Cara Membedakan Serangan Panik dan Rasa Cemas

Oleh Ayu Maharani pada 19 Sep 2018, 17:30 WIB
Umumnya, orang akan menyamakan serangan panik dengan rasa cemas. Lalu, bagaimana cara membedakan keduanya?
Cara Membedakan Serangan Panik dan Rasa Cemas (Yuri-Shevtsov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda berada di sebuah situasi, misalnya, memergoki peristiwa pencurian di depan mata kepala sendiri? Lalu, Anda buru-buru berlari kencang karena takut terlihat oleh pelaku dan saat ditanyai oleh orang lain, Anda mengatakan telah mendapat serangan panik karena habis melihat kejadian tak mengenakkan? Jika iya, apa yang Anda rasakan itu nyatanya tak bisa langsung dibilang serangan panik. Lalu apa bedanya dengan cemas?

Apa itu serangan panik?

Menurut dr. Fiona Amelia MPH dari KlikDokter, serangan panik bukanlah sebatas hasil reaksi terhadap stresor (penyebab stres). Umumnya, serangan tersebut terjadi begitu saja tanpa ada pemicu dan tak bisa diprediksi dengan mudah.

Ketika serangan panik datang, orang akan merasa seperti diteror dan mengalami ketakutan tak beralasan. Seorang psikolog dan direktur Research & Special Projects di American Psychological Association yang dilansir Women's Health, C. Vaile Wright, Ph.D., mengatakan bahwa serangan panik biasanya terjadi selama 10 menit.

Menurut Anxiety and Depression Association of America, tanda dan gejala serangan panik umumnya meliputi:

  • Jantung berdebar kencang
  • Berkeringat
  • Gemetaran
  • Sesak napas dan ada perasaan seperti tersedak
  • Nyeri dada
  • Mual dan sakit perut
  • Pusing
  • Kedinginan atau bahkan kepanasan
  • Kesemutan
  • Takut kehilangan kendali

Rasa cemas kerap kali muncul saat stresornya datang. Saat stresornya hilang, rasa cemas juga hilang. Hal itu agak berbeda dengan serangan panik yang bisa muncul tiba-tiba tanpa penyebab.

Selain itu, serangan panik juga dikategorikan sebagai penyakit mental menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) oleh American Psychiatric Association (APA), sedangkan rasa cemas tidak. Maka, bisa dikatakan bahwa rasa cemas tidak terlalu mengkhawatirkan ketimbang serangan panik.

Faktor pendukung terjadinya serangan panik

Seperti yang sudah dikatakan, serangan panik umumnya tidak memiliki penyebab. Meski demikian, beberapa faktor di bawah ini bisa meningkatkan risiko munculnya serangan panik:

1. Jenis kelamin

Wanita dua kali lebih besar kemungkinannya untuk terkena serangan panik ketimbang laki-laki. Sebab, ada perbedaan kimiawi otak dan hormon, serta adanya perbedaan cara menghadapi stres antara laki-laki dan wanita. Pada wanita, serotonin neurotransmiter yang berperan dalam menghadapi stres dan kecemasan tidak diproses secara cepat.

2. Genetik

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience pada tahun 2013 melaporkan, orang-orang yang mengalami serangan panik biasanya memiliki gen yang disebut NTRK3 yang bisa membuat Anda membesar-besarkan respons atau rasa takut terhadap sesuatu.

3. Adanya gangguan kesehatan mental lainnya

Jika Anda sedang berjuang melawan penyakit mental, seperti depresi, fobia, atau gangguan obsesif-kompulsif, kemungkinan Anda terkena serangan panik juga tinggi.

4. Faktor lingkungan

Apabila Anda hidup dengan keluarga atau kerabat yang sebelumnya juga mengalami serangan panik, Anda pun bisa “tertular” hal tersebut. Faktor eksternal seperti adanya tekanan pekerjaan dan habis kehilangan orang yang disayangi juga bisa meningkatkan risiko serangan panik.

Jadi, benar adanya bahwa serangan panik dan rasa cemas itu berbeda. Bila Anda terkena serangan panik, berobatlah ke dokter agar hal tersebut tidak terulang terus-menerus. Umumnya, dokter juga akan mendampingi perawatan dengan terapi obat anticemas dan/atau cognitive behavioral theraphy.

[RS/ RVS]