Anak Muntah, Bagaimana Mengatasinya?

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 13 Dec 2018, 12:00 WIB
Tak perlu panik saat anak muntah. Meski terkesan sepele, namun Anda juga perlu tahu bagaimana mengatasi keadaan ketika anak muntah.
Anak Muntah, Bagaimana Mengatasinya? (MIA Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anak muntah bisa dibilang suatu kondisi yang umum terjadi. Penyebab anak muntah yang paling sering adalah karena infeksi virus dan keracunan makanan. Namun, tetap saja dibutuhkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik untuk tahu sebab pastinya. Jika anak muntah-muntah, jangan langsung panik. Ada beberapa cara untuk mengatasinya.

Muntah sebetulnya merupakan gejala yang dapat terjadi sendiri, atau dibarengi dengan tanda-tanda lain. Misalnya diare, kembung, demam, dan lain-lain. Muntah pada anak biasanya akan berhenti dalam 6-24 jam. Meski kondisi tersebut tampak biasa saja, tapi jangan menganggapnya remeh. Berikut ini adalah cara mengatasi anak yang muntah:

  1. Biarkan anak muntah

Jika anak merasa mual dan ingin muntah, biarkan ia muntah. Jangan mencegah atau memaksa anak untuk menahan rasa ingin muntah yang ia rasakan. Ini akan menyebabkan rasa tak nyaman dalam perut anak.

  1. Bantu anak saat muntah

Saat ia muntah, bantu anak untuk menundukkan kepalanya agar cairan muntah tidak masuk ke dalam saluran pernapasan. Bagaimana jika anak masih bayi?

“Miringkan kepalanya untuk mencegah masuknya cairan muntah ke saluran napas. Masuknya cairan muntah ke saluran napas bisa membuatnya tersedak dan membahayakan keselamatan,” kata dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter.

  1. Untuk sementara hindari makanan padat

Hindari memberikan anak makanan padat selama 24 jam pertama setelah anak mulai muntah. Sebagai gantinya, beri anak cairan – misalnya air gula, air tebu atau oralit - dalam dosis kecil. Jika kondisinya membaik, tingkatkan secara bertahap jumlah cairan yang Anda berikan. Jika anak masih tetap muntah saat diberi cairan, istirahatkan lambungnya selama 1 jam, lalu mulai lagi dalam jumlah yang sedikit.

“Jika anak Anda mampu kembali mengonsumsi cairan tanpa muntah setelah 8 jam pertama, secara bertahap berikan kembali makanan padat. Untuk anak kecil, mulailah dengan makanan lunak seperti saus apel, pisang tumbuk, atau sereal bayi,” kata dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter.

Anak-anak usia di atas 1 tahun dapat diberikan camilan ringan seperti keripik, roti panggang, biji-bijian, sup, kentang tumbuk, atau roti. Konsumsi makanan seperti biasa dapat dilanjutkan sekitar 24 jam setelah muntah berhenti.

  1. Setelah anak muntah, perhatikan isi muntahan dan siapkan air agar ia dapat berkumur

Jika muntah berisi darah segar atau cairan kehitam-hitaman, segera bawa anak ke dokter. Namun, tanyakan juga apa yang anak makan sebelum ia muntah. Apakah yang ia konsumsi adalah makanan atau minuman yang berwarna merah atau bukan. Pada bayi, waspadai muntah yang berwarna hijau karena itu merupakan salah satu gejala sumbatan pada saluran cerna.

  1. Lakukan penggantian cairan tubuh

Pastikan bahwa anak Anda cukup minum cairan, terutama jika dia juga mengalami diare. Hal ini penting untuk mencegah dehidrasi dan mengganti cairan yang hilang saat ia mengeluarkan isi perutnya. Jika anak baru saja muntah, tunggu 30-60 menit sebelum memberikan cairan, dan mulailah dengan jumlah yang kecil kecil.

Menurut dr. Dyan, jika anak masih bayi, (selain ASI dan susu formula) berikan ia larutan rehidrasi seperti pedialyte. Larutan tersebut membantu mengganti cairan dan garam yang hilang melalui muntah.

“Anak yang lebih tua dapat minum cairan selain cairan rehidrasi oral. Anak-anak dengan diare harus menghindari jus buah dan minuman ringan karena mereka memiliki kadar gula tinggi yang dapat membuat diare lebih buruk. Jika anak Anda muntah tetapi tidak mengalami diare, ia dapat mencoba meminum sedikit jus buah atau air,” tambah dr. Dyan.

  1. Jika terjadi muntah berulang, segera ke dokter

Jika anak mengalami muntah berulang atau anak selalu muntah setiap diberi makan atau minum, segera periksakan ke dokter. Ada kemungkinan anak mengalami dehidrasi atau kondisi lainnya yang butuh penanganan dokter. Nantinya dokter akan mengevaluasi kondisi anak dan memberikan penanganan yang sesuai.

Tak perlu langsung panik jika anak muntah. Lakukanlah enam tips mengatasi muntah di atas sebagai pertolongan pertama, dan yang terpenting adalah langkah penggantian cairan tubuh supaya ia tidak mengalami dehidrasi. Jika muntah anak hilang timbul atau makin parah, lebih baik segera bawa ia ke dokter agar bisa ditangani dengan tepat.

[RN/ RVS]