5 Mitos tentang Alzheimer yang Tidak Perlu Dipercaya

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 27 Sep 2018, 16:00 WIB
Penyakit Alzheimer tak boleh disepelekan. Meski demikian ada beberapa mitos tentang Alzheimer yang tak perlu dipercaya.
5 Mitos tentang Alzheimer yang Tidak Perlu Dipercaya (Minerva-Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Ada banyak anggapan tentang Alzheimer yang beredar tak selalu benar, tapi tetap dipercaya karena pengetahuan masyarakat yang minim mengenai penyakit ini. Faktanya ada berbagai mitos tentang Alzheimer yang tidak perlu Anda percaya.

Salah satu anggapan tentang Alzheimer yang kerap dipercaya adalah penyakit ini sama dengan demensia. Sebetulnya ini tak sepenuhnya salah. Hanya saja, faktanya adalah demensia bagian dari penyakit Alzheimer. Demensia adalah istilah medis untuk sekelompok gejala yang disebebkan oleh beberapa gangguan otak yang berbeda.

Alzheimer merupakan kondisi menurunnya kemampuan otak yang disertai oleh berkurangnya sel-sel otak. Alzheimer kerap dikaitkan dengan proses penuaan, sehingga umumnya identik diderita kelompok lansia.

Kupas tuntas mitos Alzheimer yang tak perlu Anda percaya

Mengetahui informasi yang benar mengenai Alzheimer dapat membantu Anda mendeteksi gejala Alzheimer sehingga dapat ditangani secara dini. Berikut ini adalah beberapa mitos tentang Alzheimer yang tak perlu dipercaya dan harus diluruskan.

1. Risiko Alzheimer tidak bisa diminimalkan

Salah satu mitos yang “awet” mengenai penyakit Alzheimer (dan demensia) adalah bahwa tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit ini. Padahal, Alzheimer bisa dicegah dan ditangani sejak dini.

Menjaga gaya hidup seperti aktivitas fisik, diet, keterlibatan kognitif, dan keterlibatan sosial memiliki efek langsung dan tidak langsung pada kesehatan otak Anda. Upaya ini bahkan dapat meningkatkan harapan hidup serta meminimalkan dampak buruk Alzheimer.

2. Penderita Alzheimer sering bersikap kasar

Alzheimer dapat menyebabkan perubahan kepribadian dan perubahan suasana hati penderitaya. Namun tidak termasuk kemunculan perilaku yang kasar (violent). Justru, kebanyakan pasien Alzheimer tampak frustasi akibat kemampuan kognitif yang kian terkikis dari hari ke hari.

Jika orang yang Anda cintai mengalami perubahan kepribadian akibat Alzheimer, tetaplah tenang dan terlibat dalam setiap tahap pengobatan. Jadilah pendengar yang baik untuk segala keluhannya.

3. Alzheimer bukan penyakit bawaan

Ada berbagai penyebab dan faktor risiko yang membuat seseorang terkena Alzheimer. “Gabungan dari faktor genetik, gaya hidup, dan faktor lingkungan yang memengaruhi otak dalam jangka waktu lama disebut-sebut sebagai penyebabnya,” kata dr. Atika dari KlikDokter. Risiko seseorang menderita Alzheimer akan lebih tinggi bila keluarga derajat pertama – orang tua atau saudara kandung – menderita Alzheimer.

4. Alzheimer dapat dicegah dengan suplemen

Hingga kini, belum ada penelitian yang membuktikan kemampuan vitamin, produk herbal, atau obat-obatan lainnya untuk mencegah perkembangan penyakit Alzheimer. Namun, gaya hidup sehat, termasuk aktivitas fisik yang intens, diet sehat, hingga kontrol kondisi kronis seperti tekanan darah tinggi atau diabetes, dapat membantu mengurangi risiko kemunculan Alzheimer.

Meskipun tidak ada bukti konklusif yang secara langsung mengaitkan perubahan gaya hidup dalam mencegah Alzheimer, penerapan gaya hidup sehat justru mampu memainkan peran kunci dalam meminimalkan kondisi ini.

5. Alzheimer hanya menyerang lansia

Satu mitos yang biasa terdengar tentang Alzheimer adalah tentang kondisinya yang hanya memengaruhi populasi lansia. Meskipun identik dengan manula, tapi ada sebagian kecil orang yang terkena Alzheimer sejak usia 30-an. Penting untuk dicatat bahwa genetika dapat berperan dalam meningkatkan risiko pada kondisi tersebut, bahkan bisa terjadi saat usia muda.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit Alzheimer memang paling sering ditemukan pada orang-orang yang berusia di atas 65 tahun. Namun, faktanya Alzheimer juga bisa menyerang usia sekitar 40 tahun.

Setelah mengupas tuntas mitos-mitos yang mengenai Alzheimer yang tidak perlu dipercaya, semoga Anda terbekali pengetahuan yang cukup mengenai penyakit ini. Untuk mencegah kemunculan Alzheimer, terapkan pola hidup sehat dan aktif, baik fisik maupun pikiran. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko terjadinya penyakit ini di masa mendatang.

[RN/ RVS]