Bisakah Rambut Rontok Akibat Kemoterapi Dicegah?

Oleh Ayu Maharani pada 16 Okt 2018, 16:00 WIB
Rambut rontok adalah salah satu efek samping yang paling sering dijumpai dari pengobatan kemoterapi. Bisakah hal tersebut diminimalkan?
Bisakah Rambut Rontok Akibat Kemoterapi Dicegah? (Quorthon1/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu dampak yang paling sering terjadi akibat dari kemoterapi adalah rambut rontok. Kondisi ini cukup membuat penderita kanker khawatir, terutama bagi pasien wanita.

Namun, kini hal tersebut sudah mulai menjadi bahan pembicaraan, apakah kerontokan rambut itu sebenarnya bisa dicegah atau setidaknya diminimalkan? Sebab, mengalami kerontokan rambut yang berujung pada kebotakan terkadang mampu menurunkan kepercayaan diri dan mental dari seorang penderita kanker.

Cegah rambut rontok akibat kemoterapi dengan ini

Dilansir dari situs kesehatan Verywell Health, sebenarnya sudah ada beberapa metode yang digunakan untuk meminimalkan kerontokan rambut sehabis kemoterapi, yaitu:

1. Metode pendingin kepala

Metode pendingin kulit kepala dilakukan dengan cara menaruh kantong es atau topi es di atas kepala selama proses kemoterapi berlangsung. Tujuan dari metode ini adalah untuk mengontraksikan pembuluh darah di dekat folikel rambut, sehingga obat yang digunakan saat kemoterapi tidak mencapai bagian yang rapuh tersebut.

Metode ini pun telah diterapkan sejak 30 tahun yang lalu. Namun, efek dari metode ini masih menuai pro kontra karena ada yang menganggapnya efektif, ada pula yang menganggapnya tidak memberikan hasil yang berarti.

Menurut sebuah studi 2017 dalam Journal of American Medical Association yang dilansir dari Verywell Health, penggunaan metode pendingin kulit kepala pada penderita kanker payudara stadium 1 dan 2 dapat mengurangi kerontokan rambut sebanyak 50 persen. Metode ini juga dianggap paling efektif bila dikombinasikan dengan obat kemoterapi, misalnya athracyclines (adriamycin/doxorubicine) dan taxanes (taxol/paclitaxel).

Di sisi lain, para onkologi mengatakan, metode pendingin kulit kepala memiliki efek samping, terutama bagi para penderita leukemia, yakni dapat menghalangi obat kemoterapi dalam menjangkau semua sel kanker. Selain itu, duduk dengan kantong es di atas kepala selama sesi kemoterapi juga bisa membuat pasien merasa tak nyaman, sehingga lebih banyak orang yang menolak metode ini.

Tak cuma soal nyaman, rupanya biaya menyewa peralatan untuk menerapkan kompres es juga dianggap mahal bagi sebagian orang, karena tak banyak juga fasilitas kemoterapi yang menyediakan metode pendingin kepala.

Satu lagi kekurangan dari metode ini. Meski digadang-gadang bisa mengurangi kerontokan rambut pascakemoterapi, nyatanya rambut yang tersisa juga tinggal sedikit, meski tidak sepenuhnya botak. Tak jarang pasien yang sudah menggunakan metode ini masih harus tetap menggunakan wig, topi, atau syal untuk menutupi kepala mereka.

2. Metode bando kompresi kulit kepala

Untuk bando kompresi, metode ini dapat digunakan bersama dengan pendingin kulit kepala ataupun tidak. Sayangnya, metode ini dianggap tidak seefektif metode pendingin kulit kepala.

3. Metode obat

Selain dua metode di atas, pencegahan kerontokan rambut juga bisa dilakukan dengan cara mengonsumsi jenis obat rogaine (minoxidil) topikal 2 persen dan panicum miliacum topikal. Obat ini mungkin dikenal sebagai obat topikal untuk mencegah kebotakan pada pria.

Keduanya memang kurang ampuh untuk mencegah kerontokan, tetapi mampu mempercepat penumbuhan rambut. Namun, orang yang memiliki kanker darah tidak disarankan menggunakan metode ini.

Itulah beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mencegah rambut rontok pascakemoterapi. Jika Anda berniat menjalankan salah satu di antara yang sudah disebutkan di atas, konsultasikan kepada ahli onkologi Anda terlebih dulu. Dan ingat, terlepas dari ada atau tidaknya rambut yang tersisa di kepala, percayalah orang-orang terdekat pasti tetap mendukung Anda, bagaimanapun kondisi Anda saat ini.

[NP/ RVS]