Kehabisan Rasa Empati, Apa Penyebabnya?

Oleh Ayu Maharani pada 14 Sep 2018, 09:00 WIB
Tak cuma kepercayaan yang bisa hilang dari dalam diri manusia, rasa empati juga. Benarkah hal itu? Simak penjelasannya berikut ini.
Kehabisan Rasa Empati, Apa Penyebabnya? (Antonio Guillem/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi dengan sesamanya di berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan sepele sampai krusial. Hal itu tentu melibatkan berbagai pemikiran, perilaku, dan perasaan. Bicara tentang perasaan, salah satu yang terlibat di dalamnya adalah empati.

Dilansir Psychology Today, empati ialah kapasitas Anda untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain supaya Anda mengerti sudut pandang orang itu dan bisa mengambil keputusan dengan bijak. Ini sedikit berbeda dengan simpati yang hanya berfokus pada rasa kasih terhadap hal-hal tertentu tanpa mengerti betul kondisi sebenarnya.

Yang terjadi pada tubuh bila Anda berempati

Menurut seorang psikolog termuka, Barbara Fredrickson, saat manusia berempati terhadap sesuatu, tubuh juga ikut merespons. Contohnya, saat merasa marah, napas dan denyut jantung pun meningkat.

Nah sebaliknya, bila Anda sedang berempati, jantung akan berdenyut lebih pelan sehingga menimbulkan rasa tenang. Hormon oksitosin pun meningkat, membuat Anda merasa lebih aman dan bahagia.

Bisakah empati hilang?

Apa pun yang berlebihan pasti menimbulkan dampak negatif. Begitu pula dengan empati. Dikutip dari Psychology Today, ada kalanya manusia sudah mencapai di titik “empathy/compassion fatigue” dan bukannya hilang sama sekali. Terlalu berusaha memahami dan berada di posisi orang lain secara terus-menerus membuat seseorang cenderung kehilangan fokusnya dalam menilai suatu permasalahan secara objektif.

Compassion fatigue dulu banyak terjadi pada perawat dan orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan. Karena pekerjaan mereka selalu bersentuhan dengan orang-orang yang sedang sakit dan menderita, mereka pun rentan mengalami compassion fatigue.

Namun, di zaman sekarang ini, ketika setiap tragedi yang ada di dunia disiarkan secara instan lewat televisi, radio, dan media sosial, compassion fatigue juga bisa dialami orang-orang nonmedis.

Tanda dan gejala compassion fatigue adalah merasa terbebani dengan penderitaan orang lain, mengisolasi diri, insomnia, sulit konsentrasi, lelah secara fisik, merasa tidak berdaya, dan sebagainya.

1 of 2

Bagaimana mengembalikan empati?

Ketika merasakan compassion fatigue, Anda pun kehilangan kemampuan untuk menilai hal-hal yang terjadi dengan maksimal. Apabila dibiarkan berkepanjangan, tentu itu tidak baik untuk kehidupan Anda.

Tak mustahil juga bahwa kondisi tersebut menyebabkan Anda berubah menjadi pribadi yang bertentangan, yaitu apatis. Sebab, Anda sudah telanjur kebal dengan hal-hal berbau kepedulian. Oleh sebab itu, lakukan hal-hal di bawah ini agar Anda rasa empati Anda kembali ke 'kadar normal'.

  • Meditasi

Istirahatkanlah diri Anda sejenak sambil memejamkan mata dan mengatur napas dalam agar kembali tenang dan memiliki emosi yang lebih stabil.

  • Berikan batasan pada diri Anda

Terlalu sering berempati terkadang bisa membuat Anda dimanfaatkan oleh sejumlah oknum. Maka, beranilah untuk mengatakan tidak bila pada akhirnya itu hanya akan merugikan Anda. Jangan juga terlalu memaksakan segala sesuatu. Terbiasalah untuk membuat batasan supaya Anda mengetahui secara bijak tentang mana yang sepadan dan mana yang tidak.

  • Berliburlah!

Tak ada salahnya Anda mengambil waktu untuk 'melarikan diri' sejenak dengan pergi ke tempat yang Anda sukai dan melakukan kegiatan mengasyikkan. Hal itu pasti bisa mengisi ulang semangat dan emosi positif Anda.

  • Bicaralah dengan orang yang Anda percayai

Rasa empati yang berlebihan terkadang membuat Anda selalu menjadi pihak yang mendengarkan. Kini, giliran Anda yang mulai didengarkan. Ceritakanlah keluh kesah Anda kepada orang yang Anda percaya. Setelah Anda melakukannya, Anda pasti merasa lebih baik, dan mungkin siap untuk mendengarkan cerita baru lagi.

  • Kelilingi diri Anda dengan orang-orang baik

Bila Anda ingin menumbuhkan rasa empati, berkumpullah dengan orang-orang optimis, bijaksana, punya kepedulian terhadap sesama makhluk hidup. Niscaya, Anda pun pasti tertular sifat baik itu!

  • Terapkan gaya hidup sehat

Mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi serta rajin beraktivitas fisik tentu berdampak baik untuk Anda. Sebab, di balik tubuh yang sehat pasti ada jiwa yang kuat. Setuju?

Memiliki cukup rasa empati tentu akan membawa banyak hal positif di kehidupan Anda. Itu karena berhasil memberikan sesuatu kepada orang lain, baik itu materi, tenaga, pikiran, hingga waktu, merupakan suatu pencapaian dan kepuasan tersendiri. Meski begitu, ingatlah bahwa berempati terhadap pihak lain bukan berarti Anda menjadi tidak peduli dengan diri Anda sendiri. Berikan juga rasa kasih kepada diri Anda supaya Anda juga memiliki energi positif tambahan untuk membantu orang lain.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓
Ai Herlina P UherAi Herlina P Uher

baru tau empati bisa ilang,,Hhhmmzzz bener juga sih makasih