Benarkah Pelaku Bullying Memiliki Gangguan Kejiwaan?

Oleh dr. Reza Fahlevi pada 12 Nov 2018, 08:00 WIB
Gangguan kejiwaan ternyata tak hanya mengancam korban bullying, tapi juga berkaitan dengan pelaku bullying. Bagaimana solusi atas masalah ini?
Benarkah Pelaku Bullying Memiliki Gangguan Kejiwaan? (Igorstevanovic/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Perundungan atau yang lebih populer disebut sebagai bullying kerap terjadi dalam kehidupan sosial. Bullying bisa terjadi di sekolah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, bahkan di lingkup keluarga sekalipun. Meski lebih sering terjadi pada usia anak-anak, aksi perundungan juga marak terjadi pada usia dewasa. Tak hanya mengancam korban, benarkah pelaku bullying juga berpotensi memiliki gangguan kejiwaan?

Di Indonesia, bullying sebetulnya masih marak tapi sayang sebagian besar memilih untuk tak melaporkannya. Karenanya, masih banyak kasus yang belum terungkap atau sulit untuk ditangani.

Seberapa sering bullying terjadi dalam masyarakat

Menurut data survei kesehatan anak di Amerika Serikat (AS), tercatat sekitar 15 persen anak merupakan pelaku bullying menurut pernyataan orang tua atau pengasuh mereka. Bagaimana angkanya di Indonesia?

Sulit menemukan data bullying di Indonesia karena di sebagian tempat hal ini masih menjadi sesuatu yang tabu dan kerap disembunyikan. Apa yang Anda lihat di pemberitaan adalah bullying yang dikategorikan parah, misalnya beberapa kasus di beberapa sekolah yang pada akhirnya menyebabkan trauma psikis, hingga kematian. Bullying di Indonesia layaknya fenomena gunung es, karena masih banyak yang belum terungkap daripada apa yang tampak di permukaan.

Dampak bullying terhadap korban

Bagi korban bullying, dampaknya bisa sangat dalam. Anak yang mengalami bullying biasanya tumbuh menjadi penakut, memiliki kepercayaan diri yang rendah, bahkan tak jarang mengalami depresi. Tak sedikit pula anak yang menjadi korban perundungan mengalami penurunan prestasi belajar karena sering tidak mau masuk sekolah akibat takut di-bully di sekolah.

Semua hal-hal yang disebutkan di atas tentunya bisa mengganggu perkembangan psikis dan kognitif anak. Tak jarang anak yang terus-terusan mengalami perundungan baik di sekolah, lingkungan bermain, atau bahkan juga di rumah nantinya memiliki kecenderungan suka mem- bully di kemudian hari. Oleh sebab itu, lingkaran ini harus diputus.

1 of 2

Apa kaitan antara pelaku bullying dan gangguan kejiwaan?

Banyak orang dewasa yang mengalami gangguan kejiwaan ternyata dulunya adalah seorang korban bullying. Namun, ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang memiliki gangguan kejiwaan tiga kali lebih mungkin menjadi pelaku bullying.

Disebutkan juga bahwa pelaku bullying memiliki risiko yang lebih besar mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan perhatian. Pada kasus ini, aksi bullying yang dilakukan lebih merupakan suatu pelampiasan dari ketakutan, kecemasan, dan gejolak emosi yang ada dalam dirinya.

Pelaku bullying memiliki gangguan kejiwaan yang disebut dengan istilah oppositional defiant disorder. Karakteristik dari gangguan ini adalah sering marah dan memiliki sifat kasar, terutama kepada orang tua, guru, atau orang dewasa lain. Nyatanya, perilaku seperti ini memang sudah lama diamati oleh para psikolog atau psikiater anak pada para pelaku bullying.

Seperti pada korban, pelaku bullying juga harus diperhatikan

Saat ini, sebagian besar orang lebih peduli terhadap korban bullying, bukan pelakunya. Ini terbukti dengan berbagai studi mengenai apa saja gangguan mental yang bisa mengancam korban bullying. Sebaliknya, pelaku bullying tidak mendapatkan perhatian. Umumnya mereka ditunjuk sebagai pihak yang bersalah.

Nah, inilah yang harus sedikit diubah. Tak hanya pada korban, tapi pelaku bullying juga harus mendapatkan perhatian. Caranya bisa lewat pemeriksaan skrining gangguan mental untuk mendeteksi apakah ada gangguan kejiwaan tertentu yang mendasarinya.

Jika memang terdapat gangguan kejiwaan, pelaku bullying juga perlu mendapatkan terapi psikologis untuk mengubah perilakunya. Tujuannya adalah supaya ia bisa meluapkan apa yang ia rasakan dengan cara yang lebih tepat. Jika tidak, pelaku tak akan pernah berhenti menyebarkan teror.

Bullying adalah perilaku yang tak boleh dibiarkan. Dengan adanya penelitian mengenai kaitan antara pelaku bullying dan gangguan kejiwaan, diharapkan ke depannya akan ada lebih banyak penelitian serupa yang lebih mendalam. Nantinya ini bisa memberikan gagasan kepada orang tua maupun profesional mengenai bagaimana membantu mengurangi angka perilaku bullying.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓