Berantas Polio, Sedikit Lagi!

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 24 Oct 2018, 08:00 WIB
Tanggal 24 Oktober setiap tahunnya adalah Hari Polio Sedunia. Apa saja upaya yang telah dilakukan untuk memberantas penyakit ini?
Berantas Polio, Sedikit Lagi! (Gorlov KV/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setiap tahunnya, tanggal 24 Oktober diperingati sebagai Hari Polio Sedunia. Hari peringatan ini telah berjalan sejak lebih dari satu dekade lalu dan ditetapkan sesuai tanggal lahir Jonas Salk, seorang individu pertama yang memimpin tim pertama untuk mengembangkan vaksin guna melawan poliomielitis.

Penggunaan vaksin polio yang terinaktivasi tersebut dan penggunaan berkelanjutan dari vaksin oral polio yang dikembangkan oleh Albert Sabin, lalu berujung pada penetapan Global Polio Eradication Initiative (GPEI) pada tahun 1988. Sampai tahun 2013, GPEI tersebut telah menurunkan angka kejadian polio di seluruh dunia hingga 99 persen.

Penyakit polio di Indonesia

Indonesia telah berhasil menerima sertifikasi bebas polio bersama dengan negara-negara anggota Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Asia Tenggara pada bulan Maret 2014. Untuk mempertahankan keberhasilan tersebut dan untuk melaksanakan strategi menuju eradikasi polio di dunia, Indonesia melakukan berbagai rangkaian kegiatan yaitu Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio, penggantian vaksin trivalent oral polio (tOPV) ke vaksin bivalent oral polio (bOPV) dan introduksi inactivated polio vaccine (IPV).

Tujuan PIN polio adalah untuk memastikan tingkat imunitas terhadap polio di populasi cukup tinggi dengan cakupan >95 persen dan memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada kelompok umur 0-59 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus polio yang disebabkan oleh virus polio sabin.

Mengenal penyakit polio lebih dekat

Poliomielitis atau polio merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat menular dan paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Penyakit ini disebabkan oleh poliovirus. Virus ini disebarkan dari satu orang ke orang lain, paling sering melalui feses atau air yang terkontaminasi. Penyakit polio dapat menyerang menyerang sistem persarafan. Pada sebagian kasus, penyakit ini bisa berujung pada terjadinya kelumpuhan yang sering kali permanen.

Tanda dan gejala awal dari polio mencakup demam, kelelahan, nyeri kepala, muntah, kekakuan pada leher, serta nyeri pada lengan dan tungkai.

Walaupun hingga detik ini tidak ada pengobatan yang bisa menyembuhkan polio, tapi terdapat vaksinasi untuk melindungi diri dari terjadinya penyakit ini. Strategi yang kini diterapkan sebagai langkah eradikasi polio adalah dengan mencegah infeksi dengan cara imunisasi pada setiap anak sehingga transmisi terhenti. Harapannya? Dunia bebas polio!

Apabila penyakit polio tidak diberantas dan makin menyebar, dalam 10 tahun ke depan bisa terjadi setidaknya 200.000 kasus baru setiap tahunnya di seluruh penjuru dunia. Meskipun penyakit polio saat ini hanya endemik di tiga negara, akan tetapi apabila setiap anak tidak diimunisasi polio, maka mereka bisa tertular.

Sejak tahun 1988, kemajuan yang terjadi dalam melawan polio telah sangat kuat dan konsisten. Angka kejadian polio menurun hingga 99 persen dari perkiraan sekitar 350.000 kasus pada tahun tersebut, hingga mencapai hanya 22 kasus yang dilaporkan pada tahun 2017. Sebagai hasil dari upaya global untuk eradikasi polio, sudah lebih dari 16 juta orang terselamatkan dari risiko kelumpuhan akibat polio.

Kampanye vaksin polio dan metode inovatif yang diterapkan untuk menjangkau setiap anak di dunia telah membatasi penyebaran virus dan membantu mencapai eradikasi polio di masa depan. Di sebagian besar negara, upaya global tersebut telah meningkatkan kapasitas, bahkan untuk melawan penyakit infeksi lainnya dengan membangun sistem pengawasan dan imunisasi yang efektif. Semoga upaya ini terus berlanjut, guna mencapai eradikasi polio secara total dan dunia pun bebas polio!

[RN/ RVS]