Kenali Terapi DBT yang Dijalani Selena Gomez

Oleh Ayu Maharani pada 15 Oct 2018, 16:00 WIB
Artis Selena Gomez tengah menjalani terapi DBT untuk mengatasi gangguan emosinya. Apa sebenarnya terapi DBT itu?
Kenali Terapi DBT yang Dijalani Selena Gomez (Fabio-Diena/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setelah membuka soal gangguan kesehatan mental yang dideritanya kepada publik selama beberapa tahun belakangan, kini Selena Gomez tengah menjalani terapi DBT (dialectical behavior therapy) atau terapi dengan perilaku dialektis. Hal ini seperti dilansir dari situs berita Prevention.

Mantan kekasih dari Justin Bieber itu rupanya sudah dua kali dirawat di rumah sakit dalam beberapa minggu ini karena jumlah sel darah putih yang terus menurun akibat penyakit lupus yang diderita sebelumnya.

Meski gangguan emosional yang dialami Selena Gomez belum dipastikan apa penyebabnya, tetapi dilansir dari situs kesehatan Mayo Clinic, ada kemungkinan bahwa rendahnya jumlah sel darah putih bisa memberikan efek samping berupa kelelahan, sesak napas, lemas, dan pusing yang berujung pada kecemasan hingga depresi.

Mengenal terapi DBT

Dikutip dari Prevention, DBT merupakan perawatan perilaku kognitif yang dikembangkan oleh Marsha M. Linehan, Ph.D., ABPP, seorang profesor psikologi dari University of Washington.

Terapi ini ditujukan untuk orang yang tidak sembuh dengan psikoterapi tradisional. Sebab, DBT lebih menekankan kepada kelas pelatihan keterampilan psikoterapi dan kelompok untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dikutip dari Psychology Today, terapi perilaku dialektik ini secara khusus berfokus pada 4 area kunci, yakni:

  • Perhatian, yang fokus pada peningkatan kemampuan individu untuk menerima kondisinya sekarang.
  • Toleransi stres, yang fokus pada keberanian menghadapi dan menoleransi emosi negatif ketimbang “melarikan diri”.
  • Regulasi emosi, yang mencakup strategi pengelolaan emosi yang memicu masalah kehidupan.
  • Efektivitas interpersonal, yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi secara tegas, mempertahankan harga diri, sekaligus dapat memperkuat hubungan.

Pada awalnya, DBT ini dikhususkan untuk mengatasi orang-orang yang ingin bunuh diri saja, terutama bagi pasien yang sudah bolak-balik rumah sakit dan tak kunjung sembuh.

Namun kini DBT tak hanya terbatas untuk kasus tersebut. Gangguan makan (bulimia), penyalahgunaan obat terlarang, serta gangguan kecemasan juga bisa diatasi dengan terapi ini. Sebab, DBT juga mengadopsi konsep Buddhis tentang penerimaan hati dan keikhlasan.

Jadi, tak hanya berusaha mengubah perilaku si pasien, DBT juga akan menerima dan memahami alasan “kesakitan dan perjuangan” dari orang tersebut sekaligus memberikannya solusi.

Dengan kata lain, DBT adalah terapi yang menyeimbangkan antara perubahan dan penerimaan diri, bukan sekadar terapi yang mengubah perilaku. Sebab, tanpa menerima diri secara utuh, usaha-usaha baru untuk mengatasi atau mengubah perilaku tidak akan berhasil.

Masa pengobatan dengan terapi DBT

Terapi yang satu ini berlangsung selama satu tahun dan terdiri atas pelatihan keterampilan kelompok mingguan yang biasanya dilakukan selama 2 jam, terapi individu mingguan, pertemuan dengan tim konsultasi, dan pelatihan via telepon dengan terapis.

Selama menjalani terapi, pasien diajarkan untuk mengatur emosi yang sulit dikendalikan, belajar cara menoleransi stres dan melewati masa-masa krisis tanpa membuat keadaan memburuk, serta cara berkomunikasi yang efektif jika berada dalam suatu hubungan.

Sementara ini, sudah mulai banyak pelatihan untuk mengajak para dokter mempelajari terapi DBT. Terapi ini bahkan tengah disebarluaskan dan ditawarkan di berbagai pusat perawatan penyakit mental serta fasilitas rehabilitasi akibat penyalahgunaan zat. 

Dilansir dari situs berita Prevention, Selena Gomez tidak menyebutkan alasan spesifik mengapa ia memilih terapi DBT untuk memulihkan kondisi psikisnya. Namun yang pasti, ia mengatakan bahwa terapi DBT telah mengubah hidupnya dan terapi tersebut merupakan salah satu hal tersulit yang pernah ia lakukan, tetapi hasilnya sangat sepadan. Setelah menjalani terapi tersebut, ia merasa jauh lebih baik.

[NP/ RVS]