Bisakah Kelahiran Prematur Dideteksi Sejak Dini?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 16 Nov 2018, 17:15 WIB
Kelahiran prematur menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling tidak diharapkan. Bisakah hal tersebut dideteksi sejak dini?
Bisakah Kelahiran Prematur Dideteksi Sejak Dini? (Elnur/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kelahiran prematur masih menjadi masalah yang perlu perhatian lebih. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati urutan kelima sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Untuk menekan angka kejadian, bisakah kelahiran prematur dideteksi sejak dini?

Perlu diketahui, bayi dikategorikan sebagai prematur apabila dirinya lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Keadaan lahir sebelum waktunya tersebut membuat bayi berisiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai kondisi merugikan, termasuk berisiko tinggi untuk mengalami kematian dini.

Kendati demikian, kelahiran prematur sebenarnya bisa dideteksi sejak awal melalui berbagai faktor risiko yang dialami ibu selama hamil.

"Deteksi dini kelahiran prematur biasanya lebih kepada faktor risikonya. Misalnya, untuk ibu yang memiliki preeklamsia, yang tekanan darahnya tinggi selama hamil, itu berisiko melahirkan prematur. Selain itu, ibu yang merokok, suka minum alkohol, dan memiliki gaya hidup yang tidak sehat sangat mungkin melahirkan bayi yang prematur," ujar dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter.

"Selain itu, ada faktor dari rahim itu sendiri. Misalnya, rahimnya kurang kuat sehingga mulut rahim mudah terbuka. Faktor-faktor itu berperan pada kejadian bayi lahir prematur. Jadi, sebenarnya tidak bisa diprediksi, tapi bisa diketahui risikonya dari faktor-faktor tersebut," sambung dr. Ega.

Lebih lanjut, dr. Ega mengatakan bahwa faktor risiko tersebut tidak dapat menjadi penentu kelahiran prematur. Dengan kata lain, kelahiran prematur belum tentu terjadi meski Anda memiliki faktor risiko yang dimaksud.

“Tapi perlu diketahui juga bahwa faktor risiko tersebut hanya meningkatkan kemungkinan bayi lahir prematur. Soalnya kalau sudah terdeteksi hal itu, biasanya ada tindakan-tindakan yang akan dilakukan dokter agar bayi tidak lahir prematur," tegas dr. Ega.

Faktor kelahiran prematur lainnya

Di luar faktor risiko yang telah disebutkan dr. Ega, terdapat beberapa hal lain yang bisa meningkatkan terjadinya kelahiran prematur. Berikut beberapa di antaranya:

1. Riwayat kelahiran prematur

Apakah Anda pernah melahirkan secara prematur sebelumnya? Jika ya, Anda memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami kelahiran prematur di waktu selanjutnya. Risiko ini bisa semakin meningkat jika jarak kehamilan saling berdekatan.

2. Bayi kembar

Ibu yang akan melahirkan bayi kembar memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan secara prematur.

3. Diabetes

Diabetes yang terjadi sebelum hamil memungkinkan sang ibu untuk melahirkan sebelum waktunya.

4. Usia

Wanita yang hamil di bawah usia 18 tahun dan di atas 30 tahun memiliki risiko melahirkan secara prematur yang lebih tinggi.

5. Infeksi yang tidak diobati

Infeksi saluran kemih yang tidak diobati dengan benar adalah salah satu keadaan yang termasuk dapat meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur.

Tidak ada seorang ibu hamil pun yang ingin mengalami kelahiran prematur. Karena itu, jika Anda merasa mengalami beberapa faktor risiko yang telah disebutkan di atas, segera periksakan diri untuk berobat ke dokter kandungan. Dengan demikian, risiko kelahiran prematur bisa ditekan dan si Kecil dapat lahir tepat waktu dalam kondisi sehat.

[NB/ RVS]