Jangan Abaikan Sarapan Saat Lakukan Puasa Intermiten

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 28 Nov 2018, 17:00 WIB
Boleh-boleh saja Anda melakukan puasa intermiten, tapi jangan sampai melewatkan sarapan.
Jangan Abaikan Sarapan Saat Lakukan Puasa Intermiten (bluedog-studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Apakah Anda tahu puasa intermiten atau intermittent fasting? Itu adalah metode pengaturan pola makan dengan cara berpuasa selama beberapa waktu. Akan tetapi, orang-orang yang menjalani metode pengaturan makan ini kerap melewatkan sarapan. Apakah tidak makan pagi saat melakukan puasa intermiten bermanfaat bagi tubuh?

Seperti namanya, Anda tidak harus menghapus daftar makanan yang Anda suka demi mendapatkan badan dengan berat ideal. Anda hanya perlu mengatur kapan waktu makan dan kapan saatnya berpuasa. Tidak perlu juga mencoret makanan tinggi karbohidrat dan tinggi lemak untuk menjalani diet ini.

Berbeda dengan diet lainnya, metode puasa intermiten biasanya mengacu pada waktu makan 16 jam sekali atau yang paling ekstrem adalah 24 jam. Dalam metode 16 jam, dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter menyebut cara ini cukup mudah dilakukan. Anda harus membagi waktu 16 jam berpuasa dan 8 jam makan.

Misalnya, jika terakhir makan malam pukul 18.00 maka Anda diperbolehkan makan kembali pada pukul 10.00 keesokan harinya, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa hingga 16 jam ke depan.

Sementara itu, untuk metode 24 jam, Anda berarti berpuasa 24 jam penuh, tapi ini hanya dilakukan 1-2 kali dalam seminggu. Sebagai contoh, jika Anda terakhir makan 18.00 maka Anda kembali boleh makan pada 18.00 keesokan harinya.

Manfaat puasa intermiten untuk turunkan berat badan

Puasa intermiten sangat ampuh untuk menurunkan berat badan karena membuat Anda makan lebih sedikit. Puasa intermiten memaksa Anda mengurangi asupan kalori harian secara otomatis. Selain itu, intermittent fasting juga mengubah kadar hormon untuk memfasilitasi penurunan berat badan.

Puasa intermiten juga menurunkan insulin dan meningkatkan kadar hormon pertumbuhan. Jenis metode pengaturan makan ini dapat meningkatkan pelepasan hormon pembakar lemak norepinefrin (noradrenalin). Karena perubahan hormon ini, puasa jangka pendek dapat menaikkan tingkat metabolisme Anda sebesar 3,6 hingga 14 persen.

Dengan membantu Anda makan lebih sedikit dan membakar lebih banyak kalori, intermittent fasting menyebabkan penurunan berat badan dengan mengubah kedua sisi persamaan kalori. Studi menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat menjadi alat penurun berat badan yang sangat efektif.

1 of 2

Sering melewatkan sarapan

Hal yang keliru, orang-orang yang melakukan puasa intermiten sering kali melewatkan sarapan. Lalu, bagaimana jika orang tersebut melakukan puasa intermiten dengan metode 16 atau 24 dan terakhir makan pada malam hari? Kondisi ini membuat mereka mau tidak mau melewatkan sarapan, bukan?

Terkait hal ini, Ellie Krieger, kolumnis dan pemerhati masalah kesehatan dari The Washington Post punya jawabannya. Dia menulis bahwa jeda pengaturan makanan adalah yang harus diubah oleh setiap orang yang melakukan puasa intermiten.

Dalam hal ini, jika sering berpuasa pada malam hari, cobalah untuk memulainya pada pagi hari. Sebagai contoh, jika Anda melakukan metode 16 jam, cobalah berpuasa di sore hari agar Anda bisa sarapan keesokan harinya. Sementara, jika Anda melakukan metode 24 jam, makanlah di pagi hari untuk sarapan agar Anda bisa kembali makan keesokan harinya pada pagi hari.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan di pagi dan sore hari memiliki profil lemak darah yang lebih sehat dan kontrol gula darah yang lebih baik dibanding orang yang hanya makan pada sore hari. Selain itu, orang-orang yang sarapan cenderung memiliki asupan gizi keseluruhan yang lebih baik daripada mereka yang melewatkannya. Selain itu, sarapan membuat Anda bertenaga dan bisa melakukan aktivitas selama satu hari.

Studi lain juga menyebut bahwa sarapan sangat bagus, bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga orang dewasa. Orang-orang yang sarapan memiliki kognisi dan memori yang lebih baik daripada mereka yang melewatkannya. Otak hanya akan beroperasi lebih baik ketika ada makanan yang masuk ke perut daripada dalam kondisi perut kosong. Hal yang sama berlaku untuk olahraga.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan sebelum berolahraga, tampil lebih baik daripada mereka yang tidak. Banyak orang menjadi pusing dan lemah jika mereka mencoba berolahraga dengan perut kosong. Selain itu, penelitian dari University of Bath menunjukkan bahwa sarapan sebelum berolahraga dapat membantu tubuh memetabolisme karbohidrat lebih baik di kemudian hari.

Puasa intermiten menjadi salah satu alternatif diet untuk Anda. Jika Anda merasa diet jenis ini akan membantu Anda hidup lebih sehat, sah-sah saja dilakukan. Akan tetapi, sebaiknya Anda tidak melewatkan sarapan. Anda bisa atur waktu kapan mulai berpuasa intermiten agar bisa tetap sarapan. Ingatlah, sarapan juga punya segudang manfaat bagi kesehatan Anda.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓