Efektifkah Bawang Putih untuk Antibiotik?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 12 Nov 2018, 14:45 WIB
Khasiat bawang putih tak hanya untuk urusan dapur. Nyatanya, bawang putih mengandung sifat antibiotik alami, lho!
Efektifkah Bawang Putih untuk Antibiotik? (TUM2282/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Bawang putih memang jagoan sebagai penyedap rasa atau penambah aroma. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa bawang putih juga memiliki kandungan antibiotik alami.

Memiliki nama ilmiah Allium sativa, bawang putih telah lama digunakan untuk memerangi virus dan bakteri. Ilmuwan terkemuka asal Prancis, Louis Pasteur, pada tahun 1958 bahkan telah menemukan bahwa bawang putih bisa membunuh bakteri. Mulai dari zaman pertengahan, bawang putih juga digunakan untuk menyembuhkan luka dan mencegah infeksi.

Menurut dr. Kartika Mayasari kepada KlikDokter, obat antibiotik memang bisa menyelamatkan nyawa manusia karena mempunyai fungsi membunuh bakteri dalam tubuh.

Meski demikian, antibiotik tak selamanya bagus untuk tubuh. Salah satu efek sampingnya adalah resistensi antibiotik, utamanya jika penggunaannya tidak sesuai anjuran dokter. Resistensi antibiotik adalah kondisi ketika bakteri atau virus yang harusnya mati malah kebal terhadap antibiotik. Akhirnya, antibiotik menjadi tidak berguna dan tak bisa menyembuhkan penyakit.

Coba dulu yang alami

Antibiotik nyatanya tak hanya berbentuk pil, tapi juga bisa datang dari tumbuh-tumbuhan alami. Salah satunya adalah bawang putih. Bawang putih memiliki senyawa utama yang disebut allicin. Jika Anda pernah mencium bau bawang putih yang khas, itu berasal dari allicin. Kandungan ini juga yang ternyata bertugas sebagai antibakteri dan efektif untuk melawan parasit.

Selain itu, memang ada banyak kandungan kimia dalam bawang putih yang telah dipelajari sebagai antibiotik potensial. Dalam sebuah studi tahun 2011 yang diterbitkan dalam jurnal medis “Mikrobiologi Terapan dan Eksperimental”, beberapa senyawa yang terkandung dalam bawang putih mampu berinteraksi dengan bakteri dan efektif melawan bakteri Campylobacter jejuni. Bakteri ini biasanya biang kerok keracunan makanan.

Sementara itu, studi lain yang diterbitkan dalam "Journal of Medicinal Food" menyebutkan bahwa allicin dapat membunuh beberapa bakteri mulut patogen, seperti Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Keduanya merupakan penyebab kerusakan gigi dan mulut.

Tetap harus dikonsumsi dalam dosis yang tepat

Meskipun bawang putih memiliki khasiat sebagai antibakteri, tapi Anda tidak disarankan untuk mengonsumsinya secara berlebihan. Mengenai ini, sayangnya belum jelas berapa banyak takaran yang aman untuk konsumsi bawang putih.

Sebagian besar penelitian ilmiah telah mempelajari komponen spesifik bawang putih, seperti allicin, dan biasanya menggunakan takaran sebesar 600 mcg/mL dengan tujuan pengobatan. Akan tetapi, jumlah allicin dapat bervariasi, tergantung pada jenis dan bagaimana bawang putih tersebut tumbuh.

Selain itu, terbilang sulit untuk menghitung jumlah bawang putih yang bisa menyamai keampuhan antibiotik. Ini karena antibiotik yang berbeda dapat digunakan pada dosis yang berbeda dan untuk jenis infeksi yang berbeda. Namun, jika Anda ingin mengonsumsi bawang putih untuk tujuan antibakteri pelindung tubuh, University of Maryland Medical Center, Amerika Serikat, merekomendasikan 2-4 siung bawang putih atau 600-1.200 mg ekstrak bawang putih tua setiap hari.

Meski bawang putih umumnya aman untuk dicerna, tapi konsumsi bawang putih berlebihan bisa menyebabkan pendarahan internal. Dilansir dari Healthline, jika Anda mengonsumsi suplemen yang mengandung bawang putih, pastikan untuk mengikuti dosis yang tertulis di kemasan atau lebih baik lagi sesuai anjuran dokter.

Catatan penting untuk Anda yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah, konsultasikan dulu dengan dokter Anda sebelum menggunakan bawang putih sebagai antiobiotik. Dosis besar bawang putih dapat memperkuat efek dari obat ini.

Nah, itu adalah manfaat dari bawang putih yang memiliki sifat antibiotik. Sekali lagi, meski merupakan bahan alami, tapi Anda perlu mengonsultasikannya dengan dokter Anda sebelum hendak mengonsumsinya. Kombinasikan juga dengan variasi makanan sehat lain yang bergizi seimbang sehingga dampaknya makin optimal, ya!

[RN/ RVS]