Tips Mengedukasi Anak tentang Anti-Bullying

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 13 Nov 2018, 10:00 WIB
Perilaku bullying muncul sejak awal masa kanak-kanak. Orang tua perlu memberikan edukasi kepada anak Anda tentang anti-bullying
Tips Mengedukasi Anak tentang Anti-Bullying (VGstockstudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Orang tua adalah tempat anak belajar yang paling pertama, termasuk bagaimana anak bersikap dan bergaul dengan lingkungan. Oleh karana itu, orang tua juga berperan penting dalam menentukan apakah situasi perundungan atau bullying akan berkembang, atau berhenti dan dapat dicegah. Hal yang sering salah di dalam pikiran para orang tua adalah tidak berusaha melihat dan menghentikan bullying selama tidak menimpa anak mereka. Ini salah satu penyebab bullying atau perundungan terus bertumbuh dan menyebar. Untuk itu, orang tua juga perlu mengajarkan kepada anak tentang anti-bullying.

Bullying adalah bentuk penindasan secara fisik maupun emosional yang memiliki beberapa karakteristik, antara lain:

  1. Tindakan ini adalah perbuatan yang disengaja dengan intensi untuk menyakiti seseorang.
  2. Pelaku bullying sering menyerang orang yang sama berulang kali.
  3. Seorang pelaku bullying memilih korban yang dirasa rentan atau mudah diserang.

Ada tiga jenis perundungan atau bullying, yaitu fisik (mendorong, memukul), verbal (mengata-ngatai, berteriak), relasional (memengaruhi orang lain untuk menyakiti seseorang), dan cyberbullying. Cyberbullying biasanya lebih sering terjadi pada usia yang lebih tua dan belum menjadi suatu masalah anak usia prasekolah.

Perlu diketahui, manifestasi dari bullying sangat tergantung dari usia. Anak usia dini biasanya melakukan eksperimen perilaku. Jadi, orang tua harus memperhatikan beberapa perilaku yang dapat menjadi tanda-tanda awal bullying. Misalnya, membuat wajah galak, mengancam, mendorong anak lain, menuduh sembarangan, atau menolak untuk bermain dengan anak lain.

Semua perilaku di atas belum termasuk bullying. Itu karena mereka tidak melakukannya dengan sengaja untuk menyakiti dan mereka tidak memilih korban dengan sengaja. Namun, apabila hal ini dibiarkan, dapat menjadi sebuah pola yang berkembang ke arah perilaku bullying.

1 of 2

Dampak bullying yang perlu diwaspadai

Perilaku bullying bisa berdampak luas. Selain bisa berpengaruh secara langsung kepada korban, pelaku bullying sebenarnya juga mengalami efeknya. Dan tanpa disadari, pihak yang menjadi saksi tindakan perundungan tersebut juga bisa mengalami imbasnya.

  • Dampak kepada korban

    • Korban menjadi tidak menyukai sekolah. Hal ini tentu akan dapat berdampak kepada hidup sosial serta akademisnya.
    • Rasa percaya diri korban menjadi rendah akibat perundungan yang dialaminya.
    • Korban menjadi mudah curiga terhadap orang lain.
  • Dampak kepada pelaku

    • Pelaku juga jadi tidak menyukai sekolah.
    • Dapat terlibat perkelahian, vandalisme, dan bolos dari sekolah.
  • Dampak kepada saksi

    • Tidak menyukai sekolah
    • Saksi jadi merasa bersalah atau tidak memiliki kekuatan apa-apa karena tidak bertindak apa-apa.
  • Dampak kepada sekolah

    • Terbangunnya lingkungan yang diliputi rasa takut dan sikap tidak hormat satu sama lain.
    • Para siswa jadi sulit belajar, merasa tidak aman, dan merasa bahwa pihak sekolah tidak memedulikan mereka.

Beberapa tips untuk memberitahukan tentang bullying kepada anak Anda:

  1. Peringatkan anak Anda. Edukasi anak tentang apa itu bullying serta tanda-tanda bullying, sesuai pemahaman usianya. Tanyakan apakah mereka pernah atau saat ini mengalaminya, baik sebagai korban atau pelaku. Pastikan bahwa jika hal ini terjadi – di sekolah atau dunia maya – dia harus memberitahukan kepada Anda. Setelah itu, dukung dan bantu dia mencari jalan keluar yang terbaik.
  2. Bentengi anak Anda. Sampaikan pada anak bahwa pelaku bullying biasanya memiliki masalah dalam dirinya. Pihak yang mengetahui peristiwa perundungan tersebut, seharusnya bisa menangkis dan menahan masalah ini, bukan membuatnya semakin parah. Ini bisa terjadi karena adanya kecenderungan mereka yang tidak terlibat akan takut dan memilih bergabung dengan pelaku bullying. Ajari anak Anda untuk menahan pengaruh tersebut.
  3. Latih respons yang tepat. Apabila anak Anda pernah menjadi korban bullying, gunakan kesempatan ini untuk bermain peran bersamanya. Dengan begitu, jika terjadi lagi, anak dapat merespons dengan menangkis masalah yang terjadi.
  4. Cari teman. Anjurkan anak Anda untuk membuat kesepakatan dengan temannya: “Saya akan mendukungmu selama kamu juga mendukung saya”. Studi menunjukkan, hal paling efektif untuk melawan bullying adalah apabila ada pihak ketiga yang tidak terlibat berkata: “Dia adalah teman saya, jangan lakukan itu.”
  5. Bicara dengan pihak sekolah. Risiko terjadinya bullying tentunya meningkat ketika anak Anda mulai sekolah dan bertemu dengan anak seusianya yang lain. Karena itu, perlu ada tindak aktif dari pihak sekolah untuk memberikan edukasi tentang bullying kepada siswa sejak dini. Perilaku bullying dapat dicegah dengan saling mendukung satu sama lain.

Dukungan serta kerja sama orang tua dan guru akan membuat anak menikmati proses belajar di sekolah tanpa tindakan bullying. Lingkungan yang bebas bullying akan membuat anak tumbuh lebih percaya diri, bahagia dan memiliki sikap anti-bullying. Namun, jika Anda khawatir bullying telah berefek negatif dan mengganggu tumbuh kembang anak Anda, berkonsultasilah pada psikolog anak.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓