Waspadai Dehidrasi pada Anak Korban Gempa Sulawesi

Oleh Ayu Maharani pada 08 Oct 2018, 14:30 WIB
Akibat rusaknya fasilitas air bersih, anak korban gempa Sulawesi rentan terkena dehidrasi. Kenali gejalanya agar bisa langsung ditangani.
Waspadai Dehidrasi pada Anak Korban Gempa Sulawesi (By-Ann-in-the-uk/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah yang terjadi Jumat (28/9) lalu benar-benar menghancurkan segala macam fasilitas publik, termasuk fasilitas air bersih. Akibatnya air bersih menjadi sulit didapat. Bahkan air minum yang dikirimkan sebagai bantun pun harus dijatah. Kondisi ini tentu saja dapat berimbas terjadinya kondisi dehidrasi pada korban bencana termasuk pada anak-anak.  

Alhasil, kombinasi antara lingkungan yang tidak higienis dan kurangnya cadangan air bersih untuk minum menjadi pemicu utama terjadinya diare pada anak korban bencana alam. Nah, agar bisa tertangani dengan cepat dan tepat, kenalilah gejala dehidrasi pada anak berikut ini sekaligus cara mengatasinya.

Gejala dehidrasi pada anak

Terkadang, penanganan dehidrasi pada anak bisa terlambat karena Anda tak mengenali apa saja tanda-tandanya. Oleh sebab itu, ketahui gejala dehidrasi pada anak berikut ini agar Anda bisa langsung menangani saat anak mengalaminya:

  • Mulut kering dan bibir pecah-pecah
  • Urine berwarna gelap
  • Mudah lelah, lesu, dan mengantuk
  • Tidak buang air kecil sama sekali dalam kurun waktu 8 jam
  • Kulit kering dan terasa dingin
  • Napas serta detak jantung berdegup kencang.

Sedangkan, gejala dehidrasi pada bayi meliputi:

  • Menyusutnya ubun-ubun
  • Selalu mengantuk
  • Tidak keluar air mata saat menangis
  • Mata terlihat cekung ke dalam
  • Popok kering karena tidak buang air.

 

Menurut dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter, adanya percepatan detak jantung biasanya disebabkan oleh tekanan darah yang menurun. Sehingga, kerja jantung otomatis akan meningkat agar darah yang terpompa bisa tersalurkan ke seluruh tubuh.

Namun, pada kondisi dehidrasi terjadi kekurangan suplai oksigen di pembuluh darah perifer, sehingga ujung-ujung jari kaki dan tangan akan terasa dingin sekaligus memucat. Jadi, apabila anak Anda mengeluhkan tangan dan kakinya terasa dingin, bisa jadi ia tengah mengalami dehidrasi.

Hati-hati, dehidrasi yang terabaikan bisa memicu terjadinya gangguan pada ginjal dan saluran kemih, gangguan pencernaan, gangguan peredaran darah, gangguan saraf, serta gangguan metabolik.

Saat kondisi pengungsian pengap dan sangat panas, anak-anak juga rentan terkena heatstroke karena sistem saraf pusatnya yang belum sempurna. Heatstroke lantas akan menyebabkan dehidrasi parah yang bila tidak cepat ditangani bisa berakibat fatal, yakni menyebabkan kematian.

1 of 2

Atasi dehidrasi dengan cara ini!

Dijelaskan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, cara yang paling efektif untuk mengatasi dehidrasi adalah dengan mengganti cairan yang hilang. Sumbernya pun bisa beragam, tergantung dari kondisi Anda. Berikut ini adalah cara menangani dehidrasi yang disarankan:

  • Berikan anak minum air putih secara perlahan hingga urine kembali jernih. Hindari memberikan langsung air minum dalam jumlah banyak, karena hanya akan membuat anak mual, lalu muntah. Hal ini akan membuat anak semakin banyak kehilangan cairan.
  • Berikan anak cairan rehidrasi oral. Jika sulit mendapatkannya, Anda dapat menggantinya dengan susu atau buah yang mengandung banyak air. Sebuah studi dari American Journal of Clinical Nutrition menjelaskan bahwa susu skim ternyata bisa meningkatkan hidrasi secara optimal sekaligus menyehatkan, karena mangandung protein, karbohidrat, vitamin dan mineral. Selain itu, anak-anak umumnya lebih tertarik menenggak susu ketimbang air putih yang tidak berasa.
  • Khusus pada bayi, berikanlah ASI secara berkala.
  • Berikan anak air kelapa. Alternatif lain selain air putih, susu, atau buah adalah air kelapa. Anda juga bisa memberikan minuman olahraga yang mengandung ion.

Sangat penting untuk mengetahui gejala dehidrasi pada anak, terutama di saat kondisi gempa. Dengan mengenali tanda-tandanya, orang tua serta relawan dapat segera mengatasi kondisi dehidrasi. Meski sering disepelekan, waspadalah, dehidrasi juga bisa menyebabkan kematian.

Jadi, meski di tengah keterbatasan, para korban gempa Sulawesi yang sedang kesulitan mendapatkan air bersih harapannya dapat mengupayakan agar kebutuhan cairan anak-anaknya tetap tercukupi. Setidaknya, usahakan agar anak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung agar tidak kepanasan dan berujung pada dehidrasi.

Hingga satu pekan setelah gempa terjadi di Sulawesi, bantuan sudah mulai mengalir ke lokasi bagi para korban bencana. Dilansir dari Liputan6, salah satu bantuan yang mulai disalurkan adalah instalasi pengolahan air mobile oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Semoga bantuan tersebut bisa memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga, sehingga warga terutama anak-anak bisa terhindar dari kondisi dehidrasi. 

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓