Hujan Mulai Sering Turun, Waspada Hipotermia

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 15 Nov 2018, 17:15 WIB
Salah satu ancaman saat musim hujan adalah hipotermia. Waspadai itu dengan mengetahui gejala dan cara mencegahnya.
Hujan Mulai Sering Turun, Waspada Hipotermia (Pepgooner/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini, beberapa wilayah di Indonesia mulai rutin disiram hujan. Anda mungkin harus waspada beberapa penyakit yang biasanya terjadi pada saat musim hujan seperti flu, pilek, demam, atau diare. Satu kondisi lagi yang perlu Anda waspadai adalah hipotermia.

Meski hiportermia biasanya dialami oleh pendaki gunung, tetapi ini juga bisa menyerang saat musim penghujan. Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun drastis akibat cuaca dingin. Jika tak segera ditangani, kondisi ini dapat mengancam nyawa.

Bagi orang-orang yang tinggal di negara tropis, hipotermia lebih mudah terjadi karena tubuh biasanya selalu dalam kondisi hangat. Nah, dalam suhu yang dingin, tubuh akan kehilangan kehangatannya hingga 90 persen. Kondisi ini bahkan bisa 25 kali lebih cepat terjadi ketika lingkungan dingin tersebut berupa air, misalnya berenang di air dingin.

Menghadapi suhu dingin tersebut, tubuh akan mengaktifkan mekanisme termostat—pengaturan suhu inti di dalam tubuh agar tetap stabil dan normal di kisaran 37 derajat Celcius. Namun, bila suhu sekitar cukup ekstrem, kerja tubuh bisa kewalahan sehingga tidak mampu mengimbanginya. Hal inilah yang dapat terjadi ketika seseorang banyak beraktivitas di luar ruangan saat musim hujan tiba, utamanya ketika suhu udara menjadi lebih dingin dan cenderung berangin.

Nantinya, suhu tubuh seseorang tersebut bisa semakin menurun di bawah 35 derajat Celcius, dan ini bisa disebut sebagaui hipotermia. Menurut dr. Dyan, hiportermia bisa terjadi karena cuaca yang terlalu dingin, berada di lingkungan dengan hembusan angin yang kencang, dan berendam atau berenang di air yang memiliki suhu dngin cukup lama.

1 of 3

Tanda seseorang terkena hipotermia

Hiportermia tidak boleh dianggap sepele karena berbahaya bagi kinerja otak dan berbagai organ lainnya di tubuh. Pada kasus yang sangat berat, hipotermia bisa membuat penderitanya hilang kesadaran dan bisa menyebabkan kematian.

Beberapa orang lebih berisiko mengalami hipotermia dibandingkan dengan orang lainnya, seperti:

  • Lansia, bayi, dan anak-anak
  • Orang dengan gangguan mental
  • Orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan dalam waktu yang lama
  • Orang yang tidak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol atau obat-obatan dan berada di ruangan terbuka

Dipaparkan oleh dr. Dyan, berikut tanda-tanda seseorang terkena hipotermia:

1. Menggigil

Ini tanda paling sering terjadi ketika seseorang sudah sangat kedinginan. Menggigil sebenarnya respons tubuh yang baik, karena itu berarti sistem pengaturan panas seseorang masih aktif. Selain itu, menggigil adalah mekanisme tubuh untuk menghasilkan panas melalui gerakan otot. Diharapkan panas yang dihasilkan cukup jumlahnya, sehingga mampu menetralkan suhu lingkungan yang dingin.

2. Kulit menjadi pucat

Ketika menggigil tubuh akan melakukan hal lainnya agar tetap hangat, yakni pengecilan ukuran pembuluh darah dalam tubuh (vasokonstriksi). Usaha ini adalah cara tubuh  menyimpan panas sehingga tidak mudah menguap melalui pori kulit.

Saat fase vasokonstriksi terjadi, kulit biasanya akan terlihat lebih pucat dari biasanya. Vasokontriksi juga dapat berdampak buruk bagi otak. Bila terjadi dalam jangka waktu lama dan tak segera tertangani, keadaan ini dapat mengakibatkan penurunan kerja otak dengan gejala berupa:

  • Penurunan konsentrasi
  • Bicara meracau
  • Penurunan kesadaran

Jika sudah sampai pada tahap ini, hipotermia dapat berakibat fatal dan mengancam nyawa penderitanya.

2 of 3

Cara mencegah hipotermia

Sebelum Anda atau keluarga Anda melangkah keluar dan terpapar udara dingin, ingatlah saran COLD, kependekan dari cover, overexertion, layer, dan dry:

  • Cover (penutup): kenakan topi atau penutup pelindung lainnya untuk mencegah panas tubuh keluar dari kepala, wajah, dan leher Anda. Selain itu, pakailah jaket ketika berada di luar ruangan. Jika hujan, jangan lupa pakai jas hujan. Kalau perlu tutupi tangan Anda dengan sarung tangan.
  • Overexertion (bekerja terlalu keras): hindari kegiatan yang akan menyebabkan Anda berkeringat banyak. Kombinasi pakaian basah dan cuaca dingin dapat menyebabkan Anda kehilangan panas tubuh lebih cepat.
  • Layers (lapisan): pakai pakaian longgar, berlapis, tapi ringan. Pakaian luar yang terbuat dari bahan tenun yang kuat dan antiair adalah perlindungan terhadap angin terbaik. Lapisan dalam dari wol, sutra, atau polypropylene baik untuk menahan panas tubuh daripada katun.
  • Dry (tetap kering): tetap kering semaksimal mungkin. Ganti pakaian basah Anda sesegera mungkin. Berhati-hatilah supaya tangan dan kaki Anda tetap kering. Kalau perlu, ganti sepatu, kaus kaki, dan celana jika sudah basah akibat hujan.

Selain itu, dr. Dyan juga menyarankan untuk tidak melakukan aktivitas seperti berenang saat musim hujan. Akan tetapi, ketika Anda harus melakukannya, jangan dilakukan terlalu lama. Selain itu, jangan berlama-lama di luar ruangan ketika angin kencang agar tak terkena hipotermia.

Mengenali tanda, gejala, dan tindakan pencegahan hipotermia bisa sangat berguna kala menghadapi musim hujan seperti sekarang ini. Pastikan pakaian dan tubuh Anda selalu dalam kondisi kering. Jika Anda sudah merasa kedinginan, minuman hangat bisa membantu Anda untuk sementara waktu. Namun jika gejala yang Anda rasakan semakin memburuk, segera periksa ke dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓