kemudian dapat menilai apakah obat seperti antidepresan diperlukan bagi orang tersebut serta rencana perawatan lainnya.

Mengobati depresi, baik melalui pendekatan non-obat dan obat antidepresan, dapat membuat perbedaan dramatis dalam kualitas hidup seseorang serta mengurangi risiko bunuh diri mereka. Jadi, jangan anggap sepele jika penderita demensia memiliki gejala depresi dan berbicara soal bunuh diri. Berikan pendekatan, ajak bicara, dan konsultasikan kepada dokter demi penanganan yang tepat.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓