Memasuki Musim Hujan, Waspada Depresi Musiman Ini

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 10 Oct 2018, 09:30 WIB
Musim hujan sering membuat suasana hati menjadi ikut mendung. Hati-hati, bisa jadi ini merupakan tanda-tanda gangguan depresi musiman!
Memasuki Musim Hujan, Waspada Depresi Musiman Ini (Antonio Guillem/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda melihat, atau bahkan mengalami sendiri, saat musim hujan tiba suasana hati pun ikut sendu? Atau Anda pernah tinggal di negara dengan empat musim selama bertahun-tahun dan merasa stres atau depresi saat musim dingin tiba? Jika pernah, bisa jadi ini merupakan seasonal affective disorder (SAD) atau sering disebut sebagai depresi musiman atau winter blues.

Depresi musiman merupakan tipe gangguan depresi mayor yang berulang, yang mana episode depresinya terjadi pada musim yang sama setiap tahun. Selain depresi, SAD juga bisa menggambarkan keluhan afektif lainnya, seperti hipomania, yang terjadi musiman. Gangguan kesehatan mental ini sering dijumpai di negara empat musim. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi di negara tropis seperti Indonesia, ketika musim hujan berlangsung lama, atau Anda pernah tinggal di negara empat musim.

Sering kali, keadaan ini muncul pada bulan-bulan ketika paparan sinar matahari berkurang. Misalnya saat musim gugur atau musim dingin dan membaik kembali saat musim semi tiba. Meski demikian, keadaan ini juga dapat ditemukan saat musim panas, di mana paparan sinar matahari cukup banyak. Meski demikian, kasus ini terbilang cukup jarang terjadi.

Apa penyebab terjadinya depresi musiman?

Sayangnya, hingga kini SAD masih belum bisa dipahami sepenuhnya. Ada berbagai kemungkinan faktor yang turut berkontribusi terhadap kemunculan SAD. Beberapa di antaranya adalah faktor psikologi, genetik, dan lingkungan.

Perubahan musim dapat menyebabkan kurangnya paparan sinar matahari. Dalam situasi tersebut biasanya malam hari menjadi lebih lama dan siang hari lebih pendek. Hal ini bisa memengaruhi ritme sirkadian manusia yang kemudian berpengaruh terhadap timbulnya SAD.

Selanjutnya, penyimpangan dari ritme sirkadian ini dapat memengaruhi produksi hormon melatonin dalam tubuh. Hormon ini berpengaruh terhadap pola tidur dan mood seseorang.

Variasi genetik diperkirakan turut memiliki kontribusi terhadap kemunculan SAD. Perbedaan sempat ditemukan antara genetik penderita SAD dan yang tidak, terutama pada gen 5-HTTLPR dan gen 5-HT2A.

Pendapat lain menyatakan bahwa kekurangan vitamin D juga berkontribusi terhadap munculnya SAD. Vitamin D turut berpengaruh terhadap produksi neurotransmiter serotonin, yang memiliki pengaruh terhadap mood.

1 of 3

Mengenali gejala depresi musiman

Dikatakan oleh dr. Ellen Theodora kepada KlikDokter, tiga faktor penyebab tersebut bisa berdiri sendiri-sendiri maupun saling terkait. Lebih lanjut, dr. Ellen menjabarkan berbagai gejalanya, yaitu:

  • Merasa sedih atau kosong. Pada anak-anak dan remaja, kondisi ini dapat bermanifestasi sebagai mood yang mudah tersinggung.
  • Hilangnya minat atau kesenangan pada semua aspek atau hampir semua aspek sepanjang hari, hampir setiap hari.
  • Insomnia atau hipersomnia tiap harinya.
  • Agitasi atau redartasi psikomotor.
  • Kelelahan atau hilangnya energi tiap hari.
  • Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak tepat.
  • Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memutuskan sesuatu.
  • Pikiran akan kematian atau bunuh diri yang berulang.
  • Menarik diri dari pergaulan.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Energi terus menurun.
  • Merasa tidak berdaya atau tidak berguna.

Satu  hal yang khas pada depresi musiman adalah, penderitanya sering tidur dan makan lebih banyak, yang hal ini bisa sebabkan berat badan baik. Tidak seperti orang-orang dengan depresi berat yang cenderung sulit tidur dan nafsu makan berkurang.

Penderita depresi musiman juga tidak sekompleks itu untuk memikirkan rencana bunuh diri. Hal ini terjadi karena saat cuaca semakin menghangat, rasa depresi hilang dan para pengidap memiliki harapan untuk kembali menatap hari yang cerah.

2 of 3

Cara mengatasi kesedihan yang datang musiman

Jonathan Alpert, seorang psikoterapis asal Amerika Serikat, mengatakan kepada Huffington Post bahwa ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menangkal depresi musiman, yaitu:

  1. Langkahkan kaki ke luar rumah

Meski cuaca hujan atau dingin, keluarlah dan berjalanlah paling tidak selama 10 menit dalam sehari. Cahaya matahari akan masuk ke dalam otak lewat mata, dan ini bisa memengaruhi sintesis serotonin dan dopamin. Kedua hormon tersebut berperan dalam mood.

  1. Bergeraklah

Pergilah ke gym atau lakukan olahraga di rumah. Latihan aerobik khususnya dapat merangsang endorfin dan membantu suasana hati lebih baik. Ini juga cara tepat untuk usir stres. Dengan pergi ke gym atau kelas yoga misalnya, Anda bisa berinteraksi dengan orang lain, dan interaksi pun bisa membantu depresi.

  1. Pergilah ke luar kota atau luar negeri

Perjalanan ke tempat baru yang memiliki suasana berbeda juga bisa mengobati depresi musiman. Jika bujet menjadi masalah, tak perlu pergi terlalu jauh, kunjungilah keluarga atau sahabat yang tinggal di kota lain. Selain mendapatkan suasana baru, bertemu dengan keluarga atau sahabat bisa menghangatkan dan menceriakan hati.

  1. Bila mungkin, dekatkan diri ke jendela

Anda bisa mengatur meja kerja lebih dekat ke jendela dan sinar matahari. Ini akan membantu Anda untuk mendapatkan cahaya alami yang bisa tingkatkan mood.

  1. Berinteraksi

Seperti gangguan mood lainnya, dukungan dan dorongan dari orang lain bisa membantu Anda meningkatkan semangat yang mulai pudar. Temukan orang-orang yang Anda percaya dan ungkapkan perasaan. Coba, deh, atur jadwal bersama teman-teman seperti pergi ke bioskop atau sekadar ngopi.

  1. Ubah pola pikir

Alih-alih selalu merasa sedih, berpikirlah bahwa musim dingin atau musim hujan adalah kesempatan Anda untuk bisa melakukan aktivitas baru. Mungkin Anda bisa bermain board game, mengobrol lebih dalam bersama pasangan, menekuni hobi, dan masih banyak lagi!

Meski depresi musiman lebih terjadi di negara-negara dengan empat musim, tetapi kondisi ini tak boleh diremehkan. Makin panjangnya musim hujan, maka risiko rasa sendu musiman pun akan makin tinggi. Jika Anda mengalami kondisi ini, tidak ada salahnya juga untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan solusi dan penanganan yang tepat.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓