Benarkah Penderita Lupus Rentan Depresi?

Oleh dr. Adeline Jaclyn pada 15 Oct 2018, 14:15 WIB
Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun yang telah dikenal banyak orang. Lalu, apa hubungannya dengan depresi?
Benarkah Penderita Lupus Rentan Depresi? (Kitzcorner/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kabar mengejutkan datang dari Selena Gomez. Pada Rabu (10/10) lalu, penyanyi berusia 26 tahun ini diberitakan masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan kesehatan mental. Dilansir People, Selena masuk rumah sakit dua kali dalam beberapa minggu ini karena efek samping dari transplantasi ginjal. Ia juga sudah lama didiagnosis lupus, yakni pada 2013, dan hal tersebut membuatnya depresi.

Lalu, apa benar lupus memang berhubungan erat dengan depresi? Ini penjelasannya.

Lupus dan gangguan mental

Lupus merupakan penyakit autoimun yang dialami kurang lebih lima juta orang di seluruh dunia. Penyakit ini memiliki berbagai bentuk, yang paling umum adalah systemic lupus erythematosus (SLE).

Lupus terjadi ketika terlalu banyak antibodi yang diproduksi oleh tubuh. Antibodi ini kemudian dapat menyerang sel dan organ yang sehat. Orang dengan lupus dapat mengalami demam, kekakuan sendi, perubahan berat badan, kelelahan, sindrom Sjogren (mulut dan mata kering), gangguan tiroid, gangguan pencernaan, osteoporosis, serta depresi dan kecemasan.

Menurut The Johns Hopkins Lupus Center, diperkirakan sepertiga dari seluruh pasien lupus mengalami depresi dan kecemasan. BMC Psychiatry juga melaporkan, setidaknya satu dari empat orang dewasa dengan lupus memiliki depresi atau cemas utama.

Pada pasien lupus, masalah psikologis memang umum terjadi. Data menunjukkan bahwa angka kejadian depresi dan kecemasan pada pasien lupus dua kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Selain itu, depresi dan kecemasan berkontribusi terhadap meningkatnya angka kematian pada pasien dengan lupus dan berhubungan dengan penyakit kardiovaskular, ide bunuh diri, dan cacat fisik.

Lupus Foundation of America mengumpulkan fakta-fakta hubungan antara lupus dan depresi, yakni sebagai berikut:

  • Gangguan depresi mungkin disebabkan oleh penyakit lupus yang memengaruhi tubuh penderita secara fisik.
  • Beberapa obat-obatan untuk mengobati lupus dapat menyebabkan efek samping perubahan mood berupa depresi, terutama jenis kortikosteroid seperti prednisone.
  • Depresi mungkin merupakan hasil dari serangkaian stres emosional dan psikologis yang terus-menerus, akibat mengalami penyakit kronis atau berkepanjangan.
  • Perasaan yang umum dialami oleh pasien lupus terkait dengan depresi adalah keputusasaan dan ketidakberdayaan. Mereka percaya bahwa gejala yang menyedihkan yang dialaminya tidak akan pernah membaik. Tidak ada seorang pun yang cukup peduli untuk membantu atau dapat berhasil membantu, bahkan jika mereka mencoba.

Hal-hal inilah yang dapat menyebabkan pasien lupus rentan mengalami depresi. Dukungan dari keluarga sangat diperlukan untuk membantu meminimalkan risiko terjadinya perubahan mood, termasuk depresi, pada pasien lupus. Peran dokter juga sangat diperlukan, terutama ahli reumatologi, dalam melakukan pemeriksaan serta mendeteksi adanya kemungkinan gangguan mental.

Dengan demikian, bila ada masalah, dokter tersebut akan merujuk penderita ke ahli kejiwaan untuk merencanakan penanganan selanjutnya. Semakin dini gangguan mental diketahui, maka akan semakin baik karena dapat mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk lagi.

Jadi, pasien lupus seperti Selena Gomez memang rentan mengalami gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Karena itu, kerja sama yang baik antara pasien, keluarga dan dokter sangat diperlukan. Mengobati depresi dan kecemasan pada pasien lupus dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka.

[RS/ RVS]