Efek Ganja pada Ibu Hamil dan Janin

Oleh dr. Atika pada 14 Sep 2018, 13:53 WIB
Hindari penggunaan ganja pada kondisi kehamilan, karena bisa berefek buruk pada janin. Berikut ini penjelasan medisnya.
Efek Ganja pada Ibu Hamil dan Janin (G. stockstudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Ganja termasuk obat-obatan psikotropika yang memberikan efek buruk pada janin bila digunakan oleh wanita yang sedang hamil. Tak terkecuali bila keluarga di sekitar ibu hamil, misalnya ayah, menggunakan ganja, maka efeknya tetap dapat dirasakan oleh janin.

Ganja dan penggunaannya

Dalam bahasa latin, ganja disebut Cannabis sativa. Di dalam ganja terkandung lebih dari 60 macam zat kanabinoid aktif. Penggunaannya sendiri terbagi menjadi dua tujuan, yaitu rekreasional dan pengobatan.

Untuk pengobatan, ganja diketahui dapat mengobati rasa mual sebagai efek dari zat aktif tetrahidrokanabinol dan kanabidiol yang juga diketahui dapat mengurangi nyeri dan kekakuan otot.

Sayangnya, penggunaan ganja cenderung rentan disalahgunakan untuk tindakan yang tidak bertanggung jawab. Konsentrasi yang tinggi dalam darah setelah mengonsumsi ganja dapat menyebabkan perubahan psikologis hingga kehilangan kesadaran.

Fakta yang mengejutkan ditemukan bahwa penggunaan ganja pada ibu hamil mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2014, sekitar 3,9 persen wanita hamil berusia 18-44 tahun di Amerika dilaporkan menggunakan ganja. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2002, yang hanya berjumlah 2,4 persen.

Melihat kenaikan tersebut, tidak menutup kemungkinan angka kejadian semakin bertambah. Di Indonesia sendiri belum ada penelitian yang dapat menunjukkan besarnya masalah penggunaan ganja pada ibu hamil.

1 of 2

Efek ganja terhadap ibu hamil dan janin

Setelah terhirup ke dalam tubuh, kandungan ganja yaitu tetrahidrokanabinol (THC) akan menumpuk di aliran darah. Sekali hirupan sudah cukup untuk membuat kadar THC yang tinggi dalam darah.

Saat ganja dikonsumsi ibu hamil, kanabinoid dan komponen ganja lainnya dapat melewati plasenta dengan mudah. Akibatnya, konsentrasi komponen ganja di sirkulasi darah dan otak janin akan berjumlah sangat besar.

Penumpukan komponen ganja tersebut tidak hanya dapat terjadi saat ganja dihirup sendiri oleh sang ibu. Bila ibu menghirup asap ganja yang dipakai oleh orang di sekitarnya, maka efeknya juga akan sama. Komponen ganja akan masuk ke darah ibu dan bayi.

Oleh sebab itu, keluarga - terutama ayah - memiliki peran yang besar sebagai penyebab gangguan kesehatan pada janin bila menggunakan ganja di dekat ibu hamil. Beberapa di antara efek tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Terganggunya pertumbuhan otak bayi. Jika hal ini terjadi, pada akhirnya janin akan lahir dengan ukuran kepala kecil (mikrosefali).
  2. Gangguan pertumbuhan saraf.
  3. Peningkatan risiko bayi lahir prematur hingga keguguran.
  4. Terhambatnya pertumbuhan tubuh bayi secara umum.
  5. Berat badan bayi lahir rendah.

Bila penggunaan ganja diteruskan saat ibu menjalani proses menyusui, maka ganja masih dapat berdampak pada bayi. Hal ini dikarenakan kandungan ganja dapat dikeluarkan lewat Air Susu Ibu (ASI). Jika sudah begini, gangguan pertumbuhan saraf dan kejiwaan dapat mengiringi masa emas pertumbuhan otaknya.

Bagaimana jika ibu hamil berhenti mengonsumsinya?

Ganja tidak dapat dihilangkan dengan cepat dari aliran darah ibu dan lemak janin. Oleh sebab itu, paparan janin terhadap THC akan terus berlanjut sekalipun sang ibu udah berhenti menggunakannya.

Selain itu, sebuah penelitian juga memperoleh hasil bahwa gangguan pertumbuhan dan perkembangan saraf jangka panjang tetap dapat terjadi setelah bayi dilahirkan. Pada kasus penggunaan ganja di trimester pertama kehamilan, ditemukan adanya masalah dalam berbahasa dan berpikir pada anak yang dilahirkan saat berusia 6 tahun.

Anak yang dilahirkan juga dapat mengalami gangguan memori jangka pendek dan kecerdasan yang rendah jika ganja dikonsumsi pada trimester kedua.

Hasil evaluasi terhadap anak yang lahir dari ibu yang menggunakan ganja sepanjang kehamilan juga menunjukkan tingginya gejala depresi pada anak saat menginjak usia 10 tahun.

Telah banyak data yang menunjukkan penggunaan ganja dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada ibu hamil dan janin yang dikandung. Hal ini juga berlaku bila orang di sekitar ibu hamil yang mengonsumsinya. Untuk itu, jalan terbaik tentulah menghindarinya sebaik mungkin.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓