Diagnosis Parkinson dengan Teknologi Kecerdasan Buatan

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 11 Okt 2018, 11:30 WIB
Saat ini penyakit Parkinson bisa didiagnosis lebih mudah dengan adanya teknologi kecerdasan buatan. Ini penjelasannya.
Diagnosis Parkinson dengan Teknologi Kecerdasan Buatan (Uzhursky/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Parkinson adalah penyakit saraf degeneratif yang bersifat kronis progresif. Kondisi tersebut dapat makin memburuk karena terjadi dalam jangka panjang. Baru-baru ini ditemukan metode diagnosis Parkinson dengan teknologi kecerdasan buatan.

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, Parkinson merupakan penyakit otak tersering kedua setelah Alzheimer.

“Diperkirakan 1-3 persen pada orang berusia di atas 65 tahun memiliki penyakit ini. Namun beberapa tahun terakhir, Parkinson makin banyak menyerang usia lebih muda, yaitu golongan usia produktif, awal 40 tahun,” ujar dr. Astrid.

Menyoal angka kejadian Parkinson di Indonesia, berdasarkan data dari Yayasan Peduli Parkinson Indonesia (YPPI), sekitar 5 dari 1.000 orang berusia 60 tahun, dan sekitar 40 dari 1.000 orang berusia 80-an memiliki penyakit Parkinson.

Data ini kemudian disusul oleh catatan Kementerian Kesehatan Indonesia yang menyatakan jumlah pasien Parkindon di Asia akan meningkat dari 2,7 juta pada 2005 menjadi 6,17 juta pada 2030.

Prinsip pengobatan penyakit Parkinson sendiri adalah mengontrol keluhan dan gejala penyakit selama mungkin lewat pengobatan. Kendati demikian, saat ini belum ditemukan terapi maupun operasi yang dapat mengembalikan fungsi saraf tersebut.

Penelitian dan studi medis masih terus dilanjutkan untuk menemukan penyebab dan terapi yang tepat untuk penderita Parkinson. Salah satu upaya terkini yang dilakukan peneliti adalah membuat teknologi kecerdasan buatan untuk mendiagnosis Parkinson. Bagaimana cara kerjanya?

1 of 3

Teknologi kecerdasan buatan untuk diagnosis Parkinson

Raksasa teknologi China bernama Tencent dan Medopad yang merupakan firma medis asal London telah bekerja sama untuk menggunakan kecerdasan buatan dalam diagnosis penyakit Parkinson. Alat tersebut menangkap cara pasien menggerakkan tangan untuk menentukan tingkat keparahan gejala Parkinson yang dialami.

Tim peneliti telah melatih sistem yang ada dengan video pasien yang telah dinilai oleh dokter, bekerja sama dengan King's College Hospital di London. Hal tersebut diungkapkan oleh Wei Fan, Kepala Laboratorium Tencent Medical AI (Artificial Intelligence).

"Kami menggunakan AI untuk mengukur tingkat kemerosotan pasien dengan Parkinson tanpa memakai sensor atau perangkat apa pun," katanya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempercepat proses penilaian fungsi motor yang biasanya memakan waktu lebih dari setengah jam. Menggunakan teknologi smartphone yang dikembangkan oleh Medopad, diagnosis terhadap pasien diharapkan dapat berlangsung hanya dalam waktu tiga menit—bahkan tidak perlu datang ke rumah sakit.

"Ambisi kami adalah untuk memengaruhi satu miliar pasien di seluruh dunia. Dan untuk dapat mencapai skala semacam itu, kami perlu bekerja dengan mitra yang memiliki jangkauan internasional," ujar salah satu petinggi Medopad, Dan Vahdat.

Teknologi kecerdasan buatan ini bukan satu-satunya teknologi baru yang diciptakan untuk mengobati pasien Parkinson. Sebelumnya, dua peneliti di Institut Robotika Swiss telah mengerjakan aplikasi ponsel pintar yang akan meminta pasien untuk melakukan berbagai latihan dan kemudian menganalisis hasilnya.

Jumlah penderita Parkinson di seluruh dunia diperkirakan akan semakin bertambah, karena hal ini merupakan kondisi yang sering dialami para lansia seiring bertambahnya waktu. Teknologi kecerdasan buatan ini pun tengah diupayakan untuk lebih memudahkan dokter dalam meresepkan pengobatan pasien Parkinson.

2 of 3

Mengatasi Parkinson sejak dini

Sementara penelitian dengan menggunakan teknologi ini tengah dikembangkan, para ahli medis masih berupaya untuk menangani penyakit Parkinson yang mayoritas dialami oleh lansia.

“Saat ini belum ditemukan terapi maupun operasi yang dapat mengembalikan fungsi saraf tersebut. Penelitian dan studi medis masih terus dilanjutkan untuk menemukan penyebab dan terapi untuk Parkinson,” ujar dr. Astrid.

Namun, salah satu upaya yang bisa dilakukan sejak dini adalah dengan mengatur asupan nutrisi penderita. Nutrisi yang baik sangatlah penting, terutama bila pasien mengalami depresi atau mual akibat efek obat serta adanya bradykinesis atau melambatnya reaksi dan gerakan pasien dalam beraktivitas.

Sebab, hal ini akan mempersulit proses mengunyah atau menelan makanan, sehingga menyebabkan selera makan hilang. Untuk mengatasinya, berikan penderita menu makanan yang bertekstur lunak agar tidak perlu banyak mengunyah.

Selain itu, menambah makanan berserat seperti agar–agar juga berguna demi mengurangi efek obstipasi, yakni ketidakmampuan untuk mengosongkan usus sendiri, sehingga menyebabkan penumpukan feses.

Hingga kini belum ada vitamin atau suplemen yang bisa mengurangi gejala Parkinson. Namun, Anda dapat mencoba mengonsumsi buah-buahan seperti pisang, blueberry, stroberi dan plum sebagai gantinya. Buah-buahan tersebut juga berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita.

Memang terapi yang tepat untuk penderita Parkinson hingga kini belum ditemukan. Namun, diagnosis lebih awal bisa dilakukan, misalnya dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan yang baru saja diciptakan. Harapannya, dengan teknologi ini, penanganan Parkinson sejak dini dapat diupayakan, sehingga tingkat keparahan penyakit pun semakin berkurang.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓