Benarkah Usia Ayah Pengaruhi Kesehatan Bayi?

Oleh Ayu Maharani pada 03 Nov 2018, 12:30 WIB
Ternyata tak cuma usia ibu yang menentukan kesehatan bayi, tetapi usia ayah juga. Simak ulasan fakta medisnya berikut ini.
Benarkah Usia Ayah Pengaruhi Kesehatan Bayi? (Cathy Yeulet/123)

Klikdokter.com, Jakarta Bicara soal usia dan keinginan untuk memiliki anak, biasanya wanitalah yang kerap diingatkan mengenai hal tersebut. Sebab, semakin tua usia saat mengandung dan melahirkan, semakin tinggi pula risiko untuk terkena gangguan kesehatan, baik pada si ibu sendiri maupun si bayi. Namun sekarang, peringatan tersebut sepertinya tidak hanya berlaku untuk ibu saja. Usia ayah juga berpengaruh. Pasalnya, sebuah studi yang dilansir dari Time.com menyebutkan, pria sebenarnya juga memiliki jam biologis yang sama dengan wanita.

Ya, bayi yang terlahir dari ayah yang lebih tua juga rentan terhadap masalah kesehatan seperti kelahiran prematur, berat badan rendah, dan gangguan pernapasan.

Usia ayah juga penting

Dalam pembuktiannya, para peneliti menganalisis lebih dari 40 juta kelahiran hidup di Amerika Serikat antara tahun 2007–2016. Mereka memilah usia ayah menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok ayah di bawah usia 25 tahun, ayah berusia 25–34 tahun, 35–44 tahun, 45–54 tahun, dan kelompok ayah yang usianya lebih dari 55 tahun.

Peneliti juga menghitung hal-hal lain, seperti usia ibu, kondisi kesehatan, dan demografi orang tua untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hubungan antara usia ayah dengan masalah kesehatan pada bayi dan ibu. Dan hasilnya, benar bahwa semakin tua usia sang ayah - khususnya pada kelompok ayah usia 45 tahun - saat memiliki anak, semakin tinggi pula risiko gangguan kesehatan untuk terjadi pada anak.

Dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ayah berusia 24–34 tahun, bayi dari ayah yang berusia di atas 45 tahun memiliki berat badan yang cenderung rendah dan memiliki kemungkinan 14 persen lebih tinggi untuk terlahir secara prematur. Bahkan, bayi yang lahir dari kelompok ayah berusia di atas 55 tahun memiliki denyut jantung, pernapasan, dan refleks yang kurang baik.

Bayi-bayi tersebut pun memiliki risiko 10 persen lebih tinggi untuk diberikan bantuan pernapasan dan berisiko 28 persen lebih besar untuk dirawat di unit perawatan intensif neonatal. Tak berhenti di situ, peneliti juga menemukan bahwa semakin tua usia ayah, semakin tinggi juga risiko anak untuk terkena gangguan kesehatan mental seperti autisme, bipolar, dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Usia pria tentukan kualitas sperma?

Dikutip dari TIME, perlu diketahui juga bahwa pria akan terus membuat sperma hingga mereka tua. Dan proses tersebut sebenarnya dapat dikatakan “serba salah”. Sebab, semakin tua usia pria, semakin banyak mutasi gen yang terakumulasi sehingga semakin besar pula peluang untuk mewariskan mutasi gen yang berbahaya kepada anaknya.

Terkait ini, dr. Muhammad Anwar Irzan mengatakan, meski pria berusia lanjut tidak menemukan kesulitan dalam memiliki anak, tetapi kejadian mutasi ekstra dalam sperma bisa meningkatkan risiko gangguan fungsi otak dan sistem saraf pada anaknya.

Oleh sebab itu, kini bukan cuma usia si ibu yang wajib diperhatikan jika ingin menjalankan program kehamilan, tetapi usia ayah juga. Itu karena semakin tua usia orang tua, semakin tinggi pula risiko si anak untuk terkena macam-macam gangguan kesehatan fisik maupun mental. Jadi, sebaiknya Anda dan pasangan berkonsultasi terlebih dahulu dokter jika ingin menambah momongan di usia yang sudah terbilang tua. Dengan demikian, segala kemungkinan buruk yang mengintai bisa dicegah.

[NB/ RVS]