Mengenal Paruresis, Kondisi Sulit Buang Air di Toilet Umum

Oleh Novita Permatasari pada 11 Dec 2018, 09:00 WIB
Pernahkah Anda merasakan kecemasan yang berlebihan saat ingin buang air di toilet umum? Jika ya, bisa jadi Anda terkena paruresis.
Mengenal Paruresis, Kondisi Sulit Buang Air di Toilet Umum (GBALLGIGGSPHOTO/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Mungkin Anda tak menyadarinya. Nyatanya, pada sebagian orang yang mengalami paruresis, keinginan mereka untuk buang air –baik buang air besar (BAB) maupun buang air kecil (BAK)– mendadak hilang saat berada di toilet umum atau tempat-tempat tertentu yang membuat mereka merasa tidak nyaman untuk buang air, terutama buang air kecil.

Dijelaskan oleh Steven Soifer, Ph.D., yang merupakan CEO dari International Paruresis Association (IPA), bahwa paruresis adalah semacam kecemasan yang terjadi pada kandung kemih. Dalam situasi tertentu, orang dengan pauresis akan mengalami kesulitan buang air kecil di tempat umum.

“Rasanya seperti demam panggung, malu, cemas, atau kombinasi dari ketiganya. Pada beberapa orang, kecemasan yang dialaminya bisa sangat parah,” jelasnya.

Agar terhindar dari paruresis, Anda pun perlu mengetahui berbagai penyebab yang mungkin memicu Anda terkena gangguan buang air kecil ini.

Penyebab orang mengalami paruresis

Dilansir dari situs resmi International Paruresis Association (IPA), sekitar 21 juta orang Amerika menderita gangguan paruresis yang juga dianggap sebagai gangguan kecemasan sosial. Rata-rata dari mereka merasa sulit untuk buang air kecil, dimana terdapat keramaian, baik di rumah mereka sendiri atau fasiltas umum.

Dijelaskan dalam WebMD, kondisi tersebut berkaitan dengan otot sfingter yang terkunci saat orang dengan paruresis melihat orang lain di toilet umum. Otot-otot yang seharusnya mengontrol aliran urine dari kandung kemih tersebut membeku, sehingga saat mengalami paruresis, Anda akan kesulitan buang air kecil.

Karena berhubungan dengan masalah sosial, maka gangguan ini kemudian digolongkan ke dalam gangguan kecemasan sosial. Selain penyebab di atas, ada beberapa hal yang dapat memicu Anda mengalami paruresis, yakni sebagai berikut:

  1. Rasa membutuhkan privasi

Kurangnya privasi dalam toilet umum sangat mungkin membuat Anda mengalami paruresis. Hal ini terutama terjadi pada pria, yang pada toilet umum biasanya hanya dibatasi oleh sekat, atau bahkan tidak.

  1. Toilet yang terlalu ramai

Melihat banyak orang yang tidak dikenal dalam toilet dapat memicu seseorang mengalami paruresis. Hal ini karena membuat mereka merasa tidak nyaman, terlebih lagi saat harus bertemu dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya sebelum. Keinginan buang air kecil pun akan menghilang.

  1. Emosi yang tidak stabil

Kecemasan, rasa marah, takut, atau perasaan tertekan juga bisa mempersulit urine keluar dari kandung kemih.

1 of 2

Apa saja tanda dan gejala paruresis?

Setelah mengetahui berbagai penyebab di atas, Anda juga harus mengetahui berbagai tanda dan gejala ketika seseorang mengalami paruresis, seperti dilansir dari Verywell Mind berikut ini. Bisa jadi, Anda pun pernah mengalaminya:

  • Ada rasa takut orang lain mengetahui ketika Anda akan menggunakan toilet.
  • Tidak bisa menggunakan kamar kecil selain di rumah.
  • Menghindari berbagai acara karena takut harus ke toilet umum.
  • Tidak minum karena menghindari toilet umum.
  • Munculnya pikiran negatif saat akan menggunakan toilet umum.

Meski dinilai sebagai gangguan kecemasan, seseorang yang mengalami paruresis bukan berarti menderita masalah psikologis yang serius. Sebab, paruresis atau juga sering disebut shy bladder syndrome bisa diatasi dengan terapi tertentu. Jadi, bila Anda mengalami berbagai gejala di atas, segeralah menemui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Bahaya bila paruresis tak segera diatasi adalah kemungkinan timbulnya penyakit lain yang lebih berbahaya. Hal ini turut disampaikan oleh dr. Dyah Novita Anggraini kepada KlikDokter.

“Buang air baik besar maupun kecil merupakan kebiasaan alami yang terjadi pada tubuh manusia. Kebiasaan ini baik untuk tubuh karena membantu membuang racun. Frekuensi buang air yang lancar juga menandakan bahwa metabolisme tubuh pun berjalan dengan lancar. Nah, bila buang air tidak lancar, risikonya adalah muncul penyakit,” jelasnya.

Bisakah paruresis ditangani?

Bagi Anda yang telah mengalami paruresis dan ingin terbebas dari gangguan tersebut, biasanya dokter akan menyarankan pengobatan dengan terapi perilaku kognitif. Jenis terapi ini dapat membantu menurunkan respons otak terhadap kecemasan tertentu.

Pasien biasanya akan diminta untuk berlatih kencing di berbagai lokasi toilet, misalnya di hotel, toilet umum di pusat perbelanjaan yang kosong, hingga akhirnya mencoba buang air kecil di toilet yang ramai. Latihan ini cukup efektif untuk meningkatkan kualitas hidup penderita paruresis.

Dalam prosesnya, dokter mungkin saja memberikan obat kecemasan sosial untuk mengurangi rasa malu. Jenis obat yang biasa digunakan adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) atau Inhibitor monoamine Oxidase. Keduanya akan diberikan dokter sesuai dengan kondisi pasien.

Meski dianggap sepele, nyatanya dalam dunia medis kesulitan untuk buang air kecil di toilet umum memang ada dan disebut dengan gangguan paruresis. Oleh sebab itu, bila Anda mengalami berbagai tanda dan gejala paruresis di atas, segera periksakan diri ke dokter sebelum kondisi Anda semakin parah.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓