Dampak Cyberbullying pada Kesehatan Mental Remaja

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 10 Oct 2018, 12:45 WIB
Kasus cyberbullying pada remaja semakin meningkat dari tahun ke tahun. Lalu, apa sajakah dampaknya bagi kesehatan mental remaja?
Dampak Cyberbullying pada Kesehatan Mental Remaja (Fizkes/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Data yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga independen Ipsos pada tahun 2011 menyatakan bahwa 49 persen dari 193 remaja usia 12-15 tahun telah mengalami cyberbullying dan tidak berani melaporkannya. Hal ini berbahaya bagi kesehatan mental remaja tersebut.

Ironisnya, 87 persen dari orang tua atau orang terdekat mereka tidak mengetahuinya. Tak heran, 20 persen dari remaja yang menjadi korban perundungan siber di Inggris akhirnya berpikir untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Menurut jurnal kesehatan Cadernos de Saude Publica, angka kejadian cyberbullying bisa bervariasi dari 6.5 persen hingga 35.4 persen di berbagai penjuru dunia. Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa korban dan pelaku dari cyberbullying biasanya memiliki pengalaman bullying pada masa sebelumnya. Penggunaan internet, kamera web, dan berkirim pesan teks lebih dari tiga jam setiap hari juga berkaitan dengan cyberbullying.

Padahal, UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) telah melarang setiap orang dengan sengaja mendistribusikan informasi elektronik yang mengandung muatan penghinaan atau pencemaran nama baik. Namun ternyata, media sosial tetap menjadi wadah orang untuk mencaci maki tanpa takut tersandung hukum di kemudian hari.

1 of 3

Bentuk kekerasan lewat media elektronik

Aktivitas cyberbullying merupakan salah satu fenomena yang cukup sering menjadi sorotan. Sebab, aktivitas ini merupakan salah satu bentuk kekerasan yang diekspresikan melalui media elektronik.

Salah satu contohnya adalah ketika seseorang mencemooh lewat pesan teks di smartphone, tablet, komputer, atau bahkan melalui media sosial serta forum, di mana orang dapat melihat, berpartisipasi, atau membagikan konten.

Cyberbullying mencakup mengirimkan, mengunggah, atau membagikan konten yang negatif mengenai orang lain dengan tujuan melukai perasaan atau menjatuhkan mental orang tersebut. Hal ini juga termasuk membagikan informasi personal terkait orang lain, yang menyebabkan orang tersebut menjadi merasa malu atau direndahkan.

Media yang paling sering menjadi wadah cyberbullying adalah media sosial, pesan teks, pesan instan, dan e-mail. Tak heran bila remaja yang akrab dengan berbagai platform tersebut akhirnya menjadi salah satu populasi yang paling sering menjadi bagian dari cyberbullying.

2 of 3

Dampaknya pada kesehatan mental remaja

Menurut salah satu penelitian yang dipresentasikan pada rapat tahunan American Psychiatric Association, remaja yang mengalami cyberbullying memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami beberapa gangguan kesehatan mental, terutama bila sebelumnya pernah menjadi korban kekerasan emosional. Penelitian yang dilakukan di salah satu rumah sakit swasta di Westchester County, New York, tersebut mengumpulkan data mengenai penggunaan media sosial dan cyberbullying dari 50 pasien rawat inap yang berusia 13 hingga 16 tahun.

Menurut Samantha B. Saltz, dokter residen di bagian psikiatri anak dan remaja dari University of Miami Miller School of Medicine dan Jackson Memorial Hospital di Florida, para remaja yang merupakan korban dari cyberbullying umumnya lebih cenderung mengalami depresi sedang hingga berat, emosional, dan merasa tidak percaya diri. Riwayat mengalami kekerasan emosional sebelumnya juga dikaitkan secara signifikan dengan perundungan siber ini.

Bahayanya, cyberbullying juga dikaitkan dengan penggunaan zat terlarang serta percobaan bunuh diri. Oleh sebab itu, tenaga profesional kesehatan perlu memahami dampak yang disebabkan oleh interaksi tidak sehat yang terjadi di lingkungan virtual terhadap kesehatan mental dari para remaja.

Harapannya, di Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada hari ini, orang semakin peduli terhadap dampak yang tidak bagi dari perundungan siber tersebut.

Saring konten sebelum mengunggahnya

Meningkatnya penggunaan media sosial dan forum dunia maya membuat hal-hal seperti komentar, foto dan konten yang diunggah oleh setiap orang ke media sosial dapat dengan mudah dilihat oleh orang asing maupun kerabat. Bila konten yang dibagikan bersifat personal, negatif dan bertujuan menyakiti orang lain, dapat menyebabkan pembunuhan karakter orang yang dijadikan topik pembahasan secara permanen.

Terlebih lagi, perkembangan teknologi saat ini semakin memudahkan citra atau reputasi online seseorang dapat diakses oleh sekolah, pemberi kerja, universitas, organisasi, dan berbagai instansi lainnya.

Oleh sebab itu, biasakanlah untuk menyaring konten sebelum mengunggah atau menyebarkannya. Pikirkanlah kembali apakah konten yang akan Anda sebarkan akan merugikan orang lain atau tidak.

Aktivitas cyberbullying terbukti dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mental, terutama bagi para remaja yang akrab dengan segala bentuk platform dunia maya. Mulai sekarang, usahakan untuk lebih bijak saat berada di lingkungan virtual dengan mempertimbangkan konten sebelum mengunggahnya.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓