Lari Maraton Berbahaya bagi Penderita Penyakit Jantung?

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 12 Sep 2018, 17:25 WIB
Meski bermanfaat bagi kesehatan, lari maraton dituding memiliki dampak negatif bagi mereka yang memiliki penyakit jantung. Benarkah ini?
Lari Maraton Berbahaya bagi Penderita Penyakit Jantung? (Sportpoint/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Perhelatan lari maraton Maybank Bali Marathon (MBM) 2018 baru saja usai, hari Minggu (9/9) lalu. Namun, kabar duka datang dari ajang lomba lari internasional tersebut. Seorang peserta dikabarkan meninggal sesaat sebelum menyentuh garis finish. Diduga, penyebab meninggalnya peserta tersebut adalah penyakit jantung.

Studi terkini yang dimuat dalam jurnal American College of Cardiology menyebutkan bahwa satu dari 200.000 pelari akan mengalami kematian jantung mendadak, dan satu dari 50.000 pelari akan mengalami serangan jantung saat melakukan maraton. Melihat fakta ini, apakah lari maraton begitu berbahaya bagi para penderita penyakit jantung?

Lari, yang merupakan salah satu bentuk olahraga endurance, sedikit banyak akan mengubah struktur dan fungsi jantung Anda. Sebagai organ dengan massa otot yang besar, jantung mampu beradaptasi terhadap stres akibat olahraga yang intens.

Sebagai contoh, jantung atlet umumnya berukuran lebih besar akibat massa otot yang bertambah dan ruang jantung yang lebih besar. Tujuannya agar mampu menampung lebih banyak darah dan kerja jantung menjadi lebih efisien.

Lari maraton dan kesehatan jantung

Bagi Anda yang baru menekuni dunia maraton, aktivitas ini sesungguhnya seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, aktivitas lari yang dilakukan secara rutin dapat menyehatkan jantung. Sesi latihan untuk suatu perhelatan maraton pun dapat menurunkan risiko Anda mengalami henti jantung. Namun, bila maraton dilakukan dalam setting kompetisi, risiko henti jantung bisa meningkat.

Sejatinya, lari maraton menuntut kerja keras dari berbagai sistem tubuh seperti pernapasan, jantung, serta otot maupun tulang. Secara medis, aktivitas tersebut mengaktifkan serangkaian proses yang memicu serangan jantung.

Untuk memperjelas hubungan keduanya, para peneliti dari McLean Hospital, Amerika Serikat, mengikuti 80 dokter yang merupakan anggota American Medical Athletic Association. Semua dokter tersebut menjadi peserta dalam acara Boston Marathons ke-100 hingga ke-105. Subjek rata-rata berusia 47 tahun, tidak memiliki riwayat merokok, penyakit jantung, dan sudah pernah beberapa kali mengikuti kegiatan maraton sebelumnya.

Dari maraton pertama hingga kelima, subjek diambil darah sebanyak tiga kali, yakni sebelum, beberapa jam setelah, dan keesokan paginya setelah maraton selesai. Setelah diteliti, ditemukan bahwa kadar faktor peradangan dan pembekuan darah pada ke-80 pelari menjadi sangat tinggi setelah maraton selesai dan keesokan harinya. Secara teori, peningkatan kedua faktor itu mendasari munculnya serangan jantung.

Pada studi ini, tidak ada subjek yang kolaps atau mengalami serangan jantung saat maraton berlangsung maupun setelahnya. Ini karena terjadinya serangan jantung juga membutuhkan faktor penyempitan pembuluh darah akibat timbunan plak aterosklerosis atau gangguan irama jantung.

Berdasarkan hasil studi tersebut, dapat disimpulkan bahwa lari maraton berbahaya dan bisa memicu serangan jantung berulang pada mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung koroner sebelumnya. Pelari maraton pria yang berusia lebih dari 40 tahun juga sebaiknya berhati-hati, karena risiko serangan maupun henti jantung cenderung meningkat pada usia-usia ini.

Jadi, haruskah berhenti lari maraton?

Adanya risiko berbahaya dari lari maraton tidak berarti Anda harus “gantung sepatu”. Anda tetap bisa melakukan lari maraton jika sangat menyukainya. Namun sebelum itu, Anda harus paham betul bagaimana melakukan lari maraton dengan teknik yang baik dan benar.

Alih-alih memberikan efek positif pada kesehatan, lari maraton yang dilakukan secara sembarang dan tanpa latihan yang tepat, justru dapat menimbulkan konsekuensi yang jauh lebih serius.

Jadi, bila Anda menyukai lari maraton, lakukanlah aktivitas positif ini sebagai sarana untuk relaks dan bersenang-senang. Hindari melakoninya sebagai ajang kompetisi, apalagi jika Anda tak ingin kesehatan jantung dan nyawa yang menjadi taruhannya. Salam sehat!

[NB/ RVS]