Time-Out, Metode Mendisiplinkan Anak yang Patut Dicoba

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 07 Apr 2020, 15:53 WIB
Ada banyak cara mendisiplinkan anak. Salah satunya adalah metode time-out. Apa itu metode time-out pada anak? Efektifkah metode tersebut?
Time-Out, Metode Mendisiplinkan Anak yang Patut Dicoba

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu peran orang tua adalah mengajarkan kedisiplinan agar anak punya perilaku yang baik dan positif. Namun, mendisiplinkan anak tak perlu dilakukan dengan kekerasan yang dapat melukai perasaannya. Salah satu yang dapat Anda terapkan adalah metode time-out pada anak.

Mengenal Metode Time-Out

Istilah time-out sudah mulai dikenal sejak tahun 1950-an oleh seorang psikolog bernama Arthur Staats. Saat itu, Staats mengembangkan metode ini untuk menangani anak-anak bermasalah yang sulit untuk dikendalikan.

Kini, metode time-out dikenal sebagai salah satu cara mendisiplinkan anak, ketika mereka melakukan sesuatu yang benar-benar tidak bisa diterima.

Pada prinsipnya, metode ini dilakukan dengan memindahkan anak dari suatu situasi yang membuat perilakunya tak terkendali ke situasi lain yang tenang. Biasanya, ada satu lokasi khusus di rumah yang dipilih untuk menjadi lokasi time-out.

Sebagai contoh, ketika si Kecil menangis tak terkendali di ruang tamu. Orang tua bisa melakukan time-out dengan membawa si Kecil ke sebuah ruangan dan membiarkannya sendirian di sana selama beberapa menit hingga tenang.

Dengan melakukan ini, anak seharusnya akan perlahan menjadi lebih tenang. Di sisi lain, orang tua pun jadi lebih bisa mengendalikan emosi. Setelah time-out selesai, orang tua bisa berdiskusi dengan anak dengan kepala dingin.

Artikel lainnya: Tips untuk Membuat Anak Disiplin

Namun demikian, penting untuk diketahui bahwa time-out tak selalu menjadi solusi andalan jika anak rewel atau tak bisa diatur. Time-out sebaiknya dilakukan pada keadaan tertentu saja, seperti:

  1. Jika si Kecil Melakukan Tindakan yang Menyakiti Orang Lain

Misalnya, jika si Kecil memukul temannya atau melempar mainan ke pengasuhnya, orang tua dapat menerapkan time-out. Dengan demikian, si Kecil memahami bahwa tindakannya tersebut sudah kelewat batas.

  1. Jika si Kecil Melakukan Tindakan yang Membahayakan Dirinya

Jika si Kecil mengekspresikan amarah dengan tindakan yang menyakiti diri sendiri. Misalnya, saat anak menjambak rambutnya sendiri, metode time-out bisa membantu si Kecil mengerti tindakannya tidak disukai orang tua.

  1. Jika Orang Tua Sudah Memperingatkan Anak, tapi Tak Dihiraukan

Jika orang tua sudah memperingatkan anak tentang konsekuensinya, tapi si Kecil melanggar kesepakatan dan tak menghiraukannya, time-out bisa dilakukan. Tujuannya agar anak mengerti bahwa melanggar kesepakatan adalah hal yang benar-benar tidak boleh dilakukan.

Artikel lainnya: Tips Melatih Balita agar Disiplin Makan

1 of 3

Manfaat Metode Time-Out

Ilustrasi Metode Time-Out pada Anak
Ilustrasi Metode Time-Out pada Anak

Metode ini banyak dipraktikkan oleh orang tua karena mendislipinkan anak dengan cara ini tidak melibatkan kekerasan fisik serta teriakan. Dengan memindahkan si Kecil ke suatu lokasi yang lebih tenang, anak serta orang tua sama-sama bisa menenangkan diri dan mengontrol diri sendiri.

Setelah emosi dan perasaan sudah lebih tenang, kedua pihak bisa membicarakan segala sesuatu dengan kepala dingin.

Selain itu, anak akan belajar untuk mengerti mana tindakan yang dilakukannya sudah melampau batas. Secara perlahan, si Kecil pun akan mengerti untuk tidak mengulangi hal tersebut lagi.

 

2 of 3

Cara Mendisiplinkan Anak dengan Metode Time-Out

Ilustrasi Metode Time-Out pada Anak
Ilustrasi Metode Time-Out pada Anak

Agar metode mendisiplinkan anak ini efektif, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua saat menjalankannya:

  1. Pilih Lokasi yang Tepat di Dalam Rumah untuk Menerapkannya

Time-out umumnya dilakukan pada lokasi yang sama di dalam rumah. Sebaiknya pilih lokasi yang mudah dicapai dan mudah diawasi orang tua. Misalnya, jika Anda banyak menghabiskan waktu di ruang keluarga, pilih ruangan atau lokasi di dekat ruang keluarga sebagai lokasi time-out.

  1. Jangan Terlalu Lama

Hindari melakukan time-out dalam waktu terlalu lama. Alih-alih menjadi tenang, metode time-out yang terlalu lama bisa membuat si Kecil menjadi marah atau melakukan perilaku yang destruktif.

Salah satu cara mudah untuk menentukan waktu time-out adalah dengan mengikuti usia anak. Misalnya, 3 menit untuk anak berusia 3 tahun, 4 menit untuk anak berusia 4 tahun, dan seterusnya.

  1. Sebutkan Alasan yang Jelas

Agar anak memahami apa yang sedang terjadi, Anda harus menjelaskan secara spesifik kepada mereka mengapa metode time-out harus dilakukan. Misalnya, ”Adik harus diam di kursi itu karena adik tadi memukul Kakak”.

Sebaliknya, alasan yang kurang jelas seperti ”Adik tadi bersikap kasar kepada kakak” harus dihindari karena sulit untuk dipahami anak, terutama yang masih kecil.

  1. Buat Aturan yang Jelas Saat Time-Out

Umumnya, orang tua akan membuat peraturan selama time-out diterapkan. Misalnya, anak tak boleh bicara, orang tua tak akan mengajak anak bicara, anak tidak boleh bermain atau menonton televisi selama metode time-out.

Selain itu, penting juga untuk melarang anak melakukan tindakan destruktif seperti menggebrak meja atau pintu. Jika anak melakukannya, orang tua dapat memperpanjang waktu time-out.

  1. Pastikan Suasana Rumah Kondusif

Butuh kerja sama dari seluruh anggota keluarga saat metode pendisiplinan ini dilakukan. Jangan sampai saat orang tua mendisiplinkan si adik, sang kakak malah menyetel lagu anak-anak dengan volume keras atau mengajak adiknya bermain.

Metode Time-Out, Adakah Dampak Negatifnya?

Meski bisa jadi salah satu alternatif cara  mendisiplinan anak, ada pula ahli yang kontra terhadap metode ini. Pertimbangannya adalah karena time-out bisa menyebabkan anak merasa ditolak atau diasingkan oleh orang tuanya.

Hal ini khususnya bisa terjadi pada anak yang masih sangat kecil, yang belum dapat memahami tentang disiplin.

Oleh sebab itu, agar metode time-out berguna bagi anak dan tak memberi dampak negatif, perhatikan kesiapan si Kecil. Umumnya cara ini mulai bisa digunakan saat anak menginjak usia 3 tahun ke atas.

Time-out pada anak memang dapat mendisiplinkan si Kecil. Meski demikian, jangan lupa untuk memperhatikan segala efek positif dan negatifnya, agar penerapan metode ini memberikan manfaat bagi Anda dan si Kecil secara optimal. Cari tahu tips pola asuh lainnya di aplikasi KlikDokter.

[HNS/RPA]

Lanjutkan Membaca ↓