Waspada Efek Negatif Kecanduan Layanan Video Streaming

Oleh Ruri Nurulia pada 11 Okt 2018, 13:00 WIB
Seorang pria asal India diklaim menjadi orang pertama yang kecanduan layanan video streaming. Kini ia menjalani program rehabilitasi.
Waspada Efek Negatif Kecanduan Layanan Video Streaming (HQuality/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Seorang pria asal India yang dirahasiakan identitasnya dilaporkan mengalami kecanduan layanan video streaming. Pria ini diketahui berusia 26 tahun, pengangguran, dan kini tengah menjalani program rehabilitasi setelah dilaporkan menghabiskan 7 jam binge-watching setiap harinya menonton tayangan yang berada di layanan video streaming  asal Amerika Serikat tersebut selama 6 bulan berturut-turut.

Ya, dengan adanya laporan “unik” ini, India resmi menjadi negara pertama di dunia yang punya kasus kecanduan layanan video streaming. Kini pria ini diketahui sedang menjalani perawatan di klinik Service for Healthy Use of Technology di National Institute of Mental Health and Neurosciences di Bangalore, India. Pusat rehabilitasi ini juga menangani pasien yang bermasalah dengan penyalahgunaan obat-obatan dan minuman beralkohol, termasuk mereka yang kecanduan teknologi seperti gaming dan media sosial.

Tekanan menyebabkan kecanduan

Manor Kumar Sharma, profesor psikologi klinis klinik tersebut menjelaskan kepada The Hindu. “Setiap kali keluarganya menekannya untuk mencari nafkah, atau saat keadaan temannya lebih baik darinya, ia akan menonton berbagai konten pada layanan video streaming secara terus-menerus. Ini dikenal sebagai metode pelarian (escapism). Ia bisa melupakan masalah-masalahnya sekaligus mendapatkan kesenangan dari aktivitas tersebut.”

Diungkapkan lagi oleh Prof. Manor bahwa kecanduan pria ini begitu parah. Saat ia bangun setiap pagi ia langsung menyetel saluran televisi tersebut.

Kecanduan ini menyebabkan ketegangan pada matanya, kelelahan, serta pola tidur tak menentu yang pada akhirnya mendatangkan malapetaka pada kesehatan pria tersebut.

Kasus ini tentunya mendapat perhatian karena layanan video streaming bisa begitu “memikat” yang memunculkan pola pikir “satu episode lagi” lalu lagi, lagi, dan lagi. Layanan ini memang memunculkan “gratifikasi instan”, bagaikan endorfin dalam otak yang membuat kecanduan semakin mungkin terjadi.

Dikabarkan, tim dokter yang menangani kasus kecanduan ini menggunakan teknik meditasi, penyuluhan karier, termasuk terapi tradisional.  Prof. Sharma juga mengaitkan kasus ini dengan kecanduan video game, yang keduanya sering kali ditemukan bermanifestasi. Sarannya, hindari penggunaan teknologi jika aktivitas ini telah menjadi sebuah coping mechanism atau mekanisme pertahanan bagi diri seseorang.

1 of 2

Bahaya binge-watching bagi kesehatan fisik dan mental

Bahaya binge-watching bagi kesehatan fisik dan mental (Wavebreakmedia/Shutterstock)
Bahaya binge-watching bagi kesehatan fisik dan mental (Wavebreakmedia/Shutterstock)

Menurut penjelasan dari dr. Sara Elise Wijono, MRes, dari KlikDokter, “Terlalu asyik binge-watching juga dapat mengganggu keterlibatan seseorang dalam kehidupan sosialnya, khususnya jika ia hanya menonton sendirian, tanpa kehadiran orang lain. Kebiasaan ini bisa mengisolasi seseorang.

Berikut ini adalah beberapa dampak binge-watching bagi kesehatan.

  • Binge-watching akan memunculkan kondisi kurang tidur (sleep deprivation) jika menyaksikannya hingga larut malam. Gangguan kesehatan yang mungkin akan dialami, termasuk obesitas, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan menurunnya fungsi ingatan serta kemampuan belajar.
  • Seperti dikutip dari laman The New Paper, Dr. Kenny Pang, spesialis dari Asia Sleep Center mengatakan, kurang tidur dapat memengaruhi mood, konsentrasi, dan daya ingat. Kondisi ini bahkan dapat menyebabkan orang tersebut temperamental dan cepat marah.
  • Imunitas tubuh juga dapat terpengaruh seiring meningkatnya hormon kortisol (hormon stres). Karena kodisi ini menyebabkan penekanan sistem kekebalan tubuh, seseorang jadi lebih rentan terhadap serangan selesma (common cold) dan flu.
  • Ada pula riset oleh Universitas Queensland, Australia, yang mengungkap bahwa orang dewasa yang hobi “nonton maraton”, kondisi ototnya cenderung lebih lemah. Penelitian lain dari Universitas Toledo, Amerika Serikat, menemukan kaitan antara menonton televisi selama dua jam atau lebih dalam sehari dengan tingginya tingkat depresi, kecemasan, dan stres.

Sebetulnya menyaksikan tayangan lewat layanan video streaming bisa menjadi pelepas stres yang baik jika dilakukan secara tidak berlebihan. Jika yang ditonton adalah tayangan berseri yang terus bikin penasaran, cobalah berkomitmen untuk membatasinya maksimal tiga episode sekali duduk. Pastikan juga mengimbanginya dengan aktivitas lain, seperti berinteraksi dengan teman dan keluarga, olahraga, bermain bersama binatang peliharaan, dan lain-lain. Setelah resmi ada laporan kecanduan layanan video streaming yang ancamannya nyata, jangan sampai Anda jadi korban selanjutnya.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓
Anton SAnton S

memberi pengetahuan dan kecerahkan kepada kita. very good.

MuhammadHairulMuhammadHairul

GENS