Ibu Hamil Sering Kehujanan, Apa Efeknya bagi Kesehatan?

Oleh Ayu Maharani pada 05 Des 2018, 15:20 WIB
Selain common cold, ada bahaya lain yang mengintai kesehatan ibu hamil jika mereka terlalu sering kehujanan.
Ibu Hamil Sering Kehujanan, Apa Efeknya bagi Kesehatan? (Vyshnova/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hampir tiap sore, langit berubah gelap dan hujan turun dengan deras. Alhasil, kondisi tersebut membuat sebagian orang harus pulang dengan kondisi basah, termasuk ibu hamil yang pulang bekerja. Dalam hal ini, sebaiknya ibu hamil tidak terlalu sering kehujanan sebab hal tersebut dapat mengganggu kesehatannya. Salah satu gangguan kesehatan umum yang dapat menyerang ibu hamil adalah common cold atau rhinitis viral.

Common cold yang terjadi di musim hujan, di antaranya adalah diare, batuk, dan pilek. Selain itu, penyakit cukup berat lainnya yang bisa menyerang adalah leptospirosis, yakni penyakit akibat bakteri leptospira yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi,” ujar dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter.

Sementara itu, sistem imunitas tubuh pada ibu hamil biasanya lebih lemah daripada orang kebanyakan. Karena itu, mereka lebih rentan terkena berbagai infeksi penyakit. Apabila ibu hamil sering kehujanan, otomatis sistem kekebalan tubuh akan semakin memburuk.

Hasilnya? Gejala penyakit dan proses penyembuhannya pun lebih lama ketimbang wanita yang sedang tidak hamil. “Penyembuhan flu pada orang biasa atau tidak hamil umumnya 3-5 hari. Sedangkan pada ibu hamil, prosesnya jauh lebih lama,” tutur dr. Sepriani. Jadi, sangat penting untuk menjaga agar ibu hamil tidak sering kehujanan.

Bisa terkena infeksi sekunder

Buruknya sistem imunitas tubuh yang dimiliki ibu hamil yang tengah terserang common cold, ditambah dengan beban pekerjaan, bisa membuatnya terkena berbagai infeksi sekunder. Ironisnya, infeksi sekunder itulah yang jauh lebih berbahaya dari sekadar common cold.

“Ibu hamil yang daya tahan tubuhnya lemah, rentan terkena infeksi bakteri sehingga si ibu bisa menderita dua penyakit secara bersamaan. Hal ini bisa membahayakan kehamilan,” kata dr. Sepriani.

Saat terkena infeksi bakteri, ibu hamil membutuhkan antibiotik untuk membunuh bakteri berbahaya di dalam tubuh. Namun begitu, daftar antibiotik untuk ibu hamil sangat terbatas.

Jadi, mengobati infeksi bakteri pada ibu hamil itu jauh lebih sulit ketimbang mengobati infeksi bakteri pada orang kebanyakan. Jika tidak tertangani dengan cepat, infeksi bakteri bisa membahayakan kesehatan si ibu dan janin dalam kandungannya.

Ibu hamil yang telanjur terkena infeksi sekunder – dalam hal ini infeksi bakteri – memiliki gejala demam yang mirip dengan anak-anak, yaitu demam yang membuat dehidrasi. “Ya, dehidrasi pada ibu hamil bisa membahayakan janin. Dehidrasi bisa mengurangi air ketuban dan menyebabkan kelahiran prematur,” kata dr. Sepriani.

Infeksi bakteri yang paling ditakutkan ibu hamil adalah infeksi pneumonia dan infeksi bakteri pada vagina. Sebab, infeksi pneumonia bisa mengendap di dalam darah dan infeksi bakteri pada vagina dapat menjalar ke uterus sehingga memicu air ketuban pecah sebelum waktunya.

Itulah sebabnya ibu hamil sangat disarankan untuk tidak terlalu sering kehujanan, karena kondisi tersebut bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh. Agar tidak kehujanan, ibu hamil perlu selalu membawa payung, mantel hujan, dan tidak naik sepeda motor. Ibu hamil juga perlu membawa minuman hangat di termos untuk mencegah terkena common cold. Yang juga tidak kalah penting, ibu hamil perlu menjaga daya tahan tubuhnya dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, dan teratur memeriksakan kandungannya ke dokter.

[HNS/ RVS]