Gangguan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Korban Pasca Gempa

Oleh Novita Permatasari pada 30 Sep 2018, 17:00 WIB
Minimnya fasilitas kesehatan pasca gempa Sulawesi dapat mengancam kesehatan para korban, termasuk gangguan kesehatan gigi dan mulut.
Gangguan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Korban Pasca Gempa (OLA-GONDRONK/AFP)

Klikdokter.com, Jakarta Duka akibat gempa Lombok yang terjadi pada Juli lalu belum usai, Indonesia kembali diguncang gempa bumi di Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9) sore lalu. Gempa bumi dengan magnitudo sebesar 7,4 tersebut disusul dengan tsunami yang menyebabkan kota Palu, Donggala dan Mamuju “lumpuh”. Terjadi kerusakan ratusan bangunan dan sarana umum termasuk fasilitas kesehatan dan air bersih. Kondisi ini bisa mengancam kesehatan warga  yang terdampak termasuk kesehatan gigi dan mulut.

Terbatasnya air bersih akibat gempa

Dikutip dari berbagai sumber, BMKG menyatakan bahwa hingga Minggu (30/9) ini, masih terjadi gempa susulan yang terhitung mencapai 201 kali sejak Jumat lalu. Hingga kini, korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, mencapai 832 orang.

Sementara itu, korban luka mencapai 540 orang dari jumlah pengungsi sebanyak 17 ribu orang.

Info ini diperoleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwonugroho melalui pengamatan langsung di lapangan oleh PMI Pusat di Donggala.

Akibat gempa dan tsunami tersebut, sebagian besar wilayah Palu dan Donggala rata dengan tanah. Berbagai fasilitas pemerintah pun ikut hancur hingga warga kesulitan mendapatkan air bersih. Selain tenaga medis, obat-obatan dan hunian sementara, air bersih masuk ke dalam daftar kebutuhan mendesak para korban.

Jaringan air bersih yang hancur karena gempa menyebabkan sumur-sumur menjadi keruh. Seperti dilansir dari laman Kompas, sebagian warga hanya bisa menampung air dari ceceran air yang mengalir dari pipa-pipa yang bocor.

Gangguan kesehatan gigi dan mulut yang dapat terjadi

Akibat kurangnya air bersih tersebut, tentunya para korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah ini juga akan kesulitan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Membersihkan gigi dengan air ceceran pipa sangat berisiko menyebabkan gangguan kesehatan lainnya.

Dijelaskan oleh drg. Wiena Manggala dari KlikDokter, berikut ini adalah berbagai jenis gangguan kesehatan gigi dan mulut yang harus diwaspadai oleh para warga di pengungsian.

1. Karies gigi

Munculnya lubang pada gigi yang disebabkan oleh bakteri ini sangat mungkin menyerang korban gempa dan tsunami di pengungsian. Sebab, air bersih yang sulit didapatkan terkadang membuat warga akhirnya tidak membersihkan gigi dengan baik dan benar usai makan.

Sisa makanan yang menempel di gigi inilah yang dapat membuat bakteri berkembang, hingga menyebabkan penumpukan plak gigi dan karies. Jika tak segera diatasi, lubang yang timbul akan semakin luas dan dalam, sehingga menyebabkan infeksi pada saluran akar gigi.

2. Radang gusi

Gingivitis atau radang gusi adalah kondisi gusi yang bengkak dan berwarna lebih merah dari biasanya, ditandai dengan keluarnya darah pada saat menyikat gigi. Hal ini bisa terjadi apabila plak dan karang gigi menempel dan menumpuk di tepian gusi.

“Bila tak ditangani dengan segera, radang gusi dapat menjadi semakin parah dan mengarah pada periodontitis, yakni peradangan gusi serius yang menyebabkan rusaknya jaringan lunak serta tulang pendukung gigi,” terang drg. Wiena.

3. Bau mulut

Dalam bahasa medis, bau mulut disebut halitosis. Kondisi ini terjadi karena kesehatan rongga mulut yang tidak terjaga dengan baik, misalnya karena penggunaan air yang tidak terjamin kebersihannya untuk membersihkan gigi dan mulut.

Selain itu, bau mulut juga bisa muncul karena adanya gangguan di sistem pencernaan atau pernapasan yang sangat mungkin menyerang di tengah keterbatasan fasilitas.

4. Sariawan

Akibat kurangnya asupan makanan yang bergizi selama di pengungsian, daya tahan tubuh seseorang akan menurun. Hal inilah yang kemudian dapat menyebabkan korban gempa dan tsunami terkena sariawan.

Menurut drg. Wiena, sariawan umumnya bisa hilang dengan sendirinya dalam waktu 2-3 minggu. Jika sariawan tak kunjung sembuh, penderita harus segera memeriksakan kondisinya ke fasilitas kesehatan yang terdapat di sekitar area pengungsian.

Gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan beberapa daerah di Sulawesi Tengah menyebabkan warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Hal ini pun berdampak pada kemungkinan munculnya gangguan kesehatan gigi dan mulut. Mari doakan agar kondisi infrastruktur yang dibutuhkan di Sulawesi Tengah segera pulih dengan segera turunnya bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana.

[RVS]