Benarkah Nyeri Saat Melahirkan Picu Depresi?

Oleh Ayu Maharani pada 22 Oct 2018, 16:00 WIB
Saat melahirkan seorang wanita rentan mengalami sejumlah risiko. Tapi benarkah. nyeri saat melahirkan juga bisa memicu depresi?
Benarkah Nyeri Saat Melahirkan Picu Depresi? (Natalia-Deriabina/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Bisa mengandung dan melahirkan buah hati dengan selamat dan sehat adalah karunia tersendiri yang patut disyukuri. Namun, setiap wanita memiliki proses persalinan yang berbeda-beda. Ada yang lancar tanpa kendala signifikan, tapi ada juga yang merasakan nyeri hebat saat melahirkan. Pada sebagian ibu yang mengalami nyeri hebat saat melahirkan, dikatakan bahwa kondisi ini bisa memicu depresi. Apakah ini didukung fakta medis?

Makin hebat rasa nyeri, makin tinggi risiko depresi

Dilansir dari Healthline, pada dasarnya semua rasa sakit bisa memunculkan depresi pada diri manusia, terutama rasa sakit saat dan setelah melahirkan. Semakin parah nyeri yang dirasakan oleh si ibu baru, semakin tinggi pula risiko depresi pascapersalinan (postnatal depression) terjadi.

Untuk mengukur dampak rasa sakit pascamelahirkan pada ibu baru, para peneliti dari Brigham and Women’s Hospital di Boston, Amerika Serikat, mempelajari skor nyeri pada 4.327 wanita dari awal persalinan.

Mereka yang menjadi sampel penelitian merupakan para ibu yang baru pertama kali melahirkan anak secara normal (melalui vagina) dan bedah caesar. Kemudian, tim peneliti membandingkan skor nyeri dan skor Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) satu minggu setelah ibu melahirkan. Hasilnya, para ibu yang memiliki skor nyeri lebih tinggi memang mengalami depresi pascapersalinan. Mereka pun terbukti membutuhkan obat pereda rasa sakit yang lebih banyak ketimbang ibu lainnya.

Sementara itu, para peneliti juga berkesimpulan bahwa wanita yang melahirkan secara caesar lebih rentan terkena depresi karena ketidakmampuannya mengontrol rasa nyeri pascaoperasi. Tak hanya wanita yang menjalani bedah caesar, wanita yang obesitas saat mengandung pun disinyalir akan mengalami depresi pascapersalinan dan melahirkan bayi dengan berat badan rendah.

1 of 2

Dampak dan gejala depresi setelah melahirkan

Setelah melahirkan, sebenarnya gejala sindrom baby blues pada ibu baru seperti kecemasan, kesepian, dan kelesuan akan dianggap sebagai hal yang normal. Namun, jika gejala tersebut tak kunjung membaik dan justru semakin parah, ini bisa merugikan dan menimbulkan efek jangka panjang pada kehidupannya.

Dilaporkan sebanyak 1 dari 7 wanita yang mengalami depresi pascapersalinan memiliki gangguan suasana hati yang sangat parah. Mereka akan sangat merasa bersalah karena tidak memiliki perasaan bahagia terhadap kelahiran bayinya, merasa tidak berharga dan tidak becus menjadi seorang ibu, tidak tertarik akan bayinya, dan sulit berkonsentrasi. Ditambahkan oleh dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, adapun gejala lain dari depresi pascapersalinan antara lain:

  • Menangis terus-menerus tanpa alasan yang jelas
  • Tidur terus-menerus
  • Merasa tidak nyaman dan sulit saat melakukan bonding dengan bayi
  • Malas makan, menjauhkan diri dari keluarga, dan berhenti melakukan hal-hal yang disenangi

Gejala depresi pascapersalinan dapat memperlambat atau bahkan memperparah proses pemulihan luka proses bersalin dan menurunkan kondisi kesehatan buah hatinya sendiri. Sebab, depresi akan menghambat proses menyusui serta menjauhkan ikatan antara ibu dan bayi. Apabila ini tidak ditangani secara cepat dan tepat, depresi pascapersalinan bisa menyebabkan kematian pada ibu dan bayi.

Solusi untuk mengatasi depresi pascapersalinan

Untuk menurunkan angka depresi pascapersalinan, sangat penting bagi penyedia layanan kesehatan untuk mengevaluasi dan mengobati rasa sakit setelah melahirkan dengan baik (bukan cuma mengandalkan obat pereda nyeri). Selain itu, dr. Reza juga menganjurkan langkah-langkah ini agar gejala depresi tidak makin parah dan berdampak fatal.

  • Persiapkan proses melahirkan dengan matang, termasuk mengajak orang terdekat seperti suami, orang tua, dan sahabat untuk menemani Anda.
  • Setelah melahirkan, bagi tugas rumah tangga dengan suami atau anggota keluarga lainnya supaya tak terlalu membebani Anda.
  • Setelah kondisi tubuh sudah lebih kuat, lakukanlah olahraga secara teratur.
  • Lakukanlah relaksasi, misalnya meditasi, pijat, mandi air hangat, dan kegiatan lainnya yang dapat menenangkan Anda.
  • Sebelum dan setelah melahirkan, hindari konflik dengan suami atau anggota keluarga lain agar tidak membebani pikiran.

Jadi, memang benar bahwa nyeri yang dirasakan saat dan setelah melahirkan bisa picu depresi pascapersalinan. Karenanya, kenali gejala depresi ini dan lakukan berbagai langkah pencegahannya. Pasalnya, jika tak tertangani dengan baik, tak cuma si ibu yang dirugikan, tetapi bayi yang baru dilahirkan juga akan terdampak karena tak tercukupi kebutuhannya.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓