Kiat Traveling dengan Anak Autis

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 12 Dec 2018, 16:20 WIB
Traveling adalah salah satu kegiatan favorit keluarga. Namun, bagaimana jika bepergian dengan anak berkebutuhan khusus seperti anak autis?
Kiat Traveling dengan Anak Autis (Have-a-nice-day-Photo/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Traveling adalah salah satu aktivitas yang disenangi keluarga, apalagi sudah masuk musim liburan akhir tahun! Akan tetapi, liburan dengan keluarga akan (makin) menantang jika anak memiliki kebutuhan khusus, seperti anak dengan autisme. Jangan sampai ini menghentikan rencana traveling Anda dengan anak, karena ada kiat-kiat yang bisa Anda coba terapkan saat bepergian dengan anak autis

Autisme adalah spektrum gangguan neurologis yang ditandai oleh gangguan berat dan memengaruhi berbagai bidang perkembangan seperti bahasa dan keterampilan sosial. Dilansir dari laman Parents, autisme memengaruhi 1 dari 88 anak, terutama laki-laki, dan paling sering dideteksi pada usia 3 tahun. Karena anak-anak dengan autisme biasanya memerlukan prediktabilitas, mengajaknya liburan bisa menjadi sesuatu yang sulit.

Ya, bepergian dengan anak penyandang autisme bisa lebih tricky, dan jika tak ditangani dengan baik, bisa membuat liburan jadi mimpi buruk. Gemerlap lampu, bisingnya musik, serta keramaian bisa menjadi pemicu emosi anak autis, sehingga ia menjadi sulit untuk diantisipasi atau dikendalikan. Mungkin bisa jadi inilah mengapa beberapa orang tua yang memiliki anak autis lebih memilih untuk tidak membawa anaknya traveling untuk menghindari kerepotan dan risiko tersebut. Padahal, meski tricky, tapi membawa anak dengan autisme untuk berlibur sangat mungkin untuk diwujudkan. Tak percaya? Berikut ini adalah kiat-kiatnya.

  • Pilih tujuan terbaik untuk anak Anda

Liburan bisa menjadi kondisi transisi, yang akan menyulitkan anak dengan autisme. Pertama-tama, Anda harus mengerti kebutuhannya.

“Anak dengan autisme layaknya detektor stres. Mereka bisa merasakan stres yang dirasakan orang lain, lalu bereaksi dengan cara yang mereka anggap sebagai interupsi terhadap agenda hari itu. Untuk alasan ini, liburan di pantai atau gunung dengan agenda yang santai dan fleksibel bisa ideal,” kata Rebecca Landa, Ph.D., direktur Center for Autism and Related Disorders di Kennedy Krieger Institute, Amerika Serikat, kepada Parents.

Apakah anak suka taman hiburan? Mendaki gunung? Atau duduk santai di pantai? Tak peduli ke mana Anda jalan-jalan dengan anak, ingatlah selalu aktivitas yang paling mereka suka. Jika mungkin, sertakan anak dalam tahap perencanaan lalu sesuaikan perjalanan dengan minatnya. Hindari membombardir anak dengan terlalu banyak hal hal untuk dilakukan, karena ini bisa bikin semua orang stres.

  • Rencanakan dari jauh-jauh hari

Rencanakan liburan secara matang sejak jauh-jauh hari. Misalnya dengan menghubungi maskapai penerbangan, kereta api, hotel, restoran, serta taman hiburan. Informasikan pula bahwa Anda akan traveling dengan anak yang memiliki autisme. Anda dapat mendiskusikan kebutuhan khusus yang diperlukan anak Anda.

Bagaimana jika Anda tak sempat untuk melakukan persiapan di atas? Kim Stagliano, ibu dari tiga anak dengan autisme sekaligus penulis buku “All I Can Handle: A Life Raising Three Daughters with Autism” menganjurkan Anda untuk memanfaatkan beberapa waktu sebelum boarding untuk berbicara dengan staf maskapai. Informasikan mengenai kondisi anak Anda, sehingga staf maskapai dapat mengerti situasinya serta memberikan bantuan ekstra jika dibutuhkan.

1 of 2

Selanjutnya

  • Jangan sampai kehilangan jejaknya

Punya anak dengan autisme berarti Anda harus meningkatkan kewaspadaan, karena banyak anak yang lolos dari pengawasan orang dewasa. Menurut sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2011 oleh Interactive Autism Network, keluyuran tanpa pengawasan mungkin adalah penyebab utama kematian anak dengan autisme.

Untuk jaga-jaga, pasangkan gelang atau kalung dengan identitas esensial anak atau nomor telepon yang bisa dihubungi, khususnya saat traveling. Jika masalah sensori anak tak memungkinkannya untuk menggunakan aksesori seperti kalung atau gelang, Anda bisa memasangkan tag di tali sepatu atau ritsleting.

  • Jangan ketinggalan barang-barang penting bagi anak Anda

Bikin daftar lengkap barang-barang penting anak yang harus dibawa. Biasanya pemutar musik digital, tontonan anak, atau benda kesayangan anak bisa membuatnya tenang dan teralihkan. Pikirkan tentang rutinitas harian anak dengan membawa barang-barang yang dapat membantu anak melewati hari-harinya, seperti camilan, mainan, buku, popok, baju ganti, atau alat bantu komunikasi.

  • Ajak anak membayangkan liburan

Beri tahu bahwa anak akan pergi traveling, serta hal-hal apa saja yang akan dilihatnya. Anda bisa bermain peran dengan anak, atau membuat cerita bergambar berurutan untuk mempersiapkan anak. Banyak ahli yang mengatakan bahwa tipe komunikasi seperti ini membantu meredakan stres, serta menurunkan masalah perilaku pada anak dengan autisme. Lakukan ini selama berhari-hari, bahkan jika perlu hingga beberapa minggu.

  • Tak perlu beraktivitas seharian

Bagi anak dengan autisme, traveling bukan sesuatu yang rutin, sehingga anak bisa merasa ia sedang tak berada di tempatnya, dan ini bisa membaut anak sangat emosional (breakdown).

“Daripada menghabiskan waktu seharian di taman bermain, biasanya kami hanya bermain selama beberapa jam sesuai kemampuan anak, lalu berenang. Ini lebih gampang dibandingkan memaksakan 8 jam bermain di taman hiburan, lalu tiba-tiba anak mengalami meltdown,” kata Kim. Ia juga memastikan anak-anaknya tidur di waktu yang sama meski saat sedang liburan. Katanya, tidur cukup bisa membantu mencegah perilaku yang tak diinginkan.

Bagaimana, traveling dengan anak autis tak terlalu sulit, bukan? Jadikan kiat-kiat di atas sebagai panduan Anda untuk merencanakan liburan bersama anak. Jika butuh tips yang lebih lengkap, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter yang biasa menangani anak. Semoga liburan Anda dan anak aman, lancar, dan terkendali, ya!

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓