Sembelit, Haruskah Minum Obat?

Oleh Ayu Maharani pada 29 Nov 2018, 14:40 WIB
Susah buang air besar (BAB) alias sembelit tentu membuat kondisi perut tidak nyaman. Haruskah obat pencahar selalu menjadi solusi utama?
Sembelit, Haruskah Minum Obat? (Teeramet-Thanomkiat/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Buang air besar (BAB) normalnya dilakukan setiap hari. Namun, ada kalanya proses pembuangan kotoran itu berjalan mandek dan keras. Awalnya, mungkin hanya BAB Anda hanya telat sehari, lalu dua hari, lalu empat hari, dan sampailah di hari ketujuh! Wah, sudah bisa dipastikan bahwa Anda mengalami sembelit. Sebab, seseorang dikatakan sembelit apabila frekuensi BAB-nya kurang dari tiga kali seminggu.

Alhasil, kekhawatiran pun mulai terjadi. Karena perut juga sudah terasa begah dan tidak nyaman, Anda biasanya langsung memutuskan untuk membeli obat pencahar di apotek terdekat. Kendati demikian, tebesit juga pikiran, apakah sembelit selalu harus diatasi dengan minum obat pencahar? Sebab, ada pula beberapa kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengonsumsi obat pencahar meski terjadi sembelit, yakni ibu hamil dan balita. Jadi, bagaimana solusinya?

Sembelit tak harus diatasi dengan obat

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, sebenarnya ada cara-cara di luar penggunaan obat untuk mengatasi sembelit. Misalnya, minum air putih dan makan buah-buahan tertentu, seperti pepaya, pir, atau alpukat yang bisa melancarkan buang air besar. “Jadi, selama masih bisa diatasi dengan dua cara tersebut, obat pencahar tidak diperlukan.” kata dr. Dyan Mega.

Pemberian obat pencahar juga tidak bergantung pada berapa lama ia sudah tidak buang air besar. Jadi, obat-obatan hanya diberikan apabila orang itu sudah sangat merasa begah, sakit perut, hingga kehilangan nafsu makan karena kondisi perutnya yang sudah terlalu penuh. “Kalau orang yang mengalami sembelit tidak mengalami rasa yang terlalu mengganggu, sebaiknya dicoba dulu dengan air putih dan buah-buahan. Obat itu pilihan terakhir,” dia menambahkan.

Lagipula, obat pencahar juga tidak boleh digunakan terlalu sering dan dalam jangka waktu yang panjang. Obat pencahar sebaiknya tidak dijadikan senjata pertama untuk melancarkan BAB. Sebab, hal tersebut dapat memengaruhi pergerakan usus secara alami dan membuat ketergantungan. Hal itu malah akan memperburuk kondisi kesehatan Anda.

Oleh sebab itu, sebelum membeli dan mengonsumsi obat pencahar secara mandiri, konsultasikan terlebih dahulu kondisi sembelit kepada dokter. Supaya, dokter dapat mencari tahu penyebab pasti dari sembelit yang diderita sehingga pengobatan bisa tepat sasaran.

1 of 2

Pilih yang kecil efek sampingnya

Jika memang Anda memerlukan obat pelancar BAB, menurut dr. Dyan Mega, sebaiknya Anda memilih jenis yang langsung dimasukkan ke dalam anus karena proses kerjanya yang lokal (hanya bekerja di usus bagian paling bawah) tanpa memengaruhi pergerakan usus secara keseluruhan. Efek sampingnya pun lebih sedikit ketimbang obat oral. Itulah mengapa biasanya, ibu hamil atau balita dianjurkan oleh dokter untuk menggunakan pelancar BAB yang langsung dimasukkan ke anus.

Di sisi lain, terlepas dari seberapa penting obat pencahar untuk mengatasi sembelit, mencegah sembelit akan jauh lebih baik. Salah satu cara yang paling mudah selain banyak minum air dan makan buah-buahan tertentu adalah dengan tidak terlalu sering dan lama menahan BAB. Kalau Anda biasa menahan BAB karena sedang sibuk bekerja, hal ini akan sangat merugikan diri sendiri.

Menahan BAB hanya akan membuat feses mengeras dan akhirnya menumpuk di usus bagian bawah. Kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko terjadinya penyumbatan usus yang berujung pada penyakit pencernaan yang lebih kronis. Selain itu, sediakan waktu di pagi hari untuk menunggu keluarnya kotoran dari tubuh Anda selama 30 menit. Dengan begitu, tubuh Anda menjadi lebih terbiasa untuk selalu BAB di pagi hari.

Jadi, kalau Anda mengalami sembelit, cobalah untuk minum banyak air putih dan mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti sayuran dan buah-buahan. Namun, apabila penderita sembelit sudah merasakan sakit perut dan begah, sampai kehilangan nafsu, barulah obat pencahar BAB boleh digunakan. Itu pun harus sesuai anjuran dokter.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓