Anak Sering Tidak Sabar, Bagaimana Menyikapinya?

Oleh dr. Dyan Mega Inderawati pada 11 Okt 2018, 13:30 WIB
Emosi bukan jadi solusi tepat saat menghadapi anak yang sering tidak sabar. Inilah strategi yang bisa Anda terapkan untuk kondisi tersebut.
Anak Sering Tidak Sabar, Bagaimana Menyikapinya? (Marcel Jancovic/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Apakah anak Anda kerap tak sabaran, mudah marah, dan sulit untuk dikendalikan? Meski menghadapi kondisi anak yang seperti ini cukup melelahkan, ternyata kondisi ini bisa dibilang normal dan lumrah terjadi. Namun, hati-hatilah karena orang tua sering melakukan kesalahan dengan memarahi atau memberikan anak hukuman. Padahal, jika ini dilakukan emosi anak bisa makin meledak-ledak. Lantas, bagaimana cara menyikapi perilaku anak yang sering tak sabar?

Faktanya, usia 18 bulan hingga 3 tahun merupakan periode anak sudah mulai mengetahui keinginannya, bisa membedakan situasi yang nyaman dan tak nyaman untuknya. Sayangnya, perkembangan kecerdasan ini belum sepenuhnya diimbangi oleh kematangan emosi dan kemampuan berbahasa yang tepat. Akibatnya, anak sering kali tidak sabar, marah, atau bahkan mengamuk ketika keinginannya tidak terpenuhi. Sederhananya, kondisi ini terjadi akibat anak belum mampu dalam mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.

Kiat menyikapi anak yang sering tak sabaran

Puncak sikap anak yang cenderung agresif ini umumnya terjadi saat ia berusia 2 tahun. Teriakan, pukulan, atau tendangan adalah beberapa bentuk ekspresi ketidaksabarannya. Meskipun ini normal pada perjalanan perkembangan kecerdasannya, tapi perilaku seperti ini tak bisa sepenuhnya dibiarkan. Sebagai orang tua yang bijak, pengetahuan tentang bagaimana menghadapi perilaku anak yang seperti ini harus Anda ketahui dengan benar.

  1. Tetap tenang

Untuk bisa tetap tenang saat menunjukkan perilaku tak sabaran, bahkan sampai ia mengamuk, bisa menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal ini adalah langkah awal yang harus bisa dikuasai bila ingin anak mampu mengendalikan dirinya.

Pertama-tama, kendalikan diri sendiri lalu selanjutnya anak akan perlahan mencontoh Anda. Bila memang emosi sedang memuncak, tidak ada salahnya orang tua memisahkan diri sejenak di ruangan berbeda. Dengan sikap tenang dan tanpa melibatkan emosi, seseorang akan lebih bisa berpikir jernih tentang apa langkah selanjutnya yang bisa dilakukan.

  1. Berikan gambaran positif setelah masa tunggunya berakhir

Sebagian besar anak sering kali tidak sabar ketika ia harus menunggu giliran atau mengantri. Di tempat bermain misalnya. Alih-alih berkata, “Kamu harus menunggu giliran, ya,” yang hanya membuat makin emosi karena adanya kata “tunggu”, orang tua bisa menyampaikan, “Lihat, tinggal lima orang lagi dan giliranmu akan segera tiba.” Dengan cara penyampaian yang berbeda, anak akan lebih bisa menerimanya secara positif, dan ia akan senang hati menunggu gilirannya tiba.

1 of 2

Selanjutnya

  1. Bantu anak mengenali apa yang dirasakannya

Anak bersikap tidak sabar dan cenderung mudah emosi karena ia sebenarnya hanya tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Oleh karena itu, membantunya mengenali jenis perasaan yang dialaminya adalah salah satu kuncinya.

Ketika sang anak marah, Anda dapat membantu merefleksikan perasaannya secara lisan. Sebagai contoh, katakan: “Ibu tahu kamu sedang marah dan kesal karena kita harus bangun pagi untuk sekolah. Nih, kamu mau membaca buku favoritmu selama perjalanan ke sekolah?” Dengan demikian, anak akan merasa lebih dimengerti dan ia akan tahu bahwa orang tua memahami apa yang disenanginya.

  1. Buat bersama “pojok tenang”

Sebenarnya, apa yang coba diciptakan di sini mirip dengan metode time-out, hanya saja lebih dengan cara positif. Jika anak cenderung mengulang sikap agresifnya, Anda bisa melibatkan anak membuat suatu area khusus di rumah yang diisi dengan beberapa benda favoritnya. Ketika emosinya memuncak, Anda bisa meminta sang anak dengan tegas, tapi tetap tanpa emosi, untuk pergi ke area tersebut. Benda-benda yang disukainya ini akan membantu menurunkan amarahnya dan membuatnya lebih tenang.

Aturannya, bila ia sudah bisa lebih tenang, anak bisa mendekati orang tua untuk memeluk dan kemudian membicarakan lebih lanjut tentang apa yang baru saja terjadi. Bila anak sudah lebih tenang, apa yang disampaikan orang tua akan lebih bisa ia mengerti dan resapi.

Bila anak sudah bisa menenangkan diri, lebih bisa bersabar, dan dapat mengontrol amarahnya, jangan lupa berikan reward sebagai penghargaan atas apa yang diupayakannya. Tidak perlu kado mewah, cukup memberikan anak waktu lebih saat ia bermain di taman, misalnya.

Ingat, semua tahapan yang melelahkan, seperti anak yang sering tak sabar, pada akhirnya akan berlalu. Namun, bagaimana orang tua membantu anak melewati langkah demi langkah adalah kunci utamanya agar ketika sampai di titik akhir, sikap positif anak dapat diperoleh dengan lebih optimal.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓