Ibunda Meninggal Dunia, Roro Fitria Terserang Histeria

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 16 Okt 2018, 13:30 WIB
Kabar duka datang dari Roro Fitria. Ibundanya meninggal dunia di Rumah Sakit Fatmawati. Mendengar kabar tersebut, Roro mengalami histeria.
Ibunda Meninggal Dunia, Roro Fitria Terserang Histeria (Nurwahyunan/Bintang.com)

Klikdokter.com, Jakarta Duka mendalam sedang dirasakan Roro Fitria setelah ibundanya, Raden Retno Winingsih meninggal dunia pada Senin (15/10). Sang ibunda meninggal pada usia 64 tahun. Setelah mendapat kabar duka tersebut, Roro Fitria dikabarkan terserang histeria.

Kabar meninggal sang ibunda sampai ke telinga Roro Fitria yang ironisnya sedang mendekam di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, akibat kasus narkoba. Mengetahui sang ibu meninggal, Roro Fitria pun langsung histeris. Hal itu diungkapkan pengacara Roro Fitria, Asgar Sjafrie, saat dihubungi, "Roro lagi histeris sekarang," ungkapnya seperti dikutip dari Liputan6.com.

Wajar saja Roro mengalami histeris, pasalnya sang Ibu rajin datang ke persidangan untuk menemani putri tercintanya itu. Roro terakhir kali bertemu dengan Ibundanya dalam agenda sidang dakwaan awal Oktober lalu. Kala itu, Retno ikut karena mendengar anaknya harus diancam hukuman 5 tahun penjara dan membayar denda Rp 1 miliar.

Histeris atau histeria memang bisa menyerang siapa saja, terutama orang yang tengah mengalami kondisi yang menyedihkan atau kecewa terhadap hal tertentu.

Mengenal histeria yang dialami Roro Fitria

Lalu, apa sebenarnya histeria itu? Seperti mengutip dari situs VeryWellMind, histeria adalah istilah yang berlaku untuk orang-orang yang terlalu emosional. Dalam istilah awam, histeria sering digunakan untuk menggambarkan perilaku yang tampak berlebihan dan tidak terkendali.

Ketika seseorang menanggapi sesuatu dengan cara yang berlebihan secara emosional, sering digambarkan sebagai histeris. Pada zaman dahulu, serangan histeria lebih sering dialami oleh kaum wanita. Namun, kini histeria bisa menyerang siapa saja. Gary Small M.D, peneliti dari Psychology Today menyebut bahwa kegembiraan yang berlebihan juga bisa menyebabkan histeria.

Ketika dulu ada seseorang yang mengalami histeria, orang tersebut akan dianggap sebagai gangguan gaib atau kerasukan roh-roh jahat. Akan tetapi, saat ini histeria sudah dapat dijelaskan secara medis. Secara ilmiah, kondisi histeria merupakan ranah spesialis psikosomatik.

Garry Small menjelaskan bahwa histeria bisa muncul ketika orang merasa senang dan takut secara berlebihan. Dalam kondisi itu, mereka dapat mengalami hiperventilasi atau bernapas terlalu cepat, sehingga karbon dioksida yang dihembuskan menjadi terlalu banyak.

Berkurangnya kadar karbon dioksida dalam tubuh pun menyebabkan otot di bagian ekstremitas menjadi kejang, yang dapat berujung pada kondisi mati rasa, kesemutan, dan otot berkedut, seperti yang biasa dialami orang yang histeria.

Dalam kondisi cemas yang berlebihan, orang bisa menafsirkan apa yang dialaminya secara berlebihan juga. Perut yang menggelembung bisa disalahartikan sebagai tanda keracunan makanan, padahal itu adalah serangan histeria.

1 of 2

Histeria termasuk gangguan jiwa

Para pakar psikologi mengakui berbagai jenis gangguan yang dikenal sebagai histeria termasuk gangguan jiwa jenis disosiatif dan somatoform. Gangguan disosiatif sebelumnya dikenal dengan gangguan kepribadian majemuk. Kondisi ini merupakan gangguan jiwa yang disebabkan oleh trauma parah yang terjadi pada masa lalu.

Sementara itu, gangguan somatoform adalah gangguan kejiwaan dimana penderita bisa merasakan adanya gejala fisik yang nyata. Padahal, setelah diperiksakan ke dokter, tidak ditemukam kelainan secara fisik.

Di antara keduanya, adanya gangguan disosiatif dan gangguan somatoform bisa memperparah kondisi seseorang yang terkena histeria. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pendampingan bagi penderita yang mengalami histeria.

Histeria seperti yang dialami Roro Fitria sepeninggal sang Ibunda bisa berakibat fatal bila tak segera diatasi. Jika seseorang terkena serangan histeria dan berlanjut dalam jangka waktu yang lama, pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan membawanya ke psikiater. Penanganan yang tepat perlu dilakukan supaya kondisi ini tidak semakin parah.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓