Perlukah Time Out Untuk Membuat Anak Disiplin?

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 02 Oct 2018, 16:30 WIB
Seperti dua sisi mata uang, metode disiplin dengan time out memiliki dampak positif dan negatif pada anak. Jadi, perlukah diterapkan?
Perlukah Time Out Untuk Membuat Anak Disiplin? (Tatiana-Gladskikh/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Harus diakui bahwa anak-anak tak selalu bersikap manis. Ada waktu dimana tingkah laku mereka membuat orang tua jengkel. Saat hal itu terjadi, orang tua kerap bingung menentukan sikap. Di satu sisi, orang tua tetap ingin menghadapi anak dengan kasih sayang. Tetapi di sisi lain, orang tua juga ingin mendisiplinkan anak dengan ketegasan.

Sebagai solusi dari masalah tersebut, metode time out mulai banyak diterapkan orang tua. Ini karena metode tersebut dianggap dapat memberikan jalan tengah untuk menghadapi perilaku anak yang cenderung negatif.

Mengenal metode time out

Time out adalah bentuk disiplin “ringan” dimana anak dipisahkan sejenak dari segala bentuk perhatian (time out from attention). Tujuan dari time out adalah agar anak “keluar” sejenak dari situasi sulit, sampai ia dapat mengontrol dirinya.

Time out bukanlah hukuman, melainkan salah satu cara mengajarkan anak untuk mengelola emosi dan menenangkan diri.  Secara teori, metode ini sudah dapat diterapkan sejak anak usia 9 bulan. Namun, para pakar perkembangan anak menyatakan 3 tahun adalah usia yang tepat untuk memulainya.

Jika Anda ingin mempraktikkan metode time out, buatlah kesepakatan dengan anak terlebih dahulu. Tentukan area khusus untuk melakukan time out. Area tersebut dapat berupa ruang tertutup maupun terbuka, yang penting Anda dan si Kecil masih dapat saling melihat. Setelah itu, atur durasi time out. Umumnya, 5–10 menit sudah cukup untuk balita. Dan, yang tak kalah penting adalah menentukan batasan perilaku yang memerlukan time out.

Saat melakukan time out, orang tua tidak perlu menggunakan banyak kata-kata. Cukup sampaikan perilaku apa yang membuat Anda menerapkan time out. Misalnya, saat anak memukul adiknya, cukup katakan: “time out, memukul”. Selama masa time out, tidak perlu menceramahi anak tentang perbuatannya, biarkan ia mengintrospeksi dan menenangkan dirinya. 

1 of 2

Manfaat metode time out

Time out memiliki dampak positif pada proses mendisiplinkan anak. Melalui metode ini, anak diharapkan mampu mengenali dirinya, kesalahannya, dan bagaimana memperbaiki diri tanpa merasa ditekan oleh orang tuanya. Metode ini pun dapat memberi waktu bagi orang tua untuk menenangkan diri.

Namun, layaknya metode pengasuhan anak yang lain, time out pun memiliki sejumlah dampak negatif. Seorang psikiatri asal University of California, Daniel J. Siegel, mengatakan bahwa time out dapat memengaruhi otak anak yang tengah berkembang. Menurut Siegel, time out bisa membuat anak merasa ditolak, terisolasi, bahkan dipermalukan. Hal tersebut akan memengaruhi neuroplastisitas atau kemampuan otak untuk beradaptasi sehingga anak akan kerap merasa bersalah, tumbuh menjadi pemalu dan rendah diri.

Di samping itu, tak semua anak cocok dengan metode time out. Pada anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) misalnya, perilaku agresif mungkin disebabkan kondisi tersebut, sehingga time out tidak tepat untuk diterapkan.

Perlukah diterapkan?

Time out memiliki banyak manfaat, juga efek samping merugikan. Lantas, perlukah metode ini diterapkan ketika mengasuh anak? Jawaban dari pertanyaan ini dikembalikan lagi ke Anda masing-masing.

Namun pada dasarnya, time out boleh saja dilakukan. Selama diterapkan dengan cara yang tepat, metode ini akan menolong Anda mengasuh anak dengan kasih sayang sekaligus disiplin.

Nah, jika Anda hendak menerapkan metode time out, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak melenceng dari aturan:

  • Sebelum menerapkan metode time out, pastikan orang tua menyediakan lingkungan yang penuh kasih sayang pada anak. Hal ini bertujuan agar si Kecil mengerti bahwa time out diberlakukan karena perilakunya yang tidak baik, bukan karena orang tuanya berhenti menyayanginya.
  • Cari tahu penyebab berubahnya perilaku anak. Jika anak melakukan tindakan yang negatif, jangan buru-buru mengatakan “time out”. Cari tahu apakah anak merasa lapar, bosan, atau ia sedang sakit. Bila memang anak memukul karena ia lapar, katakan padanya bahwa saat merasa lapar bukan berarti boleh memukul.
  • Komunikasi itu penting. Time out―dan metode disiplin apapun―tidak boleh memisahkan ikatan orang tua dan anak. Justru seharusnya membuat orang tua dan anak semakin mengenal diri masing-masing. Jadi, agar bisa mencapai hal ini, ajak anak bicara setelah time out menggunakan bahasa sederhana dan kalimat positif yang mudah dimengerti.

Jadi, apakah Anda merasa perlu menerapkan metode time out agar anak bersikap lebih disiplin? Jika ya, jangan lupa untuk memperhatikan segala yang telah disampaikan, agar penerapan metode ini benar-benar memberikan manfaat besar bagi Anda dan si Kecil.

[NB/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓