Kiat Aman Memilih Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui

Oleh Ayu Maharani pada 26 Sep 2018, 16:20 WIB
Masih menyusui dan ingin pasang alat kontrasepsi? Tak perlu khawatir, simak ulasan berikut ini untuk mendapatkan kontrasepsi terbaik.
Kiat Aman Memilih Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui (Juan-Aunion/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setelah melewati fase persalinan, kini fokus Anda akan beralih ke masa menyusui. Anda akan terus berupaya bagaimana caranya agar ASI bisa mengalir deras dan mampu memenuhi kebutuhan gizi harian si Kecil.

Tak jarang, saat Anda dan pasangan memutuskan untuk menunda kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi, ada kebimbangan tersendiri. Biasanya kekhawatiran itu karena takut kontrasepsinya mengganggu kelancaran ASI.

Oleh karena itu, simaklah tips aman berikut ini agar Anda tak galau lagi saat harus memilih kontrasepsi di masa menyusui.

Ketika bayi masih di bawah 6 bulan

Saat Anda memberikan ASI eksklusif pada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan, itu sudah menjadi metode kontrasepsi alami yang disebut dengan amenore laktasi. Metode alami tersebut efektif 98 persen menunda kehamilan, asalkan Anda benar-benar memberikan ASI secara eksklusif di 6 bulan pertama fase kehidupan bayi dan belum menstruasi lagi setelah persalinan.

Bila Anda memberikan ASI eksklusif pada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan tetapi selepas masa persalinan Anda sudah menstruasi lagi, berarti tubuh Anda telah melepas sel telur. Dan, tinggi kemungkinannya untuk hamil kembali.

Setelah bayi di atas 6 bulan

Setelah usia bayi sudah lebih dari 6 bulan, metode amenore laktasi sudah tidak efektif lagi untuk mencegah kehamilan. Di sisi lain, dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter menganjurkan agar jarak kehamilan anak selanjutnya lebih dari 18 bulan. Hal ini supaya tidak menimbulkan gangguan, seperti bayi lahir prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah.

Untuk itu, gunakan kontrasepsi yang tidak mengandung hormon – misalnya kondom – yang tidak akan memengaruhi produksi ASI Anda. Kondom, selain mudah didapatkan, juga bisa mencegah kehamilan 99 persen apabila digunakan dengan benar. Selain itu, kondom juga bisa menghindarkan Anda dari penyakit menular seksual.

Namun, jika Anda tetap ingin menggunakan kontrasepsi hormonal, selektiflah dalam memilih. Sebab, Badan Kesehatan Dunia (WHO) hanya merekomendasikan kontrasepsi hormonal yang mengandung hormon progestin (tanpa estrogen sama sekali).

Kontrasepsi hormonal yang direkomendasikan oleh WHO adalah mini pil, KB suntik, IUD (spiral) yang mengandung hormon progestin, dan implan (susuk). Jangan pilih kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen di dalamnya, karena bisa mengganggu produksi ASI.

“Meski demikian, penggunaan KB progestin ternyata mengganggu produksi ASI pada beberapa ibu menyusui,” jelas dr. Ega.

Maka, lebih baik coba dulu mini pil selama 1 bulan. Jika tidak ada gangguan pada ASI, Anda bisa menggantinya dengan KB suntik yang efek mencegah kehamilannya lebih panjang.

Adapun penjelasan lebih detail mengenai jenis KB hormonal yang bisa Anda pilih, yaitu:

  • Pil KB Progestin

Cara kerjanya, yaitu menghambat ovulasi, menebalkan dinding mukosa leher rahim, mengganggu pergerakan silia saluran tuba, dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Apabila Anda lupa mengonsumsi pil ini, efektivitasnya pun akan berkurang.

  • IUD (Spiral)

Kontrasepsi ini memiliki 2 jenis, yaitu yang mengandung hormon dan yang tidak. Keduanya tidak menyebabkan gangguan pada produksi ASI.

Di Indonesia sendiri, yang paling banyak digunakan adalah IUD yang mengandung tembaga (copper T) atau tanpa hormon. Cara kerjanya, yakni menciptakan lingkungan rahim yang sulit ditembus sperma selama 5–10 tahun. Namun, ada beberapa wanita yang mengeluhkan bahwa darah menstruasinya lebih banyak dan sedikit nyeri setelah menggunakan ini.

  • Implan progestin

Alat ini dimasukkan ke bawah kulit dan bisa bertahan selama 3 tahun. Sama seperti spiral, implan progestin bisa memicu terjadinya gangguan menstruasi.

Itulah jenis kontrasepsi yang bisa Anda gunakan selama proses menyusui. Jika Anda ingin mengetahui mana yang paling sesuai dan tidak mengganggu proses pemberian ASI pada si Kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter.

[NB/ RVS]