7 Jenis Obat yang Tidak Boleh Diberikan pada Anak

Oleh Nur Budhi pada 27 Nov 2018, 14:40 WIB
Tidak semua jenis obat dapat diberikan untuk anak. Bila sembarangan, yang akan terjadi kemudian adalah efek samping yang membahayakan.
7 Jenis Obat yang Tidak Boleh Diberikan pada Anak (Aleksandra-Suzi/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagai orang tua, apa yang akan Anda lakukan ketika mengetahui bahwa si Kecil sedang sakit? Hal pertama yang biasa dilakukan orang tua adalah mencarikan obat agar kondisi kesehatan anak bisa segera membaik. Hal tersebut sangat umum dilakukan, namun Anda harus tetap waspada dan berhati-hati. Pasalnya, terdapat jenis obat tertentu yang tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak.

Melansir babycenter.com, berikut adalah beberapa obat yang sebaiknya tidak diberikan pada anak:

1. Aspirin

Aspirin, yang memiliki nama lain salisilat atau asma asetilsalisilat, adalah jenis obat yang tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak tanpa adanya resep dokter. Hal ini karena aspirin dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom Reye pada anak.

Sindrom Reye adalah penyakit langka yang memiliki gejala, seperti muntah-muntah dan badan lemas yang diikuti dengan penurunan kesadaran. Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, sindrom Reye dapat mengancam nyawa penderitanya.

2. Ibuprofen

Ibuprofen biasanya digunakan untuk mengatasi demam. Obat ini tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak yang asma sejak lahir atau masih berusia kurang dari 6 bulan, tanpa adanya resep dari dokter. Sebab, obat jenis ini dapat menghambat produksi senyawa penting di dalam tubuh dan berpotensi menyebabkan peradangan.

3. Sirup ipekak

Sirup ipekak (ipecac syrup) adalah jenis obat yang ditujukkan untuk memicu muntah, yang biasanya digunakan untuk mengatasi keracunan. Obat jenis ini sangat tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak usia berapa saja.

Faktanya, banyak ahli yang tak lagi merekomendasikan penggunaan sirup ipekak. Ini karena tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa muntah dapat membantu mengobati keracunan. Justru, muntah setelah “kemasukan” racun bisa berbahaya bagi kesehatan.

4. Obat batuk atau flu yang dijual bebas

The American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan bahwa obat batuk dan flu yang dijual bebas di pasaran tidak disarankan untuk diberikan pada anak yang belum genap berusia 3 tahun.

Penelitian menyebut, pemberian obat batuk atau flu yang dijual bebas pada anak yang belum berusia 3 tahun tidak benar-benar bermanfaat. Kondisi tersebut malah berbahaya bagi anak, apalagi jika dosisnya berlebihan. Ini karena obat-obatan tersebut dapat memberikan efek berupa mengantuk atau sulit tidur, sakit perut, dan ruam atau gatal-gatal. Selain itu, pemberian obat batuk atau flu yang dijual bebas pada anak di bawah usia 3 tahun juga bisa menyebabkan detak jantung cepat, kejang, bahkan kematian.

5. Obat untuk orang dewasa

Memberikan obat yang dikhususkan untuk orang dewasa pada anak sangat tidak dianjurkan, sekalipun obat tersebut sudah dibagi menjadi ukuran yang lebih kecil. Anda tak ingin si Kecil mengalami efek samping yang mungkin membahayakan keselamatannya, bukan?

6. Obat yang diresepkan untuk orang atau penyakit lain

Obat memiliki fungsi yang spesifik. Jadi, penggunaannya juga harus disesuaikan dengan keadaan pasien dan jenis penyakit yang dialami.  Maka dari itu, hindari memberikan obat yang diresepkan dokter untuk orang lain kepada anak Anda, sekalipun penyakit dan keluhannya mirip.

7. Obat tetes mata

Ketika mata anak terlihat merah, berair atau gatal, jangan langsung memberinya obat tetes mata yang biasa dijual bebas. Bukannya sembuh, perilaku tersebut justru bisa membahayakan kesehatan indra penglihatan si Kecil.

Perlu diketahui, anak belum memiliki kondisi mata yang berkembang sempurna. Sehingga, penggunaan obat mata yang biasa dijual bebas di pasaran (ditujukan untuk dewasa) dapat berefek merugikan, bahkan bisa mengganggu kualitas penghilatan si Kecil.

Konsumsi obat memang dapat membantu dalam mengurangi atau mengatasi keluhan penyakit, baik pada anak maupun orang dewasa. Akan tetapi, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi dan keluhan yang terjadi pada pasien. Oleh karena itu, akan lebih baik jika Anda membawa anak periksa ke dokter ketika anak sakit. Dengan demikian dokter bisa memberikan penanganan yang tepat sekaligus meresepkan obat dalam dosis yang benar-benar sesuai dengan anak.

[RVS]