Ini Alasan Mengapa Anda Tidak Boleh Berbagi Antibiotik

Oleh dr. Devia Irine Putri pada 09 Apr 2020, 19:24 WIB
Antibiotik yang diresepkan untuk Anda sebenarnya tak boleh dikonsumsi oleh orang lain. Tahukah Anda mengapa demikian?
Ini Alasan Mengapa Anda Tidak Boleh Berbagi Antibiotik

Klikdokter.com, Jakarta Berbagi obat antibiotik tidak boleh dilakukan agar tak terjadi resistensi antibiotik. Lalu bagaimana cara minum antibiotik yang benar? Apa saja aturan minum antibiotik?

Hampir semua orang pernah mengonsumsi antibiotik. Ya, obat ini memang diciptakan untuk mengobati penyakit akibat infeksi bakteri. Sejak awal ditemukan oleh Sir Alexander Flemming, antibiotik telah menyelamatkan banyak nyawa.

Karena fungsinya yang sangat signifikan, antibiotik bukanlah obat yang bisa dikonsumsi sembarangan. Anda memerlukan rekomendasi dari dokter untuk mendapatkan obat antibiotik. Tak hanya itu, agar obat tersebut benar-benar memberikan manfaat yang diinginkan, penting sekali untuk mengetahui aturan minum antibiotik yang benar.

Anda juga sangat tidak dianjurkan untuk berbagi antibiotik dengan orang lain, sekalipun penyakit orang tersebut mirip dengan yang terjadi pada diri Anda. Hal ini dilakukan guna menghindari efek samping antibiotik seperti resistensi antibiotik.

Artikel Lainnya: Alergi Antibiotik Bisa Picu Gangguan Kulit?

1 of 4

Mengapa Antibiotik Tak Boleh Dibagi-bagi?

Ilustrasi Antibiotik
Ilustrasi Antibiotik

Dilansir dari Healthline.com, peneliti di Pusat Kesehatan Anak Cohen, New York, melaporkan bahwa 48 persen orang tua yang disurvei menyimpan sisa obat antibiotik. Lebih merisaukan lagi, 73 persen orang tua pernah memberikan antibiotik tersebut kepada anggota keluarga atau kerabat lain agar mendapatkan efek minum antibiotik yang sama.

Peneliti dari studi tersebut, Ruth Milanaik, mengatakan bahwa hasil tersebut mengkhawatirkan karena ternyata selama ini banyak orang berbagi atau pinjam-meminjam antibiotik. Kondisi ini dianggap sebagai pengalihan resep.

Faktanya, penggunaan antibiotik secara tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Hal ini membuat suatu antibiotik yang tadinya membawa manfaat, tak lagi mampu mengobati penyakit yang sama.

Tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik sebagai terapi, sebagian besar penyakit lebih sering disebabkan infeksi virus. Infeksi yang disebabkan oleh virus ini tidak membutuhkan antibiotik sebagai pilihan terapi. Antibiotik hanya diberikan untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

2 of 4

Waspada Resistensi Antibiotik

Ilustrasi Resistensi Antibiotik
Ilustrasi Resistensi Antibiotik

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi, tidak sesuai dengan dosis, dan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan resistensi antibiotik.

Kondisi ini menyebabkan tubuh kebal terhadap pengobatan antibiotik, sehingga bakteri yang seharusnya mati dengan obat antibiotik justru dapat bertahan hidup dan membuat kondisi lebih parah.

Artikel Lainnya: Cara Ampuh Kurangi Efek Samping Antibiotik

Resistensi antibiotik telah menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa setiap tahun, setidaknya 2 juta orang mengalami resistensi antibiotik di Amerika Serikat. Sebanyak 23 ribu jiwa di antaranya meninggal akibat kondisi tersebut.

Sementara di Indonesia, hasil penelitian Antimicrobial Resistant in Indonesia (AMRIN-study) tahun 2013 membuktikan bahwa dari 2,494 orang, 43% Escherichia coli resisten terhadap berbagai jenis antibiotik, seperti ampisilin (24%), kotrimoksazol (29%), dan kloramfenikol (25%).

Apabila hal ini dibiarkan maka akan semakin meningkatkan angka morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian), karena risiko penyebaran infeksi akibat bakteri yang resisten serta biaya pengobatan yang lebih mahal.

3 of 4

Aturan Minum Antibiotik yang Benar

Wanita sedang Minum Antibiotik
Wanita sedang Minum Antibiotik

Agar terhindar dari bahaya resistensi antibiotik, penting bagi Anda untuk mengikuti beberapa aturan minum antibiotik yang benar berikut ini:

  • Tidak membeli obat antibiotik secara bebas atau tanpa resep.
  • Minumlah golongan antibiotik yang memang dianjurkan atau diresepkan dokter.
  • Tuntaskan antibiotik hingga waktu yang ditentukan, sekalipun Anda merasa sudah sehat. Ingat, antibiotik harus dihabiskan, tidak boleh kurang atau lebih dari batas waktu yang dokter berikan.
  • Minum antibiotik sesuai dosis dan tepat waktu.
  • Tidak menyimpan antibiotik di rumah sebagai obat cadangan.
  • Tidak memberikan antibiotik sisa kepada orang lain.
  • Tidak minum antibiotik yang diberikan dari orang lain.
  • Pada beberapa orang, penggunaan antibiotik dapat menyebabkan efek samping seperti gangguan pencernaan dan alergi. Ingat nama antibiotiknya dan kenali tanda alergi seperti kemerahan pada kulit, bengkak, atau sesak napas. Jika muncul tanda alergi tersebut, segera ke dokter untuk mendapatkan pertolongan.

Kini Anda sudah mengetahui fakta medis tentang penggunaan antibiotik yang benar. Oleh karena itu, Anda diharapkan tak lagi berbagi antibiotik atau mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter, sekalipun gejala penyakitnya sama.

Anda tak ingin mengalami resistensi antibiotik dan membuat bakteri jahat menjadi kebal terhadap obat-obatan, bukan? Yuk, lebih bijak menggunakan antibiotik untuk diri sendiri dan keluarga!

Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar resistensi antibiotik, Anda dapat memanfaatkan layanan LiveChat 24 Jam dengan mengunduh aplikasi KlikDokter. Salam sehat!

(WA/ RS)

Lanjutkan Membaca ↓