Kenali Komplikasi Operasi Plastik yang Dijalani Ratna Sarumpaet

Oleh dr. Nadia Octavia pada 05 Okt 2018, 08:50 WIB
Operasi plastik yang dijalani oleh Ratna Sarumpaet bisa menimbulkan komplikasi. Apa saja yang dapat terjadi?
Kenali Komplikasi Operasi Plastik yang Dijalani Ratna Sarumpaet (Foto: Immanuel Antonius/Liputan6)

Klikdokter.com, Jakarta Dulu, operasi plastik kebanyakan dilakukan oleh segelintir orang yang bekerja di bidang yang mengutamakan penampilan seperti artis atau model. Tapi sekarang? Tindakan operasi plastik sudah menjamur dan banyak orang dari berbagai usia serta profesi yang melakukannya. Tak terkecuali lansia. Bahkan beberapa waktu lalu, aktivis Ratna Sarumpaet (70) juga menjalani operasi plastik berupa sedot lemak pada wajah.

Tindakan operasi plastik yang populer dilakukan pada lansia (di atas 65 tahun) adalah facelift, operasi kelopak mata, dan sedot lemak. Sebelum melakukan operasi plastik, ada sejumlah hal yang perlu Anda persiapkan. Salah satunya membekali diri dengan informasi-informasi seputar operasi plastik, termasuk komplikasi yang paling umum terjadi.

Berikut ini adalah komplikasi operasi plastik yang dapat terjadi pada lansia:

  • Pembengkakan dan hematoma

Hematoma merupakan penumpukan darah di bawah kulit yang diakibatkan adanya pembuluh darah di bawah kulit yang pecah. Kondisi ini juga ditandai dengan memar yang disertai nyeri. Sebenarnya hematoma tidak hanya dapat terjadi di kulit, tetapi juga di lapisan otak atau di organ dalam tubuh, seperti paru, hati, dsb.

Hematoma sebetulnya merupakan risiko hampir semua tindakan operasi (tidak hanya operasi plastik). Hematoma merupakan salah komplikasi yang paling umum setelah facelift, sehingga wajah pasien sering kali tampak lebam dan bengkak.

  • Kerusakan saraf

Kerusakan saraf yang ditandai dengan kelemahan atau kesemutan merupakan salah satu komplikasi paling umum usai operasi plastik. Meski begitu, pada tindakan operasi lain juga bisa berpotensi menyebabkan kerusakan saraf. Kebanyakan wanita mengalami penurunan sensitivitas setelah operasi implan payudara, bahkan 15% di antaranya mengalami kehilangan sensitivitas permanen pada area puting payudara setelah pemasangan implan.

  • Infeksi

Pada dasarnya hampir semua tindakan operasi memiliki risiko infeksi sesudahnya. Operasi implan payudara, misalnya, bisa menimbulkan selulitis (infeksi pada kulit). Terlebih jika lansia memiliki riwayat penyakit lain seperti diabetes, risiko infeksi pun dapat lebih tinggi. Untuk kasus yang serius, infeksi membutuhkan pengobatan berupa injeksi antibiotik.

  • Jaringan parut

Tindakan medis apa pun yang membutuhkan sayatan pada kulit dapat menyebabkan risiko jaringan parut di kulit, termasuk operasi plastik. Pada beberapa orang, jaringan parut setelah operasi bisa menyebabkan timbulnya keloid. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi terbentuknya bekas luka pada seseorang, antara lain kedalaman luka, ukuran luka, lokasi luka dan faktor genetik.

  • Kerusakan organ dalam

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi setelah operasi sedot lemak adalah terjadinya perforasi (robekan). Selama proses sedot lemak, kanula atau alat operasi yang digunakan oleh dokter berpotensi menyebabkan perforasi. Misalnya, jika operasi sedot lemak dilakukan pada perut, dapat menyebabkan robekan pada usus. Untuk mengatasinya, dibutuhkan tindakan operasi tersendiri, bahkan jika tidak segera ditangani bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian.

  • Emboli

Emboli dapat terjadi ketika jaringan lemak yang "longgar" memasuki peredaran darah melalui robekan pembuluh darah – yang terjadi saat prosedur operasi sedot lemak. Serpihan-serpihan lemak dapat "terjebak" di dalam pembuluh darah dan menyumbat pembuluh darah di paru-paru, bahkan bisa juga masuk ke otak. Gejala  emboli paru adalah sesak napas atau kesulitan bernapas.

Semua tindakan operasi, termasuk operasi plastik, dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Terlebih pada lansia yang daya tahan tubuhnya cenderung sudah menurun atau memiliki penyakit seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan sebagainya.

Karena itu, bagi Anda lansia yang ingin melakukan tindakan operasi plastik - seperti yang dijalani aktivis Ratna Sarumpaet - sebaiknya berkonsultasi lebih rinci dengan dokter bedah plastik Anda. Tanyakan juga mengenai komplikasi yang umum terjadi pascaoperasi. Pastikan juga bahwa dokter bedah plastik yang menangani Anda memang kompeten dalam melakukan tindakan operasi plastik tersebut.

[RS/ RVS]