Bolehkah Menambahkan Garam dan Gula dalam MPASI?

Oleh Ayu Maharani pada 27 Nov 2018, 12:45 WIB
Agar si Kecil lebih lahap menyantap MPASI, kadang orang tua menambahkan gula atau garam ke dalamnya. Apakah ini boleh?
Bolehkah Menambahkan Garam dan Gula dalam MPASI? (Dturphoto/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tak terasa, si Kecil sudah berusia 6 bulan. Ini berarti, waktunya pemberian MPASI untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Sayangnya, proses MPASI ini tak selalu berjalan mulus. Bisa jadi anak tak mau membuka mulutnya, atau kalau sudah masuk mulut lalu dikeluarkan lagi. Kadang, orang tua mengira penyebabnya adalah rasanya yang hambar, sehingga garam dan gula kerap ditambahkan ke dalam MPASI sebagai penyedap. Apakah ini boleh?

Menurut penjelasan dari dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, pada anak di bawah usia 1 tahun sebaiknya makanannya tidak diberikan garam. Ini karena indra perasa bayi perlu mendapatkan kesempatan untuk mencicipi rasa murni dari makanan.

“Sejak dulu, garam sering dipakai untuk menambahkan rasa pada makanan anak. Namun sebetulnya, saat anak masih mengonsumsi ASI maka kebutuhan garam yang dibutuhkan masih bisa didapat dari ASI (atau susu formula jika ia mengonsumsinya). Jadi, anak tidak akan kekurangan sodium sekalipun makanannya tidak diberi garam. Jika diberikan di bawah usia 1 tahun kemungkinan ginjal bayi akan lebih berat bekerja,” jelas dr. Dyah.

World Action on Salt & Health menyatakan bahwa bayi sebenarnya hanya membutuhkan sedikit garam pada makanannya. Sebab, ginjal bayi belum berkembang sempurna untuk mengolah dan mencerna garam seperti orang dewasa. Bahkan, dr. Irma Rismayanty juga mengatakan kepada KlikDokter, bahwa sebaiknya Anda tidak menambahkan garam dapur sebelum anak berusia 12 bulan. Jika ingin menambahkan garam, berikan jumlah sedikit saja untuk menciptakan rasa yang agak berbeda (tidak perlu sampai membubuhkannya garam seperti pada makanan orang dewasa).

Lalu, bagaimana dengan gula?

“Ketika si Kecil sudah mulai terbiasa dengan makanan pendampingnya, Anda dapat memberikan gula hanya sebagai perasa agar ia bisa mengenal dan membedakan rasa. Jumlah gula yang diberikan pun hanya boleh berkisar 5-10 persen dari total kebutuhan energi harian,” jelas dr. Irma.

Supaya lebih jelas lagi, berikut ini rekomendasi takaran pemberian gula terhadap MPASI menurut American Heart Association Guidelines.

  • Bayi usia 6-8 bulan hanya boleh mendapatkan ½ - 1 sdt gula per hari
  • Bayi usia 8-12 bulan hanya boleh mendapatkan ½ - 1 ½ sdt gula per hari

Aturan tersebut berlaku untuk gula tambahan (gula pasir), bukan gula alami yang terdapat dalam makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti buah-buahan dan susu rendah lemak.  Meski pada dasarnya anak-anak membutuhkan gula sebagai energi, tapi berikanlah dalam jumlah yang sesuai rekomendasi. Ini penting untuk mencegah obesitas dan kerusakan gigi.

Jadi, kesimpulannya Anda diperbolehkan untuk memberikan garam dan gula ke dalam MPASI si Kecil, tetapi dalam jumlah yang direkomendasikan, atau kalau saran dr. Dyah, kalau pemberiannya membuat anak mau makan. Berikan sesedikit mungkin pada anak di bawah 12 bulan karena berkaitan dengan kesehatan ginjalnya. Setelah melewati usia 1 tahun, pemberian gula dan garam lebih bebas, tetapi tetap harus dibatasi.

Sebagai tips untuk menghindari aksi “tutup mulut” si Kecil saat diberikan MPASI, sebaiknya kenalkan ia MPASI berbahan sayur-sayuran terlebih dulu, baru buah-buahan. Sebab, sayur memiliki cita rasa yang lebih hambar daripada buah. Jika bayi mengenal rasa manis dari buah terlebih dulu, tentu ia akan menolak rasa hambar dari sayuran. Hal ini juga berpengaruh terhadap pemberian garam dan gula pada MPASI sayuran. Supaya garam dan gula tidak terlalu banyak diberikan ke dalam MPASI tersebut untuk meningkatkan cita rasa, sebaiknya kenalkan buah setelah Anda mengenalkannya rasa sayuran terlebih dulu.

[RN/ RVS]