Merajut Kesetaraan di Hari Difabel Internasional

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 03 Des 2018, 11:38 WIB
Desember menjadi momen untuk mengikrarkan bahwa kaum difabel juga bisa diandalkan, dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama.
Merajut Kesetaraan di Hari Difabel Internasional (JarenWicklund/123rf)

Klikdokter.com, Jakarta Sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 1992, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tanggal 3 Desember sebagai International Day of Persons with Disabilities atau Hari Difabel Internasional setiap tahunnya. Kegiatan ini ditujukan untuk mempromosikan hak dan kesejahteraan dari komunitas difabel dari berbagai latar belakang. Tujuan lainnya juga untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai komunitas difabel dari sisi politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

Pada tahun ini tema yang diangkat pada Hari Difabel Internasional adalah “Empowering Persons with Disabilities and Ensuring Inclusiveness and Equality” . Tema ini kemudian oleh Kementerian Sosial RI diterjemahkan dalam tema nasional menjadi “Indonesia Inklusif dan Ramah Disabilitas.”

Lewat tema ini, harapannya kaum difabel bisa semakin berdaya dan inklusivitas serta kesetaraan dapat lebih ditingkatkan. Hal ini sejalan dengan Agenda for Sustainable Development yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dicapai pada tahun 2030.

Pada agenda tersebut terdapat kata-kata ‘leave no one behind’ atau ‘tidak meninggalkan siapapun’. Dari kalimat tersebut tersurat makna untuk membangun komunitas yang damai dan sejahtera dengan menegakkan kesetaraan bagi setiap individu, termasuk para penyandang cacat.

Tantangan bagi para penyandang disabilitas

Menurut informasi dari World Health Organization (WHO), setidaknya 10 persen dari populasi dunia, atau sekitar 650 juta individu, memiliki satu jenis disabilitas. Selain itu, organisasi tersebut juga menambahkan bahwa persentase anak dengan disabilitas yang tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak cukup bervariasi, bisa mencapai 65-85 persen pada beberapa negara di Afrika.

Hal ini karena kaum difabel di negara dengan pendapatan rendah dan menengah hanya memiliki kemampuan mengakses alat bantu dan teknologi sebesar 5-15 persen. Dengan berbagai tantangan yang dialami oleh individu dengan disabilitas, sangat dibutuhkan strategi yang dapat mempermudah para individu tersebut di berbagai sektor perkembangan.

Salah satu solusinya adalah dengan memenuhi ketersediaan alat dan teknologi bantuan. Sehingga, fungsi kaum disabilitas bisa lebih mandiri, aktif berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari, dan mampu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya.

Beberapa contoh dari teknologi yang telah ada adalah kursi roda, alat prostetik, alat bantu dengar, alat bantu lihat, dan sebagainya. Dengan seluruh tantangan yang ada, sebaiknya dukungan kaum difabel bukan hanya diperoleh dari teknologi mutakhir, namun juga dari lingkungan sekitarnya.

Peran dari lingkungan sekitar

Salah satu hal yang telah diterapkan untuk meningkatkan kualitas hidup kaum disabilitas adalah dengan menjunjung inklusivitas di berbagai institusi, termasuk sekolah, perguruan tinggi, perkantoran, dan sebagainya. Sebagian tempat telah menyediakan fasilitas untuk individu dengan disabilitas, seperti jalan khusus atau akses tanpa tangga bagi individu yang membutuhkan kursi roda, fasilitas lift bila dibutuhkan, dan sebagainya.

Adanya hal tersebut tentu sangat membantu penyandang disabilitas untuk menjalani aktivitas sehari-harinya. Kini bahkan semakin banyak lapangan kerja yang ramah bagi kaum disabilitas. Sebagai contoh, salah satu restoran di Vietnam memilih untuk mempekerjakan penyandang disabilitas untuk memberdayakan kaum tersebut.

Selain itu, sejumlah organisasi non-profit di berbagai belahan dunia juga  menyediakan alat bantu yang dibutuhkan penyandang disabilitas, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas hidup para difabel dan membuat keberadaannya setara di masyarakat.

Momen Hari Difabel Internasional diselenggarakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya inklusivitas dan kesetaraan bagi individu dengan disabilitas. Harapannya, setiap tahunnya kesetaraan tersebut semakin diketahui dan dijunjung, agar penyandang disabilitas dapat menjalani aktivitasnya dengan lancar, sama seperti individu lainnya.

[NP/ RVS]