Kualitas Sperma Bisa Sebabkan Keguguran pada Ibu Hamil?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 26 Sep 2018, 13:15 WIB
Ada banyak penyebab keguguran dan tidak melulu datang dari wanita. Ternyata, kualitas sperma yang tidak baik juga bisa sebabkan keguguran.
Kualitas Sperma Bisa Sebabkan Keguguran pada Ibu Hamil? (Fizkes/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Karena janin berkembang di rahim wanita, sering kali keguguran dikaitkan dengan berbagai faktor yang ada pada ibu hamil. Padahal, kondisi pasangan juga berkontribusi, seperti kualitas sperma yang faktanya dapat memengaruhi kehamilan, bahkan bertanggung jawab atas keguguran yang terjadi.

Meski demikian, setelah membaca paragraf di atas jangan langsung menyalahkan pasangan jika Anda mengalami keguguran, karena sering kali tidak ada penjelasan yang jelas terkait hal ini. American Society for Reproductive Medicine (ASRM) mencatat, kurang dari separuh dari semua keguguran di Amerika Serikat memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Tentu saja ini bisa bikin frustasi, terutama pada wanita yang mengalami keguguran beberapa kali.

Kualitas sperma dan keguguran

Di masa lalu, sebagian besar kasus keguguran difokuskan pada wanita. Akan tetapi, ada pula penelitian yang telah melihat secara khusus mengenai “kontribusi” pria terhadap kehamilan yang berkaitan dengan kualitas sperma.

Para dokter ahli kesuburan setuju bahwa diperlukan lebih banyak penelitian. Mereka pun menyarankan, ketika keguguran terjadi (beberapa kali) fokuskan pengujian pada kedua belah pihak. Jangan hanya wanita atau prianya saja.

Lantas, bagaimana kualitas sperma dapat memengaruhi kehamilan? Ulasannya ada di bawah ini.

  1. Kromosom

Penyebab utama keguguran adalah masalah kromosom. Kromosom adalah blok DNA yang mengodekan semua informasi yang dibutuhkan selama pengembangan janin. Karena setengah dari kromosom bayi yang sedang berkembang berasal dari ayah, bisa jadi sperma dapat menyumbangkan kromosom abnormal pada kehamilan.

Sekitar 3 dari 4 keguguran terjadi selama trimester pertama kehamilan. Biasanya, jika seorang wanita mengalami keguguran pada trimester pertama, ada masalah dengan kromosom bayi.

Dengan adanya masalah pada kromosom, ini bisa menyebabkan “kekacauan” selama pembuahan dan embrio pun mendapatkan jumlah kromosom yang salah (bisa terlalu banyak atau terlalu sedikit). Ini akhirnya bisa mengakibatkan keguguran. Namun, tidak semua janin dengan kromosom yang salah akan mengalami keguguran. Misalnya pada bayi dengan trisomi 21, ia akan tetap lahir tapi memiliki kondisi down syndrome.

Pada masa lalu, para peneliti berfokus pada telur sebagai sumber utama masalah kromosom. Namun, beberapa penelitian selama dekade terakhir menunjukkan bahwa ini mungkin tidak selalu terjadi. Beberapa kasus keguguran berulang tampaknya melibatkan ayah yang memiliki kadar tinggi kromosom abnormal dalam spermanya.

Memang, tidak ada perkiraan nyata untuk seberapa sering sperma merupakan faktor dalam keguguran berulang dan masalah kromosom dalam sperma tidak diyakini sebagai penyebab utama. Akan tetapi, tetap ada kemungkinan, terutama pada pria yang spermanya menunjukkan morfologi abnormal atau penanda lain dari kesuburan rendah.

1 of 3

Selanjutnya

  1. Fragmentasi DNA sperma

Salah satu kunci kualitas sperma terletak pada DNA yang bisa mengalami kerusakan. Ketika kerusakan ini terjadi, ini disebut sebagai sperm DNA fragmentation (SDF) atau fragmentasi DNA sperma, yang mana ini adalah area fokus untuk banyak penelitian yang mencari jawaban dari penyebab keguguran.

SDF dapat terjadi karena sejumlah alasan, di antaranya adalah kematian sel, racun lingkungan, dan penyakit atau demam. Sperma tidak dapat memperbaiki kerusakan sel seperti sel-sel lain di dalam tubuh, dan ini adalah penyebab utama ketidaksuburan pria. Kerusakan juga memengaruhi struktur DNA di dalam sperma dan jika ini membuahi sel telur, bisa berpotensi sebabkan keguguran.

Ada satu penelitian yang membandingkan pasangan yang mengalami keguguran pada pasangan dengan pria tidak subur dan pria subur. Hasilnya, sperma yang terlibat dalam keguguran lebih mungkin memiliki tanda-tanda fragmentasi pada tingkat yang hampir sama dengan yang dialami pria tidak subur.

Hasil-hasil seperti ini menunjukkan bahwa korelasi antara SDF dan kesuburan, baik ketidakmampuan untuk hamil dan keguguran, dapat menjadi faktor. Akan tetapi, para peneliti berhati-hati untuk mencatat bahwa SDF sendiri tidak dapat memprediksi risiko keguguran pasangan.

  1. Gaya hidup

Ketika seorang wanita hamil, pentingnya gaya hidupnya sering ditekankan untuk menyokong kehamilan dan bayi yang sehat. Namun, ini bukanlah tanggung jawab ibu hamil semata, karena pasangannya pun juga harus mempertimbangkan gaya hidup, terutama gaya hidup yang dapat berdampak pada kualitas sperma. Kebiasaan seperti merokok, penggunaan narkoba dan konsumsi alkohol berlebihan, kekurangan nutrisi, berat badan berlebih, serta malas berolahraga bisa memengaruhi kesehatan sperma pria.

Gaya hidup yang tidak sehat dapat menyebabkan banyak faktor yang mengurangi kemungkinan keberhasilan kehamilan. Ini termasuk penurunan mobilitas sperma dan vitalitas, jumlah sperma yang lebih rendah, dan morfologi abnormal (ukuran dan bentuk sperma). Ini juga bisa menyebabkan kerusakan fisik. Setiap kerusakan pada sperma dapat menyebabkan masalah kesuburan dan, jika sel telur dibuahi, itu juga dapat menyebabkan keguguran.

2 of 3

Pengujian sperma

Beberapa dokter sekarang tak jarang merekomendasikan pria untuk menjalani tes kualitas sperma sebagai bagian dari program kehamilan dan/atau ketika tidak ada penyebab lain yang ditemukan yang menyebabkan keguguran berulang. Tes standarnya adalah analisis sperma yang melihat bentuk, mobilitas, dan jumlah sperma lewat sampel.

Ada juga beberapa tes DNA sperma yang tersedia di luar pemeriksaan visual. Namun, ASRM mencatat bahwa ini adalah eksperimental terbaik dan belum merupakan sebuah prediksi yang dapat diandalkan dari kemampuan pasangan untuk hamil atau kemungkinan keguguran.

Pada akhirnya, banyak ibu hamil yang tidak mengetahui penyebab pasti keguguran yang dialami. Ada beberapa faktor yang berkontribusi, termasuk kualitas sperma pasangan. Meski Anda masih mencari jawaban penyebab keguguran yang dialami, pilihan terbaik adalah jalani gaya hidup sehat dan berkonsultasi dengan dokter atau spesialis kesuburan.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓