Generasi Milenial Rawan Alami Gangguan Mental

Oleh dr. Reza Fahlevi pada 10 Oct 2018, 09:00 WIB
Generasi milenial rentan mengalami berbagai masalah kesehatan. Apakah gangguan mental adalah salah satunya?
Generasi Milenial Rawan Alami Gangguan Mental (Antonio Guillem/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tak sedikit dari para generasi milenial kini merasa sedang berada di puncak kehidupan. Padahal, generasi ini juga diketahui rentan mengalami beberapa masalah kesehatan. Terdapat perbedaan gaya hidup yang signifikan antara generasi milenial dengan generasi sebelumnya. Hal ini terkait dengan berbagai kemajuan teknologi yang mengiringi proses tumbuh kembang generasi ini. Sedikit banyak hal ini tak hanya bisa berpengaruh terhadap kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental.

Mengapa generasi milenial rentan mengalami gangguan mental?

Remaja dan dewasa muda merupakan masa paling banyak terjadi perubahan, seperti kenaikan kelas dan jenjang pendidikan yang semakin tinggi, masuk universitas, mendapat pekerjaan  baru, menikah, hingga memiliki anak dan membina keluarga.

Bagi sebagian orang, jenjang kehidupan di atas bisa jadi menantang sekaligus menyenangkan, tapi bagi sebagian lainnya ini bisa menjadi beban dan menimbulkan masalah mental seperti gangguan penyesuaian dan depresi. Selain itu, remaja yang tinggal di daerah konflik, daerah bencana, dan daerah epidemik penyakit tertentu juga memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami konflik karena di daerah-daerah tersebut beban mental dirasakan lebih lebih tinggi. Selanjutnya, perkembangan teknologi yang seharusnya bisa bermanfaat besar untuk kehidupan, justru bisa memberikan tekanan lebih pada remaja dan dewasa muda.

Menurut data dari penelitian, sebagian besar masalah gangguan kesehatan mental dimulai pada usia 14 tahun. Namun, sebetulnya ini merupakan fenomena gunung es. Hanya sebagian besar kecil yang terdeteksi, sementara sebagian besar lainnya luput.

Tingginya masalah mental pada remaja dan dewasa muda terbukti dari tingginya angka depresi, bunuh diri, dan tingginya angka penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang pada usia ini. Bagi orang tua ataupun orang-orang yang hidup di sekitar mereka, mendeteksi masalah mental pada remaja sejak dini sangat penting sebelum mereka terjerumus ke dalam perilaku yang (lebih) buruk.

1 of 2

Mencegah gangguan mental pada generasi milenial

Banyak hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan masalah mental pada generasi milenial, yaitu dimulai dengan pengenalan secara dini tanda dan gejala masalah mental. Baik orang tua, guru, atau orang-orang lain di sekitarnya berperan penting dalam membantu para generasi ini menghadapi berbagai tantangan hidup sehari-hari di rumah, lingkungan masyarakat, dan sekolah, atau tempatnya bekerja.

Baik sekolah maupun tempat kerja sebaiknya memiliki dukungan psikososial dan pelatihan untuk mendeteksi dan memiliki manajeman awal terkait timbulnya masalah kesehatan di kedua lingkungan tersebut.

Para remaja dan dewasa muda juga perlu diberikan edukasi untuk menggunakan teknologi dengan bijak dan bagaimana cara beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang kerap berubah-ubah—apalagi ditambah dengan dimulainya politik yang diketahui juga bisa berdampak pada kondisi mental. Dengan demikian, diharapkan masalah mental pada generasi milenial bisa dicegah.

Kapan perlu mendapatkan pertolongan tenaga profesional?

Jika masalah mental pada generasi milenial tidak bisa diatasi dengan dukungan psikososial, pertolongan dari psikolog ataupun psikiater dianggap penting untuk mengatasi masalah kesehatan mental remaja dan dewasa.

Sayangnya, sebagian masyakarat Indonesia termakan stigma, yang memandang rendah orang-orang yang melakukan konsultasi dengan psikologi atau psikiater—dianggap tabu, gila, atau memalukan. Padahal, pola pikir seperti perlu diubah demi mengurangi masalah kesehatan mental di Indonesia.

Perlu ditekankan bahwa sebenarnya sebagian besar para remaja dan dewasa mental memiliki masalah kesehatan mental dengan derajat keberatan yang berbeda-beda, sehingga merupakan hal yang wajar untuk mendapatkan pertolongan dari psikolog maupun psikiater. Justru, jika kesehatan mental berlangsung berlarut-larut, dampak negatifnya akan makin berat. Pada kasus masalah mental yang berat, pertolongan dari psikolog atau psikiater harus didapatkan sedini mungkin untuk mencegah perilaku berbahaya seperti menyakiti diri sendiri atau orang lain, hingga percobaan dan/atau tindakan bunuh diri.

Bisa jadi merupakan kontribusi gaya hidup atau perkembangan teknologi, generasi milenial diketahui rentan terhadap beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti obesitas, hingga stroke. Tak hanya kesehatan fisik, nyatanya generasi milenial juga rawan mengalami gangguan mental. Meski tuntutan hidup tak ada habisnya, cobalah untuk tetap terhubung dengan orang lain. Ini dapat meningkatkan kesejahteraan mental, khususnya jika Anda mengalami suasana hati yang muram. Jika tak ada lagi orang-orang di sekitar yang bisa Anda andalkan, jangan ragu, untuk mendapatkan bantuan dari profesional.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓