Benarkah Obesitas Picu Gangguan Kesehatan Mental?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 10 Oct 2018, 16:20 WIB
Kasus obesitas terus meningkat di negara-negara besar dan berkembang. Benarkah obesitas juga dapat memicu gangguan kesehatan mental?
Benarkah Obesitas Picu Gangguan Kesehatan Mental? (Saltodemata/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sebanyak 107 juta anak dan 603 juta orang dewasa mengalami obesitas di seluruh dunia. Amerika memegang peringkat tertinggi dengan 17 persen anak serta 38 persen orang dewasa hidup dengan obesitas. Penyakit ini pun dianggap memengaruhi kesehatan mental seseorang. Benarkah demikian?

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, obesitas adalah keadaan dimana terdapat kelebihan lemak dalam tubuh. Di negara-negara besar dan berkembang, angka kejadian obesitas semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Obesitas terjadi karena penumpukan lemak yang berlebih di tubuh dan biasanya dipicu oleh ketidakseimbangan antara asupan makanan dan pengeluaran energi. Seseorang dikatakan obesitas jika memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25.

Joel L. Young, M.D., Direktur Medis dari Rochester Center for Behavioral Medicine mengaku sering membantu pasien yang berjuang dengan obesitas dan berujung pada masalah kesehatan mental.

Menurut Young, fenomena tersebut biasa terjadi. Obesitas sendiri bukanlah penyakit mental, tetapi terkait erat dengan sejumlah masalah kesehatan mental. Terlebih lagi, stigma “berpenampilan menarik” dalam masyarakat yang mengacu pada tubuh langsing dapat memicu stres saat tubuh menggemuk, sehingga merusak kesehatan secara psikologis.

1 of 3

Obesitas dan gangguan kesehatan mental

Di dunia yang terobsesi dengan tubuh langsing, orang-orang dengan tubuh yang lebih besar sering diperlakukan secara tidak baik. Fenomena ini sering disebut fatphobia, sizeism, atau diskriminasi terhadap ukuran.

Hal tersebut adalah bentuk penindasan yang dapat merusak kualitas hidup jutaan orang bertubuh besar di seluruh negeri. Beberapa orang bahkan akhirnya menggunakan narkoba, melakukan percobaan bunuh diri, atau menyakiti diri sendiri sebagai bentuk pelarian.

Tidak adil bila tindakan mengucilkan orang dilakukan hanya karena orang tersebut memiliki tubuh besar dan kelebihan berat badan. Ingatlah, orang tersebut memiliki kondisi kesehatan mental yang perlu diperhatikan juga.

Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang tidak realistis dapat menyebabkan orang dengan obesitas mengalami anoreksia dan bulimia. Akibatnya mereka bahkan sangat membatasi kalori mereka hingga kehilangan nutrisi penting.

Jika Anda menemui teman atau saudara yang mengalami kondisi tersebut, jangan langsung menghakimi mereka. Cara yang disarankan adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan. Jika memang tidak ditemukan adanya penyakit meski bertubuh subur, maka yang perlu dicek adalah kesehatan mentalnya. Apabila ia masih merasa tertekan dengan keadaan obesitas yang dialaminya, bantuan psikolog sangat diperlukan.

Stres bisa picu obesitas?

Tidak mudah meluapkan emosi dengan benar, jadi tidak mengherankan jika banyak orang beralih ke makanan untuk menenggelamkan perasaan mereka. Hal inilah yang cukup sering menyebabkan seseorang mengalami obesitas.

Depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) adalah masalah yang umum terjadi di antara orang-orang dengan obesitas. Sering kali, dokter harus mengobati gejala-gejala ini sebelum mengatur program penurunan berat badan dan memulainya.

Dalam sebuah penelitian, dokter menemukan bahwa stres yang menimbulkan trauma tertentu sangat berpotensi meningkatkan kemungkinan seseorang menjadi obesitas. Hal ini sering terjadi pada wanita. Rasa kesal akibat patah hati misalnya, dapat membuat mereka “melarikan diri” lewat makan enak. Alih-alih untuk menghindari sakit hati dan melupakan masalah, tindakan mengalihkan fokus kepada makanan ini justru bisa mencelakakan diri mereka.

2 of 3

Gangguan mental yang disebabkan tekanan dari luar

Hanya karena kelebihan berat badan, seseorang bisa terpapar sejumlah risiko kesehatan mental. Ini biasanya terjadi karena tekanan luar biasa yang harus dihadapi kebanyakan orang yang kelebihan berat badan untuk menjadi kurus.

Terkadang seseorang yang kelebihan berat badan dianggap sebagai orang yang tidak sehat hanya berdasarkan penampilan fisiknya. Hal ini tentunya cukup memprihatinkan. Beberapa masalah kelebihan berat badan yang dihadapi pun berujung pada kesehatan mental, karena:

  • Pertanyaan dan komentar tentang obesitas yang membosankan dari orang yang dicintai.
  • Layanan medis yang tidak menganggap serius keprihatinan mereka.
  • Komentar menyakitkan dari anak-anak dan orang lain yang tidak tahu kondisi sebenarnya.
  • Diskriminasi di dalam dunia pekerjaan.

Seiring waktu, faktor-faktor di atas dapat mengurangi kualitas hidup dan berpotensi menyebabkan depresi, kecemasan, dan sejumlah gangguan kesehatan mental lainnya. Obesitas bisa jadi masalah kesehatan, tetapi berat badan orang lain belum tentu merupakan topik pembicaraan yang tepat.

Setelah menyimak berbagai penjelasan di atas, kini Anda tahu bahwa orang dengan obesitas rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Selain tekanan untuk menurunkan berat badan, orang dengan obesitas juga bisa mengalami depresi akibat komentar pedas yang dilontarkan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Daripada sibuk mengomentari konidisinya, ajak teman atau kerabat Anda yang obesitas untuk berolahraga bersama dan dukung terus usahanya untuk menjadi lebih sehat. Dengan demikian, kesehatan mental orang tersebut akan terjaga, dan ia pun lebih termotivasi untuk menjalani hidup sehat.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓