Antisipasi Tetanus di Lokasi Gempa, Ini Penyebab dan Gejalanya!

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 08 Oct 2018, 16:37 WIB
Penyakit tetanus rawan dialami orang yang tinggal di lokasi gempa. Kenali penyebab dan gejalanya agar Anda lebih waspada.
Antisipasi Tetanus di Lokasi Gempa, Ini Penyebab dan Gejalanya! (Fery-Pradolo/Liputan6)

Klikdokter.com, Jakarta Untuk mencegah korban gempa dan para relawan yang bertugas di wilayah Sulawesi Tengah terkena tetanus, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan vaksin kepada warga yang tinggal di lokasi gempa. Dilansir dari Liputan6, Kementerian Kesehatan bersama dengan Bio Farma menyediakan 1000 vial vaksin Td (tetanus dan difteri) dan Anti Tetanus Serum ke lokasi gempa di Palu dan Donggala.

Ya, tetanus merupakan salah satu penyakit berbahaya dan mematikan yang bisa dialami oleh orang-orang yang berada dalam lokasi bencana, seperti yang terjadi di daerah Sulawesi Tengah. Yang rentan mengalaminya adalah orang-orang yang mengalami luka yang dalam dan kotor, serta tidak memiliki riwayat imunisasi tetanus yang lengkap sebelumnya.

Selain itu, tetanus juga rentan dialami oleh bayi yang baru saja dilahirkan melalui prosedur yang tidak steril, misalnya jika persalinan dilakukan sendiri di rumah atau tidak dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih.

Bahaya yang mengintai

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani ini umumnya menunjukkan gejala 1-3 minggu setelah luka terjadi. Gejala awalnya berupa kekakuan otot, bermula dari otot di daerah rahang dan wajah. Kakunya otot tersebut menyebabkan penderita tetanus sulit untuk membuka mulut, wajahnya menjadi terlihat datar, sehingga sulit menunjukkan ekspresi.

Biasanya 1-2 hari kemudian, kaku pada otot tersebut akan menjalar ke daerah lengan dan tungkai, menyebabkan anggota tubuh tersebut menjadi sulit digerakkan. Pada kondisi yang berat, tetanus bisa menyerang otot-otot di bagian dalam tubuh, termasuk kerongkongan. Bila sudah demikian, maka penderitanya akan sulit menelan apapun, termasuk air.

Kemudian bila menyerang daerah saraf, penderita tetanus akan sangat sensitif terhadap suara, cahaya, dan sentuhan. Setiap kali mendengar suara keras, terpapar cahaya, atau sentuhan, ia akan mengalami gejala berupa kejang-kejang, yang secara medis disebut dengan istilah kejang rangsang.

Tak hanya kekakuan otot, penderita tetanus juga akan mengalami peningkatan suhu tubuh (bisa mencapai suhu 40 derajat Celcius), tekanan darah meningkat, dan denyut jantungnya sangat cepat. Jika tak segera ditangani, seluruh kondisi tersebut akan berujung dengan kematian.

1 of 3

Penanganan pada pasien tetanus

Tak hanya gejalanya yang berbahaya, menangani tetanus pun tidak mudah. Penderitanya membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, serta memerlukan berbagai jenis pengobatan, di antaranya adalah:

  • Antibiotik, seperti penisilin atau metronidazole, untuk membunuh kuman Clostridium tetani yang menjadi penyebab tetanus.
  • Pelemas otot, seperti diazepam, yang diberikan secara terus menerus melalui infus untuk membantu meredakan kejang dan kekakuan otot.
  • Vaksinasi tetanus untuk membantu memicu daya tahan tubuh penderita untuk melawan kuman penyebab tetanus.
  • Anti Tetanus Serum (ATS) atau Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG) untuk menetralisir toksin yang sudah terlanjur beredar dalam tubuh.
  • Perawatan luka yang baik agar mencegah tetanus semakin berat. Perlu diperhatikan bahwa luka terbuka yang terjadi pada penderita tetanus justru tidak boleh dijahit tertutup sempurna, melainkan harus dibiarkan agak terbuka selama beberapa waktu.

Penanganan tetanus yang kompleks ini bukan hanya membutuhkan fasilitas kesehatan dengan peralatan dan obat yang lengkap, melainkan juga membutuhkan penanganan multidisiplin oleh dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis bedah, dokter spesialis anestesi, dan berbagai pihak lainnya.

2 of 3

Mencegah tetanus terjadi pada korban gempa

Meski gejalanya berat dan sangat berbahaya, sebenarnya tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah. Dua kunci utama dalam pencegahan tetanus adalah perawatan luka dan vaksinasi yang tepat. Nah, bila Anda berada di lokasi gempa, lakukan ini agar terhindar dari penyakit tetanus.

  • Perawatan luka

Jika ada luka terbuka, luka terbuka harus segera dicuci dengan air mengalir yang bersih dan sabun. Cara ini akan mematikan kuman penyebab tetanus. Hindari untuk mencoba mengobati luka sendiri, mintalah bantuan kepada tenaga kesehatan terlatih yang bertugas di tenda kesehatan.

  • Vaksinasi yang tepat

Pastikan memiliki vaksinasi tetanus yang lengkap, yakni telah divaksinasi DPT saat masa kanak-kanak (usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun), vaksinasi Td pada usia 10 tahun dan 18 tahun, dilanjutkan dengan vaksinasi Td saat dewasa setiap 10 tahun sekali.

Jika  imunisasi tetanus tidak lengkap, segera hubungi petugas kesehatan saat luka terbuka terjadi. Petugas kesehatan akan menyuntikkan vaksinasi tetanus disertai dengan pemberian Anti Tetanus Serum (ATS) untuk mencegah infeksi.

Tetanus memang menjadi salah satu penyakit yang rentan dialami oleh relawan dan korban gempa Sulawesi. Namun, dengan tindakan pencegahan yang tepat dan menangani gejalanya sejak dini, bahaya tetanus bisa dihindari. Bila Anda atau kerabat mengalami kejang otot seperti yang dijelaskan di atas, periksakan diri ke dokter untuk segera mendapatkan penanganan dini.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓