Kenali Gejala Gangguan Mental pada Anak

Oleh Ayu Maharani pada 10 Oct 2018, 14:15 WIB
Gangguan fisik pada anak lebih mudah terlihat ketimbang gangguan mentalnya. Baca artikel ini dan kenali gejala gangguan mental pada anak.
Kenali Gejala Gangguan Mental pada Anak (JPagetRFPhotos/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, terutama ketika mereka sakit. Saat anak demam tak berkesudahan, Anda cenderung lebih sigap dalam penanganannya. Namun, jika yang terjadi lebih ke sisi psikis anak, seperti anak yang mengalami perubahan perilaku yang signifikan, sebagian orang tua akan kebingungan harus berbuat apa. Padahal, perubahan perilaku ini bisa menjadi penanda adanya gangguan mental pada anak, lho!

Gangguan mental pada anak yang tidak cepat dikenali dan ditangani dengan baik bisa menyebabkan mereka kesulitan “bertahan hidup” saat dewasa kelak. Lebih mengkhawatirkan lagi, dilansir dari Psychology Today, satu dari lima anak sebenarnya memiliki gangguan emosi atau perilaku.

Tanda dan gejala anak mengalami gangguan mental

Sebagai orang tua, Anda memang harus memberikan perhatian khusus kepada kesehatan psikis anak. Berikut di bawah ini adalah tanda dan gejala potensi gangguan mental pada anak, yang dikutip dari buku “Parenting Through The Storm: Find Help, Home, and Strength When Your Child Has Psychological Problem” yang ditulis oleh Ann Douglas, seorang parenting expert asal Amerika Serikat.

  • Anak mengalami banyak kesulitan di sekolah.
  • Memukul atau bahkan menindas murid lain.
  • Sering mencoba melukai dirinya sendiri.
  • Menjauhi teman-temannya, bahkan anggota keluarganya.
  • Menjadi lebih moody dari biasanya.
  • Menjadi lebih cepat marah.
  • Mudah lelah dan kehilangan motivasi.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Mengalami insomnia dan sering bermimpi buruk.
  • Mengabaikan penampilan atau sebaliknya, terobsesi dengan penampilannya sendiri.
  • Tidak nafsu makan atau sebaliknya, makan terlalu banyak.

Apabila Anda mendapati anak mengalami satu atau beberapa gejala di atas, ajak anak untuk bicara. Kataka bahwa Anda tdak bisa membantunya jika ia enggan berbicara terbuka. Memang membuat anak bersikap terbuka tak mudah. Apalagi pada kasus ini ada kesan sedikit memaksa. Namun, ini lebih baik ketimbang membiarkan mereka akan membaik dengan sendirinya. Tunjukkan kepedulian Anda dan pastikan ia tahu bahwa orang tua akan selalu ada untuknya.

Jika segala cara sudah Anda lakukan dan anak tak juga berterus terang mengenai masalahnya, minta bantuan kepada psikolog anak. Selain meminta bantuan tenaga ahli seperti psikolog anak, Anda juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah - guru wali kelas dan guru BK (bimbingan konseling) – untuk menjadi perpanjangan Anda mengawasi anak di sekolah. Dengan begitu, cepat atau lambat Anda bisa mengetahui penyebab anak Anda menjadi “berubah”.

1 of 2

Penyebab gangguan mental pada anak

Ada banyak sekali hal-hal yang bisa menyebabkan anak mengalami stres atau depresi di sekolah, bahkan mungkin mengakibatkan terjadinya gangguan mental. Salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan adalah anak menjadi korban perundungan (bully) oleh teman-temannya.

Korban perundungan biasanya akan menjadi sosok yang mudah cemas, minder, dan tak menutup kemungkinan berujung pada tindakan fatal, yakni bunuh diri. Sebuah studi yang dilakukan negara-negara Eropa, Asia, dan Amerika pun melaporkan bahwa korban bully berisiko 2,5 kali lebih besar untuk mengakhiri hidupnya dibanding dengan anak yang tak pernah mengalami perundungan sama sekali.

Selain menjadi korban bully di sekolah, tak menutup kemungkinan salah satu penyebab terjadinya gangguan kesehatan mental pada anak bersumber dari internal atau keluarganya sendiri. Jadi sebagai orang tua, Anda juga wajib mengintrospeksi diri, apakah perilaku Anda dan pasangan menyebabkan kecenderungan anak mengalami gangguan mental atau tidak. Contoh sederhanya, menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, orang tua yang selalu bersikap cemas hanya akan membuat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas juga.

Penyebab lainnya, coba Anda perhatikan apakah anak akhir-akhir ini keranjingan gawai? Jika ya, perilaku ini harus dicurigai. Pasalnya, anak tak bisa atau tak mau lepas dari gawainya akan menjadi anak yang pasif, enggan berkomunikasi langsung, dan cenderung menjadi penyendiri.

Oleh sebab itu, atur pemakaian gawai agar tidak berdampak buruk pada psikis anak di masa mendatang. Berlebihan bermain gawai juga bisa merusak kesehatan mata dan meninggikan risiko anak menjadi korban cyberbullying.

Dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia, Anda sebagai orang tua wajib mengenali gejala gangguan kesehatan mental yang mungkin saja dialami anak. Sebab, sedini mungkin gangguan mental semacam ini dideteksi, maka akan semakin signifikan kondisi ini bisa diatasi tanpa harus menunggu kondisinya makin memburuk. Ingat, masa kecil yang bahagia dan masa depan yang cerah merupakan harapan semua orang tua.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓